Friday, February 20, 2009

PETIKAN DOA SAAT USIA 40 TAHUN...





QS AL-AHQAAF, 15:

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Thursday, February 19, 2009

SUDAHKAH ANDA MEMBUAT SURAT WASIAT?




Pada pengajian Sabtu kemarin guru ngajiku membahas tentang Perang Palestina yang terakhir. Kita tahu cukup banyak warga dunia yang ingin membantu rakyat Palestina dalam menghadapi gempuran roket dan bom-bom tentara Israel, termasuk di antaranya warga negara Indonesia. Namun yang baru kutahu adalah informasi bahwa Hamas tidak mau menerima begitu saja 'para sukarelawan' ini, atau dengan kata lain, mereka tidak ingin ada orang mati konyol dan nyawa berpulang dengan sia-sia.

Hamas mensyaratkan para jundullah (prajurit Allah) yang ingin membantu pasukan Palestina dengan 5 syarat berat, jika tidak bisa disebut amat sangat berat, yaitu:

1. Harus hafal surah Al-Anfaal
2. Shalat Subuh harus berada di shaf pertama dan tidak ketinggalan takbiratul ihram
3. Hafal hadits-hadits tentang jihad, termasuk sanad-sanad (perawinya)
4. Berasal dari keluarga mujahid, tidak pernah meninggakan shalat 5 waktu
5. Sudah menulis surat wasiat, beserta hutang-hutangnya yang sudah dilunasi

Subahanallah, semua syarat ini membuat merinding, rasanya tiada satupun aku bisa memenuhi syarat ini. Mungkin yang bikin kening kita langsung berkerut adalah syarat membuat surat wasiat. Memangnya kita sudah siap mati? Rasanya meskipun siap daftar dan siap berangkat perang di Palestina, pemikiran untuk syahid di sana jauh dari bayangan. Padahal lain lagi isi benak pikiran orang-orang Hamas, bahwa pertempuran ini bukanlah permainan dan senda-gurau belaka!



Tapi pernahkah terlintas dalam benak betapa tanpa harus pergi ke medan juang pun kita pasti akan dijemput malaikat mautnya, seberapapun tidak siapnya kita? Jadi, kata guru ngajiku, memang alangkah baiknya kita mulai detik ini membuat surat wasiat yang diketahui anggota keluarga, minimal pasangan hidup kita. Hitung-hitung jaga-jaga, kalau Allah sudah berkehendak mencabut nyawa kita, kita tidak meninggalkan anak dan suami/isteri kita dalam kebingungan, misalnya tiba-tiba ada penagih hutang yang tidak tahu rimbanya menyodorkan list hutang kita.

Tahukah bahwa orang sekaliber khalifah Umar pun merevisi surat wasiatnya setiap pekan? Atau ustadzah Yoyoh Yusroh bahkan tiap 2 hari sekali memperbaharuinya, dengan kesibukan seabrek? Lalu bagaimana kita?

Hm, bismillah, insya Allah aku mau bikin draft surat wasiatku, pesan dan mungkin nasehat terakhir untuk suamiku tercinta, imamku, selama hayat dikandung badan, serta putra-putriku terkasih, amanah indah yang Allah sematkan dan titipkan padaku...

Anda mau juga mulai menuliskannya?

Friday, February 13, 2009

LIFE BEGINS FORTY? HM...




hidup
adalah laksana perjalanan
lurus, menanjak
berliku-liku
tak selamanya aman
tak seterusnya nyaman

hidup
juga seperti mengisi perbekalan
agar ketika
menempuh jarak tempuh
tiada kekosongan
tiada dahaga menyertai

dan yang seutama
hidup adalah
menyiapkan jiwa-raga
untuk
pulang ke haribaan-Nya
dengan sepenuh kesiapan...


***
Subhanallah... Hari ini sungguh penuh hikmah. Membangun lagi spirit untuk disiplin olahraga, jadilah kukayuh sepeda menuju kolam renang. Di sana kujumpai senyum terkembang, rindu yang membuncah tulus. Juga ketika makan bersama sambil rapat dengan teman-teman dan pejabat sekolah, tiada sekat. Dan saat teman tercinta mengingatkan soal ayat Qur'an tentang datangnya usia ke-40, dan kaitannya dengan 'birrul walidain', yaitu dengan mengingat seberapa berat perjuangan ibunda kala mengandung kita, aku terhenyak. Kalau banyak orang mengutip tentang "life begins forty", atau puber kedua, subhanallah, buatku, firman Allah ini jauh lebih mengena dan bermakna. Bagaimana kita di usia 40, seperti bayi baru terlahir kembali, dan sekaligus harus semakin berhati-hati dalam melangkah, karena warnanya akan membawa dampak ke usia sisa...

Bagaimana warnamu dan seberapa hati-hati engkau melangkah di usia 40-mu?

Thursday, February 12, 2009

SUKIYAKIKU HAIYYA HALALAN THOYYIBAN




Ini resep racikan dari ibu mertua. Kata beliau, dulu sewaktu tinggal di Ujung Pandang, beberapa tetangga beliau adalah warga negara Jepang, jadilah beliau dapat resep ini. So dilarang protes ya kalo beda-beda tipis sama resep asli lah :) Mungkin bedanya juga yang ini insya Allah halal lho, ga pake mirin atau bumbu khas Jepang yang ngga jelas ingredient-nya...

Ya, mau ngga mau jadi inget pak Miftah Faridl deh, yang di dalam salah satu bukunya, mewanti-wanti banget soal makan makanan yang subhat apalagi yang haram. Sekarang kan buanyak banget rumah makan (lokal maupun luar punya) yang ngga punya atawa nyantumin label HALAL. Atau aku sendiri pernah liat resep sushi di buku resep masakan Jepang terbitan Gramedia, taunya salah satu bahannya adalah mirin alias kecap jepang yang mengandung alkohol! Waduh, kaget en agak syok juga. Bukan apa-apa, kalo kita yang awam ngga tau kan bisa maen beli en pesen aja di resto Jepang internasional atawa masak sendiri di rumah, trus en maen telen aja kan berabe?

Iih, serem ya, kalo itu makanan udah keburu tertelan dan ternyata di dalam kandungan bahan-bahannya ada keselip satu aja bumbu yang ngga jelas kehalalannya? Sementara itu makanan nantinya akan jadi darah dan daging, en kata pak Miftah, pastinya akan mempengaruhi sifat dan perilaku kita. Makanya jangan heran khalifah Umar yang terlanjur makan makanan haram buru-buru muntahin makanannya itu, biarpun dia ngga sengaja dan ngga tahu. Subhanallah, segitunya beliau menjaga betul dirinya? Naaah, kita gimana?

Ah, abis ngelantur ke sana ke mari, marilah kita kembali ke laptop :)

Bahan-bahannya simpel, yaitu:
- margarin secukupnya, untuk menumis
- bawang bombay, iris bulat tipis
- daging sukiyaki (biasanya dijual di supermarket dengan label khusus, bentuknya daging sapi fillet yang lebih tipis dari dendeng), sesuka hati, boleh untuk se-erte atawa buat sendiri
- wortel, iris miring
- tahu cina, potong dadu (biasanya sih tahu cina yang besar, kupotong jadi 8)
- soun
- sawi putih, iris sedang
- daun bawang, iris miring
- kecap asin
- kecap manis
- gula pasir
- air secukupnya

(Parah ya, resepnya kagak dilirik dah, abis pake feeling semua, hehe...)

Caranya? Lagi-lagi gampang aja. Taruh margarin di panci khusus sukiyaki, diamkan sampai mencair. Masukkan bawang bombay, tumis sampai harum, lalu susulkan daging. Aduk sampai berubah warna. Segera tambahkan wortel, aduk lagi, sebelum ditambahkan air sedikit, untuk sekedar mengempukkan wortel tadi. Masukkan sawi, aduk rata, kemudian tahu cina dan daun bawang. Biarkan sebentar sambil ditambah air (airnya terserah selera, kalo putriku mah seneng banjir, agak-agak nyemur penampakannya), baru setelah mendidih, kasih deh duo kecap dan gula pasir. Jangan ditambahin garam ya, kan asinnya udah dari si kecap asin? Cicip deh sampai cukup manis, matikan apinya. Siap disantap panas-panas...

Oya, tip terbaru sih kalo punya kompor portabel, lebih asyik lagi, kita bisa masak di ruang makan, mau di bawah kek ya ngga papa, jadi semua anggota keluarga bisa liat proses pembuatannya en malah mungkin ikut nyemplungin bahan. Syedap deh, sambil masak tambah akrab semua kan??

Monday, February 9, 2009

SANG PEMULUNG




Seringkali abis kondangan, nyesek juga liat kartu undangan teronggok di tempat sampah. Kasian en sayang banget, udah dipesen cantik-cantik en nyang pasti muahal lah (hm, tanya nih, haree genee berapaan sih bikin kartu gituan? Udah kagak lepel kali yah 10 rebuan? Haha, tolong dech,emangnye donat, hehe...). Yah, pokoknya, berawal dari keprihatinan ini, mulai detik itu aku jadi pemulung kartu undangan.

Hah, blogger kok pemulung? Ngaku psikolog pula? Tenang boy (nih, niru si Mahar, temennya Ikal si "Laskar Pelangi"), insya Allah bukan kelas pemulung yang ke mana-mana keliling pake tongkat en ngais-ngais bak sampah (tapi kalo gitu juga gapapa tho, kan teteup halal?). Aku baru sekedar ngumpulin kartu undangan yang masih bisa diselamatkan dengan ngerubah bentuknya jadi pembatas buku kok.

Modalnya dengkul banget deh, cuma gunting (kalo ada gunting zig-zag sih lebih ok), trus duit deh buat laminating (halah, error deh :D). Mula-mula sih seleksi dulu bagian kartu yang masih bisa dipake, biasanya sih aku pilih bagian sisi-sisinya yang kosong dari tulisan, entah ada latar bunga yang diembos atawa kosong sama sekali. Trus gunting deh yang rapi, mo lurus aja, meliuk-liuk, bulat, segitiga, itu mah up to you dah, kagak ada yang salah kok. Paling nimbang-nimbang aja kalo misalnya bentuk segitiga ada kemungkinan ketekuk ngga, kan sayang udah cakep-cakep jadi berkurang keindahannya?

Nah, kalo udah rapi jali, kita kumpulin deh di satu plastik, en tinggal cari mangsa tukang fotokopian yang baek hati mo digerecokin sama proyek pulungan kita ini. Dibilang mangsa, karena udah berapa kali aku bikin manyun tukang fotokopian yang kudatangin, hehe... (tega bener ya, katanya baik hati dan tidak sombong, kok kayak gini seeh??). Sampe sekarang ya aku akhirnya punya 1 langganan untuk ngelaminating kartu-kartu recycle ini, the one and only (couple tepatnya). En mereka lama-lama dengan muke pasrah bin rela kagak rela dah apal deh kalo aku udah boyongan guntingan unik bin antik (emang kan, sebab kerna kagak ada yang jual tho?) ini ke tempatnya, kagak perlu ngobrol lagi, mereka udah otomatis romantis nyusun dengan manis guntingan itu lengkap dengan jarak yang diancer-ancer biar cakep desainnya. Gitu hikayatnya sang pemulung hari ini sodara-sodara...

Yah, kagak ada niat buat jadi pesohor apalagi aktipis global warming (ah, kagak direken kalee...), tapi paling ngga, kita bisa ngurangin sampah yang kita buang. Hm, kalo pada males ngegunting-gunting, sok atuh kirim ke daku saja yah, dengan senang hati binti sumringah kan kuterima...

Saturday, February 7, 2009

CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE...




By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki...... ....

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi... .......

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri........ ..

Jika anak dibesarkan dengan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri........ ..

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
Ia belajar menahan diri........ ..

Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri........ ..

Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang sebaik-baiknya,
Ia belajar keadilan.... ......

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan... .......

Monday, February 2, 2009

SUP IKAN


(sori dori mori, ni poto kagek sinkron ame cerite, maklum dah yee...)

Hm, sebenarnya mpok kagak pede buat sering (baca: sharing atawa bagi-bagi, gitu lah terjemahan bebasnye) resep, lha bise masak aje kagak (lebih banyak gosongnya daripade sukses, hehe...), apelagi pinter, jauuuuuuh... Tapi berdasarken niat tulus (ceile, eh insya Allah gitu...), makenye ane ngeberaniin diri deh cerite-cerite resep turun-temurun dari nenek moyang si ikan (haha, kena dech!), yaitu sup ikan!

Kalau ngintip en nge-browse, taunye beneran buanyak bangets ya resep sup ikan dengan segale macem pariasinye. Yee, tenang deh ane, artinye yang nyimek blog ini dilarang keras en kagak boleh protes kalo resep ini tuh beda bagei bumi ame langit ame resep orang laen ye. Kudu paham, dapurnye beda, tangannye aja beda, ya akhirnye hasil aduk-aduk tuh semen eh bumbu racikan pade akhirnye ye laen-laen dah (sebenenrye ni ngeles kan yee...)

Sup ini awalnye dibuat sebab musabab bosen kalo ketemu ikan di tukang sayur kok nalurinye pingin digoreng atawa dibalado aja, padahal tau ndiri kan itu full kolesterol? Akhirnye pas suatu ketika (cie, kayak mo dongeng aje ye?) makan di resto Bandung sama mertua, trus nyoba-nyoba ngelamunin bumbunya apa aje ye sambil intip resep Food-combiningnya mpok Andang, lahir deh sup ikan ini. Gitu "behind the story"-nya, moge-moge pada ngarti.

Nih resepnya, catet ya sodara-sodara, siape tau kapan taon ane adain kuis berhadiah (tau apaan hadiahnye ye? enaknye apaan? Dih nanya si mpok, emang error, hihi...)

Siapin bahan en peeling (alias perasaan, soalnye bumbunya anti takaran, pake kire-kire aje):

1. 1 ikan gurame, difillet
2. bawang bombay, belah 4
3. jahe, dikeprek (jangan dikarate, entar benyek ye mpok?)
4. daung bawang, mo dikit mo banyak, tersereh situ dah
5. daun seledri, enakan banyak, biar sedep
6. garam
7. merica bubuk
8. tomat, belah empat

Carenye mudah bin simpel. Cuci ikan bersih, lumirin ame jeruk nipis en garam, diemin dah tuh kire-kire 10 menit, cuci bersih. Ambil panci (kalo belum punya, jangan pinjem tetangga ye, beli aje ke pasar, ok?), isi 3/4 nya ame aer, trus cemplungin dah tuh ikan plus semua bumbu kecuali tomat. Abis semua masuk, nyalain kompor en tunggu sampe mendidih, trus kecilin apinye. Kalo udeh 30 menitan, matiin en siap ditaro di meja makan. Disajiinnye biar seger, taro tomat yang udeh dibelah di mangkok, taro supi ikan en kasih irisan alus daun sledri en bawang goreng, en siap deh untuk diserbu! Oya, biasanya sih ane senengnye sup ini ditemenin sambel mentah seger en tempe goreng anget. Kok deh semua resep resto, hehe...