Wednesday, August 6, 2008

ADA PAK RADEN LHO...

Pekan lalu, agenda me-time adalah mengunjungi Festival Bercerita ASEAN di Bentara Budaya Jakarta. Alhamdulillah 2 kali pula ke sana, yang pertama berpetualang sendiri, dan yang kedua bawa rombongan sunat eh, bukan deh, rombongan keluargaku (Abang, anak-anakku, 1 keponakan, dan ibu mertua). Hehe, sukses berat ngajak ompung-ompung nonton dongeng kan?

Di ujung tangga naik, kami sudah disambut dengan gelaran buku dongeng dari beberapa negara ASEAN, seperti Thailand, Laos, dan Brunei. Sayangnya, meski menarik hati untuk dijadikan suvenir, buku-buku itu tidak dijual alias hanya jadi display saja. Jadilah aku cuma bisa memandangi huruf-huruf keriwil (keriwil beneran karena ngga ngerti,hehe...) dengan takjub dan kepingiiiiin berat (untung ngga sampe ngiler, huss!).

Nah, di meja sebelahnya, barulah deretan buku-buku keluaran KPBA (Kelompok Pecinta Bacaan Anak, sang penyelenggara utama acara ini). Kebanyakan karangan ibu Murti Bunanta, motor utama dan pendiri KPBA, di samping juga buku karya Pak Suryadi. Siapa tuh? Hm, kalau dibilang Pak Suryadi mungkin ngga semua orang kenal ya, tapi gimana kalau disebut Pak Raden di serial Unyil dulu, pasti inget kan?

Beliau ikut serta mendongeng di dalam "Pentas Festival" kali ini, selain ada pendongeng dari Philippina, Laos, Thailand, dan Solo yang menampilkan wayang rumput suket. Ketika menyaksikan pertunjukan ini, alhamdulillah banyak sekali hal yang bisa kuambil pelajarannya. Bahwa teknik mendongeng tidak melulu pasif, hanya duduk berhadapan, memegang buku dan si anak mendengarkan, namun bisa juga dengan memutar film di kompi sambil kitanya bercerita, atau duet berduaan, yang satunya melantunkan syair dan satunya lagi memeragakan isi syair itu (ini ditempuh pencerita dari Brunei), wayang suket Solo yang memperbolehkan anak-anak menyentuh wayang rumput berbentuk ikan, ataupun seperti pak Raden yang bertutur seraya menggambar di 'white-board' dengan spidolnya yang lincah menari. Set set, kepiawaian beliau menggoreskan spidolnya laksana keajaiban, seolah tiba-tiba saja muncul gambar Petruk atau istrinya yang gendut dengan hanya sedikit goresan... Mungkin bisa dipadankan dengan pak Tino Sidin dulu (hayo, generasi jadul seangkatanku haqqul yaqin tahu deh...)

Teknik bercerita yang beraneka ini juga ternyata punya efek beragam pada para pendengarnya. Sepengamatanku, anak-anak paling antusias saat pendongeng dari Philippina mengajak anak-anak menari dan menyanyi "Crab Song" ala bahasa Tagalog, juga ketika pendongeng dari Laos yang sangat ekspresif mengizinkan penonton anak-anak ikutan naik ke panggung untuk mengikutinya seraya memainkan alat musik tradisional Laos bernama Ken (dongengnya mirip dengan itu lho, orang yang meniup seruling dan kemudian tikus-tikus mengikuti dirinya). Sementara waktu pak Raden bercerita, anak-anak tidak lama 'kabur-kaburan' dan mulai berisik, dan mungkin ini karena posisi pak Raden yang membelakangi penontonnya dan tenggelam dengan kesibukan menggambarnya. Sayang sekali, padahal gambarnya prima dan ceritanya lucu (hanya mungkin agak berkepanjangan).

Hehe, sok menganalisa, emangnya bisa mendongeng? Eits jangan salah, salah satu keinginan terpendamku yaa bikin aktivitas mendongeng di lingkungan RT dengan profesional. Hayo siapa punya info di mana aku bisa belajar mendongeng? Sst, kalau bisa gratis atau mur-mer aja yah... Halah, error pisan!

2 comments:

Diah said...

* Kita beneran seangkatan nih, kayaknya, mbak. Soal pak Raden dan pak Tino Sidin, nancep bener di benak. Bagus...! ;)
* Soal jadi pendongeng, saya support semangat deh mbak. Ayo! Soal merangkai kata jadi tulisan udah oke banget. Gaya di pentas dongeng, tinggal improvisasi dikit-lah... Good luck ya!

ikabaskoro said...

Wah aq jg mau nih jd pndongeng, kpn2 qta cb yuk ke anak2, mis pas ngisi ramadan di rt kita. Coba tiap keluarga punya kegiatan 'pro bono' ssi keahlian masing2 kan lumayan manfaatnya bt lingkungan. Andai....