hanya pada keluasan laut
aku bisa tahu batas pantai
maka kularungi perahu dalam diri
menyerpihi badai demi badai
kulupakan pasir yang telah
menumbuhkan bakau,
juga bekas telapak kakiku yang terluka
sepanjang pantai:
senja tadi
Lalu kutandai bekas luka itu sebelum malam
menggelepar dalam jaringmu
Dan laut melipat tubuhku
serupa memeram anak kepompong
menggeliat pada sabda-Mu
(Isbedi Setiawan ZS)
Wednesday, February 10, 2010
Tuesday, February 9, 2010
WEEKEND HUSBAND (AND DADDY), SEBUAH TREN?
Pada mulanya adalah sebuah kondisi yang seolah tak terelakkan. Ketika keluarga-keluarga muda dipaksa menyesuaikan sikon keuangannya dengan memilih dan membeli rumah di wilayah pinggiran. Atau juga ketika harus tinggal berjauhan di lain kota karena satu atau lain alasan. Maka kemudian yang umum terjadi adalah serangkaian ritual nyaris rutin, yaitu di pagi buta bergegas ke kantor, dan sudah lewat waktu tidur anak-anak ketika menjejakkan kaki kembali ke rumah. Atau bagi yang bekerja di luar kota, ritmenya adalah di Senin subuh berlari-lari ke bandara, dan Jumat malam dalam keadaan payah menjumpai keluarga.
Pertanyaan besar yang kerap mengganggu adalah bagaimanakah kualitas "keayahan" atau "kesuamian" itu? Padahal bagaimanapun, bukankah ini sebuah amanah dan tanggung jawab berat yang dengan sadar kita pilih?
Sementara istri dan anak-anak butuh dan memiliki hak untuk diperhatikan dan dilimpahi kasih sayang juga tho? Bukan hanya pekerjaan yang bertumpuk tak habis-habis, juga rekan kerja, anak buah, maupun atasan yang perlu dijaga perasaannya, serta hobi atau aktivitas sampingan.
Aku bertanya karena beberapa klien mengeluhkan tentang perasaan asing dan tersisih oleh suami yang kebetulan bekerja hingga jauh malam/di luar kota, di mana waktu bercengkrama begitu bisa dihitung dengan jari. Tapi juga memendam cemburu dan marah dengan hobi sang suami yang biasanya dilakukan sepanjang hari Sabtu dan hanya menyisakan satu hari sebelum mengejar pesawat lagi, di Senin buta.
Hm, kira-kira teman-teman punya solusi jitu apa ya untuk para "commuter-hubby/daddy" ini ya? itung-itung, belajar yuks jadi psikolog (haha, ini mah malah ngerjain orang!)
Piss ah, I love you full... ;))
Pertanyaan besar yang kerap mengganggu adalah bagaimanakah kualitas "keayahan" atau "kesuamian" itu? Padahal bagaimanapun, bukankah ini sebuah amanah dan tanggung jawab berat yang dengan sadar kita pilih?
Sementara istri dan anak-anak butuh dan memiliki hak untuk diperhatikan dan dilimpahi kasih sayang juga tho? Bukan hanya pekerjaan yang bertumpuk tak habis-habis, juga rekan kerja, anak buah, maupun atasan yang perlu dijaga perasaannya, serta hobi atau aktivitas sampingan.
Aku bertanya karena beberapa klien mengeluhkan tentang perasaan asing dan tersisih oleh suami yang kebetulan bekerja hingga jauh malam/di luar kota, di mana waktu bercengkrama begitu bisa dihitung dengan jari. Tapi juga memendam cemburu dan marah dengan hobi sang suami yang biasanya dilakukan sepanjang hari Sabtu dan hanya menyisakan satu hari sebelum mengejar pesawat lagi, di Senin buta.
Hm, kira-kira teman-teman punya solusi jitu apa ya untuk para "commuter-hubby/daddy" ini ya? itung-itung, belajar yuks jadi psikolog (haha, ini mah malah ngerjain orang!)
Piss ah, I love you full... ;))
Monday, February 8, 2010
WISDOM FROM GDE PRAMA

... adakah kesedihan serangkaian hukuman?
Atau menjadi tangga-tangga perjalanan menuju semakin dewasa?
Sebagaimana alam yang terus berputar siang-malam,
kehidupan juga berputar, kesedihan, kebahagiaan.
Lari dari kesedihan seperti menolak matahari terbit di pagi hari.
Menyelami hal ini,
kesembuhan terjadi ketika hidup
mengalir sepenuhnya dengan putaran waktu.
Pencerahan
adalah ibarat danau biru dan bukit hijau.
Sederhananya, pencerahan terjadi
tatkala semua terlihat sempurna apa adanya...
Kesembuhan
terbuka pintunya
ketika manusia
berisitirahat pada apa saja yang terjadi.
Friday, February 5, 2010
QUOTE OF THE DAY...
Jika yang ingin anda capai adalah kebaikan,
berupayalah dalam kebaikan.
pikirkanlah yang baik,
rasakanlah yang baik,
katakanlah yang baik,
dan lakukanlah yang baik.
(Mario Teguh)
berupayalah dalam kebaikan.
pikirkanlah yang baik,
rasakanlah yang baik,
katakanlah yang baik,
dan lakukanlah yang baik.
(Mario Teguh)
Wednesday, February 3, 2010
HAIYYA, NGAJAK SEKONGKOL? NO LAAH...
Kian hari mendalami dunia manusia dengan segala seluk-beluk karakter dan permasalahannya, kian menyadarkanku bahwa betapa ilmu yang diamanahkan Allah padaku hingga detik ini baru seujung kuku. Bahwa aku, meski menyandang status seorang psikolog, yang dipandang banyak orang dengan segala respek sekaligus jeri dan ngeri (iya ngga sih, hehe... kan katanya psikolog suka jadi batu sandungan kalo nyari kerja), tetaplah seorang manusia biasa. Dan minggu lalu, ada ujian yang dihadirkan-Nya lewat salah seorang klienku.
Singkat cerita, klienku ini ingin mencoba ujian masuk Akpol. Sayangnya, hasil tesnya sepekan lalu tidaklah memuaskan hatinya, dan juga ayahnya. Di sesi konseling hasil minggu lalu, tampak rona kecewa di raut keduanya. Setelah kupersilakan membaca hasil tertulis dan kututurkan lebih detil kemungkinan sebab-musabab hasil itu bisa terjadi, sang ayah tiba-tiba angkat bicara,"Bu, kalau begini hasilnya, dia bisa langsung gugur di awal seleksi. Hm, tes ini berlaku berapa lama ya? Bisa ngga Bu dia tes lagi, pura-puranya dia belum pernah tes, gimana Bu?"
Aku sempat bengong beberapa waktu, agak marah tepatnya. Kok bisa-bisanya si bapak menganggap gampangan profesi psikolog, menganggap bisa diatur-atur begini-begitu? Nanti kayak skandal sepakbola gajah dong di persepakbolaan kita kan? Apa bapak itu ngga tau ya kalo psikolog punya kode etik profesi, yang kurang lebih sama dengan dokter, kalau disalahgunakan, bisa menjurus ke malpraktek.
Akhirnya kujelaskan bahwa 'skor' eh hasil akhir ngga bisa diputarbalik sesuai skenario, mau tidak mau harus diterima. kalaupun masih penasaran en maksa untuk tes lagi, monggo aja di biro konsultasi yang lain, tapi tidak di sini. Haiyyah, hare gene nyuruh-nyuruh manut sama permintaan nyleneh begini, maap deeh... It's not about money, man!
Singkat cerita, klienku ini ingin mencoba ujian masuk Akpol. Sayangnya, hasil tesnya sepekan lalu tidaklah memuaskan hatinya, dan juga ayahnya. Di sesi konseling hasil minggu lalu, tampak rona kecewa di raut keduanya. Setelah kupersilakan membaca hasil tertulis dan kututurkan lebih detil kemungkinan sebab-musabab hasil itu bisa terjadi, sang ayah tiba-tiba angkat bicara,"Bu, kalau begini hasilnya, dia bisa langsung gugur di awal seleksi. Hm, tes ini berlaku berapa lama ya? Bisa ngga Bu dia tes lagi, pura-puranya dia belum pernah tes, gimana Bu?"
Aku sempat bengong beberapa waktu, agak marah tepatnya. Kok bisa-bisanya si bapak menganggap gampangan profesi psikolog, menganggap bisa diatur-atur begini-begitu? Nanti kayak skandal sepakbola gajah dong di persepakbolaan kita kan? Apa bapak itu ngga tau ya kalo psikolog punya kode etik profesi, yang kurang lebih sama dengan dokter, kalau disalahgunakan, bisa menjurus ke malpraktek.
Akhirnya kujelaskan bahwa 'skor' eh hasil akhir ngga bisa diputarbalik sesuai skenario, mau tidak mau harus diterima. kalaupun masih penasaran en maksa untuk tes lagi, monggo aja di biro konsultasi yang lain, tapi tidak di sini. Haiyyah, hare gene nyuruh-nyuruh manut sama permintaan nyleneh begini, maap deeh... It's not about money, man!
Tuesday, February 2, 2010
SPECIAL WORDS...
Ada sekuntum kata puitis yang dipersembahkan salah seorang sahabatku, beberapa hari lalu...
"di saat Tuhan
menjawab doa-doamu,
Dia menambah imanmu,
di saat Tuhan
belum menjawab doamu,
Dia menambah kesabaranmu,
di saat Tuhan
menjawab selain doa-doamu,
Dia tawarkan yang terbaik untukmu..."
Subhaallah... Betapa terlampau sering aku, kita, dibuai rasa kecewa, atau mungkin juga marah, dan merasa Allah tidak adil, ketika Dia mempersembahkan, menghidangkan di hadapan kita, suratan takdir yang tidak sesuai harapan dan bunga-bunga asa yang terlanjur kita semai dalam sanubari. Untaian kata ini seperti mengingatkanku soal nilai keridhaan kita atas apapun -- ya, apapun -- yang digariskan Allah untuk kita. Karena kita sepatutnya percaya, dan yakin sepenuh keyakinan, bahwa Beliau Maha pandai Menakar kemampuan kita masing-masing...
"di saat Tuhan
menjawab doa-doamu,
Dia menambah imanmu,
di saat Tuhan
belum menjawab doamu,
Dia menambah kesabaranmu,
di saat Tuhan
menjawab selain doa-doamu,
Dia tawarkan yang terbaik untukmu..."
Subhaallah... Betapa terlampau sering aku, kita, dibuai rasa kecewa, atau mungkin juga marah, dan merasa Allah tidak adil, ketika Dia mempersembahkan, menghidangkan di hadapan kita, suratan takdir yang tidak sesuai harapan dan bunga-bunga asa yang terlanjur kita semai dalam sanubari. Untaian kata ini seperti mengingatkanku soal nilai keridhaan kita atas apapun -- ya, apapun -- yang digariskan Allah untuk kita. Karena kita sepatutnya percaya, dan yakin sepenuh keyakinan, bahwa Beliau Maha pandai Menakar kemampuan kita masing-masing...
Thursday, January 21, 2010
PUISI RENDRA
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra
serta mencipta dan mengukir dunia
Kita menyandang tugas
kerna tugas adalah tugas
bukannya demi surga atau neraka
tetapi demi kehormatan seorang manusia
kerna sesungguhnya kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta, dan kelabu
kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa
menghapusnya...
(WS RENDRA)
hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra
serta mencipta dan mengukir dunia
Kita menyandang tugas
kerna tugas adalah tugas
bukannya demi surga atau neraka
tetapi demi kehormatan seorang manusia
kerna sesungguhnya kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta, dan kelabu
kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa
menghapusnya...
(WS RENDRA)
Subscribe to:
Posts (Atom)