Wednesday, April 2, 2008

THANK'S A LOT PAK WILLY...

Jumat pekan lalu, aku berpetualang dengan dua junior. Kebetulan hari itu mereka pulang cepat, jadi kuculik deh ke kios buku bekas di sekitar rel KA Gunadarma Pondok Cina dan UI.

Setelah asyik memilih-memilah komik dan majalah bekas plus peluh harum semerbak yang membasahi sekujur tubuh, wajah-wajah penuh antusias ini terpaksa harus menghentikan aktivitas aduk-mengaduk bertumpuk komik dikarenakan waktu untuk jumatan sudah begitu mepet. As usual, kami biasanya pulang naik taksi (dihitung-hitung versus angkot-ojek, cuma beda tipis, hehe... kagak mau rugi, bonus AC soalnya). Alhamdulillah, setelah menanti sejenak, datanglah taksi si burung biru.

Seperti tradisi pengemudi Blue Bird, sang supir ramah menyapa seraya menanyakan alamat tujuan. Dasar sok pede, setelah menjawab pertanyaannya, aku langsung minta dia untuk segera memacu kendaraannya karena anakku akan jumatan, sama kan dengan bapak, kataku. Untunglah dia cool aja menjawab, maaf Bu, saya tidak shalat, saya non muslim. Langsung deh aku tergopoh-gopoh minta maaf, hehe...

Barulah ketahuan bahwa dia orang Tionghoa dan beragama Katholik (wah, tenan lho, baru kali ini ketemu supir Blue Bird keturunan Tionghoa). Anaknya 2 orang, perempuan semua, dan hebatnya, keduanya disekolahkan di Tarakanita. Kebayang kan seberapa dia harus berjibaku mencari nafkah untuk makan sehari-hari, juga uang SPP? Kata dia, seberapapun dia akan upayakan supaya anak-anaknya mendapat dasar pendidikan terbaik, tidak ingin sembarangan menyekolahkan anaknya di sekolah umum tanpa landasan agama yang kuat. Serem katanya kalau melihat pergaulan anak zaman sekarang.

Selain itu, dia juga melarang anak-anaknya nonton acara teve di hari sekolah. Kalaupun dia dan istri ingin tahu perkembangan dunia, ditunggu anak-anaknya tidur, barulah dinyalakannya teve. Alasannya dia, teve bisa dibilang hampir tidak punya efek positif, baik sinetronnya yang mengumbar aurat, kartun bertabur kata kurang sopan, juga berita penuh kabar berdarah-darah. Baru ketika libur, anak-anaknya diperbolehkan nonton Astro anak, main PS, atau berpetualang seperti kami, ke kios buku di pasar Senen.

Mendengar tutur katanya, aku jadi malu, malu pada diri sendiri. Dia bukan muslim namun begitu teguh memegang prinsip mendidik yang sangat islami, sangat takut salah mendidik, sangat amanah sebagai orangtua, totalitasnya begitu terbaca, teraba. Padahal dia 'cuma' seorang pengemudi taksi, lulusan SMA pula, yang mungkin kerap kali dilecehkan statusnya dibanding para penumpangnya yang haqqul yaqin umumnya berpendidikan lebih tinggi darinya...

Benar kata seorang pakar (maaf ya lupa namanya), bahwa orang acapkali keliru menilai seseorang dari luarnya saja, yaitu orang yang menempuh pendidikan tinggi pasti lebih berhasil mendidik darah daging dan keluarganya daripada orang berpendidikan rendah. Makanya kita suka terheran-heran menyaksikan seorang petani sederhana di desa terpencil sanggup mencetak anak menjadi menteri di kemudian hari, atau anak kuli bangunan bisa menembus seleksi program AFS ke Amrik, atau untuk kejadian teranyar kemarin, seorang pengusaha di Depok hanya tersenyum-senyum saja ketika mengetahui anaknya yang berusia 9 tahun mengambil uangnya senilai 1000 dollar dan hanya bersisa 500 ribu saja, malah terkesan bangga anaknya diperlakukan polisi dan wartawan bak selebriti.

Ironi, sebuah ironi sedang berlaku, sekaligus paradoks. Memang benar pada siapapun kita bisa banyak, teramat banyak belajar tentang hidup ini, tentang bagaimana paradigma memandang hidup dengan lebih arif. Termasuk juga dari pak Willy, sang pengemudi taksi BB.

Anyway busway, thank's a lot ya Pak atas 'pelajaran' yang kucerna hari ini...

3 comments:

elyswelt said...

tapi yang ada di sekitar kita kebanyakan memang begitu keadaannya Mbak, memandang yg berpendidikan tinggi selalu dibilang lebih baik mendidik anaknya dibanding yg berpendidikan lebih rendah, padahal sama seperti ceritanya mbak Diana, dilingkungan kampungku dulu ada juga yg ortunya sarjana malah anaknya amburadul semua.

zuki said...

pelajaran itu ada dimana saja, kapan saja ...

Mamah Ani said...

dunia ini samudra ilmu, dimanapun dan dari siapapun, banyak kebijakan yang bisa membuat kita lebih bermanfaat
banyak pak willy pak willy lain yang bisa menjadi sumber ilmu bagi kita semua
semoga Allah senantiasa membuka mata hati kita supaya bisa selalu menangkap kebajikan dan kebijakan yang ada diseputar kita, amin