Thursday, August 7, 2008

MAUT TIDAK MENGETUK PINTU...

Oleh : Asro Kamal Rokan

Kepada siapa manusia menggantungkan dirinya, jika bukan kepada Allah, Tuhan
Yang Mahakuasa atas segalanya?

Senin pagi, ketika akan naik pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines dari
Polonia, Medan, tak seorang dari lebih seratus penumpang mengetahui bahwa
itulah akhir dari perjalanannya. Saat mencari tempat duduk sesuai tiket,
memasang sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, dan menyaksikan
pramugari memeragakan tata cara pengamanan bila terjadi musibah, tak ada
yang membayangkan beberapa menit lagi adalah batas kehidupan mereka.

Sejumlah penduduk di rumah maupun lalu lalang di Jalan Djamin Ginting,
Padang Bulan, beberapa menit sebelumnya mungkin sedang bercanda atau
menyaksikan tayangan televisi tentang gosip artis, tak membayangkan bahwa
itulah batas akhir kehidupan mereka. Mereka tewas ditimpa kepingan badan
pesawat. Mereka mencari kehidupan namun mendapatkan kematian.

Antarini Malik --putri almarhum Adam Malik-- yang semula akan naik Mandala,
juga tak membayangkan keputusan untuk pindah pesawat, telah menghindarkannya
dari maut. Sebanyak 16 orang, yang kemudian diketahui selamat, juga tak
membayangkan bisa keluar dari pesawat yang berkeping-keping dan api yang
berkobar. *Siapa yang mengatur kematian dan kehidupan itu? Apakah manusia
dapat memilih cara kematiannya?*

Ketika ratusan anak-anak bermain-main di pantai, ibu-ibu belanja di pasar,
dan sebagian lain dengan segala kesibukannya, tiba-tiba air laut mendadak
surut dan tak lama kemudian gelombang tsunami melanda Nanggroe Aceh
Darussalam. Tak ada tempat untuk berpegang, bahkan pohon-pohon dan bangunan
batu pun roboh. Ratusan ribu penduduk tewas. Tak ada yang bisa menahannya.

Ketika badai Katrina melanda New Orleans, Amerika Serikat, ribuan orang
--mayoritas kulit hitam-- tewas. Listrik mati, puluhan ribu orang mengungsi,
kelaparan, dan penjarahan terjadi di negara yang selalu memosisikan diri
sebagai penyelamat warga dunia itu. Amerika Serikat --negara yang merasa
bisa melakukan segalanya, memiliki teknologi cangggih, dan ditakuti
negara-negara lain-- tak berdaya menghadapi badai dahsyat itu. Pemerintah
AS, yang selalu ikut campur urusan negara lain dengan alasan menyelamatkan
rakyat, juga takluk dan tak dapat menyalahkan siapa pun.

*Manusia sesungguhnya tidaklah berdaya. Sama sekali tidak berdaya.* Kematian
dapat datang kapan saja dengan alasan-alasannya. Tak ada yang bisa menolak
apalagi memilihnya. Manusia selalu merasa dapat mengatur semuanya, termasuk
memperlambat datangnya kematian. Mereka membuka lebar-lebar pintu untuk
dunia dan percaya kebahagiaan sejati ada di dalamnya. Manusia merasa
kematian hanya datang pada usia tua, sehingga mereka memilih dunia --tak
peduli melahap harta yang bukan miliknya. Mereka mencintai dunia seakan
dunia dan harta dapat membujuk Tuhan untuk memperlambat kematiannya.

Maut tidak datang dengan mengetuk pintu. Ia bisa masuk dari setiap celah
tanpa kita tahu. Ia tak pernah datang terlambat dan bermain-main. Tak ada
yang bisa menahannya, tidak juga ajimat, susuk, setumpuk harta, dan
kekuasaan.

Detik ini, menit ini, kita bisa tertawa, menghitung tabungan, dan
mempersiapkan strategi menghancurkan lawan. Detik ini, kita merancang untuk
suatu jabatan, kehormatan, dan kekuasaan. Detik berikutnya, tidak ada yang
bisa menahan datangnya maut: Ia tidak mengetuk pintu dan memberi tahu
kedatangannya. Ia bisa masuk dari semua sisi dan bahkan ketika kita
menghirup udara segar.

*Lalu, kepada siapa manusia menggantungkan hidupnya, jika bukan kepada
Allah, Tuhan Yang Mahakuasa atas segalanya.*

2 comments:

vaye said...

subhanalloh
lagi lagi trima kasih mbak pencerahannya :)

inos said...

tulisannya menyentuh hati terdalam.. jazzakallah..