Sunday, March 22, 2009

15 MARET ITU...



Pekan lalu, tepatnya tanggal 15 Maret, adalah milad perkawinan ke-41. Lho, jadi umurku en abang sebenarnya berapa sih, jangan-jangan malsuin umur, padahal udah nenek-kakek, sok muda en ceria, operasi plastik, dan sebagainya. Plis deh, hare genee kok begitu sih? eits, tenang dulu, aku tuh lagi ngomongin anniversary-nya Bapak dan Ibuku say...

Bicara tentang mereka berdua, seolah seluruh episode hidup tumpah ruah di dalamnya. Ada bahagia, suka-duka, juga darah dan airmata... Ada shalat istikaharah tak putus selama 7 hari berturut-turut, mimpi yang ditakwilkan oleh pak AR Baswedan (ini kayak Buya Hamka lokal di Yogyakarta), gempuran penolakan gara-gara stereotipe kalo wong jowo iku nenek-moyangnya lebih tua dari urang Sunda, juga sikap ogah-ogahan oleh oom alias kangmasnya Ibu (ini lebih karena beliau sudah punya calon tandingan). Tapi syukurlah restu Mbah memuluskan prosesi perkawinan ini.

Perjuangan belum berakhir, justru baru akan dimulai. Saat merantau ke Jakarta, mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian), harus menumpang di rumah kerabat, modalnya hanya 1 koper sederhana dan 1 kasur kapuk, naik becak ke kantor (belum ada Blue Bird kalee?). Godaan untuk kerja di 'bagian basah' (Bimas Islam dan Urusan Haji) sementara Bapak di bagian Litbang yang 'kurus kering' minim proyek, Ibu yang gajinya berkali lipat dari Bapak, tapi tetap hormat pada Bapak.

Ini baru dari sisi 'struggle for life'-nya, belum dari segi penanaman moral dan penempaan karakter. Bapak adalah orang yang jujur, bersahaja, ngga neko-neko, yang super resik, apik, dan disiplin dalam hal shalat di masjid, super serius (bisa lho beliau ekspresinya datar aja pas kita semua ketawa terbahak-bahak lihat Srimulat atawa Jojon), selalu terjaga shalat malamnya, sabar dalam diam kalo Ibuku sedang ngomel-ngomel (tahu sendirilah, emak-emak, include me, hehe...), hobi shopping kebutuhan dapur (favoritnya Hero dan Carrefour, di mana aja, heran ya?) dan yang menakjubkan, setia menyuguhkan kopi susu buat bundaku terkasih hingga hari ini, bahkan ketika banjir besar melanda Jakarta beberapa kali.

Nah, bicara soal ibuku, ngga bisa melewatkan kepiawaiannya memasak (uenak tenan deh, kalo anaknya ini mah jangan ditanya, yg enak sambelnya doang!), gesit, mandiri (sampe sekarang, kalo kontrol ke dokter internisnya nun jauh di sono, beliau hayu aja jalan sendiri), agak galak sih tapi suka melucu (blended yang aneh kan?), tepat waktu (kalo kondangan ibuku selalu juara 1, siap duluan dari Bapak, hehe...), dan yang ngga kalah hebat, beliau ini motivator sejatiku (ngga banyak ngomong, lugas, to the point, tapi tepat sasaran). Dan biarpun Ibuku bisa dikatakan wanita karir sejak gadisnya, dengan gaji berlebih, tapi beliau selalu izin kepada Bapak jika ada keperluan dan subhanallah, taat dengan izinnya, dalam arti kalo pamit mau ngajar ya cuma ngajar ke SMEAnya, tidak ngelencer ke Tanah Abang (kebetulan lokasinya dekat sekolah Ibu, dan temen-temennya suka ngerayu untuk pergi ke sana).

Hm, perpaduan yang unik bin antik kan, yang kalo buat pasangan-pasangan masa kini, mix model gini mah lewat ngga dilirik. Biasanya kan yang dicari 'soulmate' yang klop, nyambung (entah hobi, selera musik, gaya hidup clubbing atawa rumahan, dan sebagainya), en mungkin kalo udah terlanjur, ya udah dah, pisah aja, istilah kerennya, ke laut aja sono! Tapi aku sungguh belajar dari beliau berdua, bahwa sebuah pernikahan haruslah diawali oleh niat yang lurus kepada-Nya, beneran lurus,, bukan karena nafsu syahwat, sebagaimana dicontohkan Rasulullah; juga adalah sebuah 'mitsaqan ghaliza' yang maha berat, perjanjian kokoh yang bukan main-main (karena disaksikan Allah dan malaikat-Nya). Dan pernikahan sejatinya adalah sebuah pertarungan menaklukkan ego masing-masing, saling menerima kekurangan dan bersyukur dengan kelebihan pasangan, legowo dan ikhlas mendukung pasangannya dengan sepenuh hati, bertanggung jawab,serta yang utama, saling menjaga amanah dan kepercayaan satu sama lain.

Dari mereka, kami, putra-putrinya, belajar bahwa senantiasalah hanya bersandar pada cinta-Nya saja maka kita akan memenangkan perjuangan di dunia maupun di akhirat, bersua dengan-Nya, menuju surga-Nya, insya Allah, aamiin...

Khusnul khatimah ya Rabb, untuk Bapak-Ibuku terkasih, bukakan hanya pintu surga bagi mereka...

5 comments:

Cah nDeso said...

Met malam. Postingan yang ciamik. saya suka postingan yang beginian. menarik dibaca, menarik untuk disimak, perlu direnungi, perlu pembelajaran. sebab, bagi saya: life is learning, life is actuating, life is worship. tapi memang susah tuk menunaikannya. tukar link yook? terima kasih, saya dah disajikan wacana yang menyejukkan hati. btw, ini kunjungan perdana, tp selanjutnya mo istirahat dulu, ngaso. ada tugas yang harus diselesaikan. (salam: Willis Koes - WCD)

Diah Utami said...

Amiin. Semoga anak-anaknya mengikut jejak ortunya ya, bahkan lebih baik lagi. Subhanallah...

astrid savitri said...

Mbak, baca postingan ini, aku kok merasa spt sedang menatap matahari terbenam ya..
indaaah sekali :)


salam kenal ya, mbak!

vaye said...

subhanalloh mba, 41.
indah betul, nyata lagi :)
selamat ya buat ortunya, semoga bisa ngikutin jejak mereka, amin.

Diana said...

Makasih atas tanggapan dan doanya semua, doakan ya semoga Bapak-Ibu diberi kesehatan selalu :)