Monday, December 24, 2007

RESOLUSI SEORANG ISTRI HARI INI...

Selasa sore pekan lalu, aku duduk manis di depan radio, menyimak khutbah wukuf Aa Gym. Ada yang menyentak kalbu, teramat banyak malah, terutama ketika beliau mengemukakan soal taubat seorang istri terhadap suami. Aah, aku seolah diingatkan sudah seberapa sempurna dan maksimalnya bakti dan pengabdianku pada suami tercinta selama ini, selama masa pernikahan ini?

Biasanya begitu mudah kita melihat kelemahan maupun kekurangan pasangan hidup kita, sementara kita abai dengan kelemahan diri sendiri. Begitu cermatnya kita melihat sifatnya yang tidak romantis, suka tidur sambil mendengkur, doyan makan, tubuh subur-makmur, asyik dengan hobinya seakan tidak peduli dengan kita, dan sebagainya, sementara kita mengenyahkan sikapnya yang ngemong dan sabar terhadap anak-anak, izinnya yang mudah untuk urusan kita (pengajian, arisan), atau ringan hati membantu menjemur dan mengangkat cucian, juga membuatkan kopi dan membeli sarapan. Sementara mungkin kita yang sudah 'memproklamirkan diri' sebagai istri (dan atau ibu dari anak-anaknya) kurang mau belajar mengurus rumah, menyerahkan segala urusan memasak kepada pembantu, tahu beres, pulang malam akibat asyik dengan pekerjaan kantor, atau justru adu-balap tidak peduli dengan kebutuhan pasangan karena ia juga tidak perhatian terhadap kita. Lantas, di mana tanggung jawab dan kewajiban kita?

Menurut beberapa buku yang pernah kubaca, pernikahan yang sehat tidak dapat dibangun hanya dengan cinta semata, karena cinta kepada makhluk, bukanlah sebentuk cinta hakiki yang kekal abadi, namun bisa sirna ditelan waktu, ketika ada gelombang pasang atau badai menerjang, maka cinta itu pun luruh tak berbekas. Benih-benih niat tulus saat kita memutuskan "bismillah, aku mau menikah denganmu" sepatutnya memang disandarkan pada niat mencari ridha dan cinta-Nya, cinta Ilahi, bukan cinta syahwat antar manusia, bukan karena keterpaksaan, karena dendam, atau seribu satu alasan lainnya. Sehingga ketika ada kerikil-kerikil tajam dalam perjalanan berkeluarga, semua itu dikembalikan ke sana, seraya introspeksi, mungkin salah satu atau kedua belah pihak sudah melenceng dari jalurnya.

Dan dari Mario Teguh, sang motivator, kupetik nasehat/tip bagus, melongoklah kita ke belakang, namun jangan hidup dengan masa lalu. Artinya,kejadian di masa lalu jadikan sebagai pengingat dan sarana introspeksi ketika kita melangkah menuju masa depan. Jangan pernah mengungkit-ungkit keburukan sifat pasangan kita di kala dulu, tapi lihatlah ia di saat sekarang, di masa kini, dan ajak ia berubah ke arah yang lebih bijak.

Insya Allah aku tidak bermaksud menggurui, justru ini akan jadi tonggak untukku senantiasa bersikap lebih arif dari hari ke hari. Biarlah Allah jua yang menilainya...

2 comments:

zuki said...

subhanalloh ...

melati said...

Terimakasih sudah diingatkan, Mbak. Tulisannya cantik deh:)