Tuesday, September 23, 2008

DUHAI BUNDA...

Sudah berapa lamakah kita tak sua dengan sang ibunda kita? Atau entah sudah berapa lama kita tak bertutur sapa dengan beliau, bertukar cerita? Atau bahkan ada yang sudah bertahun-tahun tak menyapa bundanya karena alasan tertentu?

Masih ingatkah kita saat kecil ditimang-timangnya dengan penuh kasih mesra, laksana jalan tak berujung? Saat kita menangis, berbagi tawa, memipisi bajunya dengan kencing kita, atau bahkan memuntahi kerudung putih bersihnya dengan muntahan kita karena kita tidak suka dengan makanan yang dibuatnya? Pernahkah kita membayangkan detik demi detik melelahkan yang harus -- mau tak mau -- dilampauinya, seraya menyabung nyawa, ketika tiba saat melahirkan kita? Pernahkah beliau akan membayangkan waktu beliau beranjak uzur, perlahan para permata hatinya melupakannya, jauh di bawah prioritas pekerjaan, karir gemilang di kantor, tetek bengek urusan keluarga barunya (istri/suami, anak-anaknya)? Pernahkah kiranya beliau membayangkan realita bahwa segala jerih-payahnya itu dibalas dengan perlakuan demikian?

Jika ada di antara kita merasa telah bersikap seperti di atas, sebaiknya segeralah mohon ampun kepada Allah, juga segerakan bersilaturahmi kepada ibundanya terkasih. Kata seorang ustadzah, bisa jadi ujian dan musibah yang datang bertubi-tubi kepada kita dialasi kurang ridhanya sang bunda terhadap perbuatan kita. Mereka yang lama tidak diberi keturunan, memiliki masalah dalam perkawinannya (berselingkuh, bolak-balik di-PHK), diuji dengan penyakit kanker rahim, atau ujian hidup lainnya, mungkin saja semua itu disebabkan oleh sikap kita yang tidak mau berdamai dengan karakter bunda kita. Kita hanya sibuk berdamai serta berempati dengan bawahan kita, atasan kita, pasangan hidup kita, atau orang-orang lain, tapi lalai untuk bisa menerima apa adanya jurang perbedaan yang terbentang antara kita dengan ibu sejati kita. Suka tidak suka, beliaulah orang tua kita yang sebenarnya, tidak dapatlah kita memilih macam mana ibu yang kita impikan. "She is a gift from God", terberi, hadiah terbaik, yakinkan itulah kado terbaik dari-Nya untuk kita, karena Allah tahu anak macam apa yang bisa menerima bunda dengan kepribadian seperti itu... Tugas kitalah sebagai anak beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan beliau, karena mau memberontak sejauh mungkin, tetap kita tiada dapat melawan takdir bukan?

Mumpung puasa, dan sejenak lagi kita menyambut lebaran, sempatkan diri untuk berkunjung, meminta maaf kepada orang tua kita, terutama bunda tercinta, atas segala khilaf dan dosa yang berserak. Mumpung pula kita masih diberi umur, dan beliau pun masih ada di hadapan mata... Atau masih ada yang bebal untuk tidak mau mengakui kekeliruannya, dan bersedia menunggu beliau berpulang dan penyesalan itu terlambat datang? Bagaimana menurut Anda?

3 comments:

Ernut said...

Setuju...setuju...setuju banget, mbak!!
Makanya I just can't wait mudik time..pingin segera sungkem dan bersayang-sayang dengan bunda...Sebentar lagi lebaran!!

Diana said...

Wah asyik banget bisa mudik, nerasain macet & umpel2an :) Mudikku ga kalah jauh mbak, bisa 2 minggu pp, sampe para tetangga bingung. Hayo tebak ke mana? (Itu mudik apa nginep di jalan yah, hehe...)

ikabaskoro said...

Dr milis tetangga sbg penggugah :
Waktu kamu berumur 1 tahun , dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun , dia mengajarimu bagaimana cara berjalan .. sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang .. sebagai balasannya .... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ..!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai balasannya...kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun , dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu .sebagai balasannya .... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun .. sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop .. sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya .... kamu tunggu sampai dia keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan .. sebagai balasannya .... kamu nggak pernah menelponnya

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ... sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ....sebagai balasannya .... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa
mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting ... sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman,

waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya .... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama ... sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah,cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya .... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus
perguruan tinggi .. sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu .. sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat
bayimu ... sebagai balasannya .... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun , dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu .. sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali,nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya .... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA ...
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA ... BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU