Tuesday, November 4, 2008

TERBANG BERSAMA KEHENINGAN

Oleh: GEDE PRAMA

BERAT, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang
miskin dihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin
berkerut oleh berbagai masalah. Sebagian malah sudah dipenjara,
sebagian lagi menuggu giliran untuk beristirahat di tempat yang sama.
Manusia biasa menggendong berbagai beban ke sana ke mari (dari
mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan mempersiapkan hari
tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa ditemani
masalah kemanapun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah
tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap
tahun memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak
terselesaikan ia bisa lari kemana-mana. Dari kejahatan sampai dengan
kekerasan.
Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-
sini. Tidak saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun
tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis
tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika
tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per
kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika
seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang
dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga
menimbulkan pertanyaan, "Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"
Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum
gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan
publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon
apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh.
Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum
berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah.
Sahabat ini bertanya lebih dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel
jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon
apel?" Dengan jernih ia menyebut "The law of levitation" (hukum
penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan
menariknya ke arah atas.
Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan
kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under
the law of gravity, love is under the law of levitation."
Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat
manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan
dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat
manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan
kehidupan yang cerdas dan bernas.
Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia
yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan
kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian
berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin
berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri, ada yang membenci orang
tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai dengan ada
yang membenci Tuhan.
Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang
mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan
bulanan yang serba kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang
lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah
dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua
semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.

Terinspirasi dari sinilah, kemudian sejumlah guru mengurangi
sesedikit mungkin berjalan dalam hidup dengan beban-beban kebencian.
Dan mencoba menarik kehidupan ke atas menggunakan sayap-sayap cinta.
Semua perjalanan cinta mulai dari sini: mencintai kehidupan. Makanya
sahabat-sahabat penekun meditasi Vipasana berkonsentrasi pada keluar
masuknya nafas. Tidak saja karena membuat manusia mudah terhubung
dengan hidup, tetapi berpelukan penuh cinta dengan kehidupan.
Dan segelintir penekun Vipasana yang telah berjalan amat jauh,
kemudian mengalami cosmic orgasm. Semacam orgasme kosmik yang
ditandai oleh terlihatnya keindahan di mana-mana. Karena semuanya
terlihat serba indah, tidak ada lagi dorongan untuk mencari jawaban.
Bahkan pertanyaan sekalipun sudah lenyap dari kepala. Ini yang
disebut seorang guru dengan terbang bersama keheningan.
Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang
amat susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Dainin
Katagiri dalam Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is
that we should not be obsessed with the result, whether good, bad or
neutral." Keseluruhan upaya untuk tidak terikat dengan hasil. Itulah
keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti hukum alam: kerja,
kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari.
Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada
awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana
pun ia akan terbenam.
Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang.
Kita manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa
bekerja di pemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing.
Penulis menulis. Pertapa bertapa. Pencinta yoga beryoga. Pengagum
meditasi bermeditasi. Semuanya ada tempatnya masing-masing.
Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadi semakin sempurna di
jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna yang sudah
mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya jadi
berat dan terlempar ke bawah.

1 comment:

Erik said...

Posting yang bagus sekal untuk direnungkan.
Benar mbak, setiap manusia mempunyai masalah. Setiap masalah itu semestinya bisa kita sikapi secara positif. Sehingga masalah tidak lagi dianggap penderitaan. Masalah bisa kita terima sebagai sarana pendewasaan diri, yang akan membuat jiwa kita menjadi lebih kuat.
Peningkatan kesadaran ini akan menarik seseorang ke atas, karena yang ada hanyalah cinta. Kesenangan dan kesulitan, baginya sama saja, dirasakan sebagai bagian dari cinta Ilahi kepada kita.

Nice reading...