Tuesday, November 18, 2008

10 LUBANG BIOPORI DI RUMAHKU...

Berubah! hehe, emangnya Power-Rangers yah ;p Eng, maksudku tuh taman di rumah. Sesudah kasak-kusuk sana-sini, investigasi kelas wahid perihal tukang taman yang sreg (sreg kelakuan plus harga gitu, hehe...), akhirnya bersualah kami dengan tukang taman tetangga yang cucoklah tarif harganya dengan isi kantong alias budget erte.

Singkat cerita, sepekan sesudah lebaran barulah dia berkesempatan menrenov tamanku. Pada zaman dahulu kala, tamanku berbentuk taman kering, kering banget malah alias lebih banyak hamparan batunya dibanding tanamannya (nih sebenernya niat ngga seeh punya taman??). Alasanku dulu yang utama adalah karena aku sangat sadar betul dengan diriku (halah, gayya banget diksinya mbok,hehe...) yang kurang hobi berkebun, include Abang, sementara ada taman lumayan luas di halaman muka rumah, yo wis kututup permukaannya dengan didominasi bebatuan. Naah, kemarin itu cakap punya cakap dengan bang Neli -- nama si tukang taman -- dihasilkanlah sebuah MoU untuk mengangkat mayoritas batu-batu itu untuk diganti dengan rumput gajah mini, menata ulang tanaman yang ada, mengecat lagi border atau pembatas dan batu injakan, dan sebagainya.

Nah, aku lantas teringat dengan himbauan untuk "Go Green" yang sedang marak belakangan ini, yang kupikir tidak ada salahnya diterapkan di lingkungan kita sendiri. Ya sudah, aku pesan sekalian ke bang Neli (bukan singkatan nenek lincah lho, wong ini bapak sejati, bukan mbok-mbok, apalagi mbah-mbah, hihi...) untuk bikin sepuluh lubang biopori di bagian yang ditanami rumput. Dan alhamdulillah, sekarang sudah ada sepuluh lubang, meski tidak bermakna banyak, paling tidak kita sudah berbuat, menyumbang sekecil upaya yang kita bisa demi bumi ini. Setuju?

8 comments:

Sekar Lawu said...

lha iya lahhh...kaluk bukan kita , siapa lagi...
kaluk nggak dimulai sekarang, kapan lagi....

HeLL-dA said...

Go green, Mbak..!
Walau hanya berbuat sedikit, tapi itu sangat bermakna banyak..
:)

Diah said...

Orang bilang tanah kita tanah surga,
tongkat kayu dan batu jadi tanaman
(Koes Plus)
Mbak Diana rupanya 'terinspirasi' lagu Koes Plus ya? Siapa tahu... menebar batu nantinya bakal tumbuh jadi bunga yang cantik-cantik ;) Ayo mbak, jangan cuma hijaukan, tapi warnai taman dengan bunga-bungaan. Menikmatinya, asyik lho...

zuki said...

setujuuuuuoooo :D

Ayik dan Ernut said...

hidup bolongan biopori!!
(ernut)

Diana said...

Ayo mbak Diah, ditunggu sumbangan bunganya, mawar batik kek, mawar polkadot kek, hehe... ngawur! Disemangati kok nuodong tho ;p

Yulis said...

Saya juga kurang suka dengan taman yang berbatu mbak Diana. Tatapi ada seorang teman yang memiliki taman seperti itu dengan alasan menghemat air. Memang sih kalau ditanami rumput mesti menyirami setiap hari jadi pake banyak air juga. Tapi rumput bikin mata seger karena hamparan hijaunya. Sukses deh semoga tamannya bisa menjadi tempat berekreasi bagi mata. Thanks

Diah said...

Sumbangan bunga? minta ke ibu saya ya. Yang suka saya foto-foto itu bunga ibu saya semua. Ayo dong... kapan-kapan ke Bandung, mampir ke rumah ibu. Insya Allah boleh pilih sendiri bunga yang dimaui. ;)