Showing posts with label psikologi populer. Show all posts
Showing posts with label psikologi populer. Show all posts

Thursday, July 23, 2009

JAIM NIH YEE...



Mula-mula sih aku ngga ngeh sama kelakuan putra-putriku. Bukannya kenapa-napa, kok kalo di rumah suka gelondotan manja-manja eh kalo ketemuan di sekolah kayak ngga suka deket-deket ya? Sempet sih sedih sebentar, sambil merenung-renung apa yang salah dengan diriku (cieleeee...). Ujung-ujungnya kok ya ngobrol sama beberapa sohibku, en mereka juga punya problem yang sama.

Alhamdulillah, akhirnya ketauan juga deh di mana letak belangnya eh salah deh... kekeliruannya. Taunya tuh -- nih dari hasil ngoprek buku psikologi perkembangan (itung-itung belajar lagi kan?) -- kalo anak-anak kita udah gedean dikit (beda-beda sih tiap anak, tapi rata-rata sih kelas 4 gitu deh), mereka ngerasa pingin dunk diperlakukan sebagai anak yang dah gede juga, maksudnya tuh ga suka dipeluk-peluk, diusap kepalanya, apalagi dicium, di muka umum. Buat mereka, itu setali tiga uang dengan "anak mami bangets deh", biarpun secara di rumah, mereka mah seneng-seneng aja en malah nuntut kalo ga diberi perlakuan hangat begitu... Jaim lah istilah anak sekarang :) Yah, maklumlah jaman dah beda sama era kita imut dulu, perasaan ngga ada jaim-jaiman begini, malah sedih kalo kita ngga ditengokin emak kita pas SD dulu kan?

So jangan marah ya kalo anak-anak kita sok pura-pura ngga liat kita pas papasan mo bayaran SPP di sekolah, atawa bahkan ngumpet, hehe... Piss Nak, horaass!

Wednesday, February 25, 2009

SPLIT IDENTITY? OR MULTI-ROLES?




Hm, belakangan ini setiap melangkah keluar dari area kampus UI, seusai menangani klien, aku seperti melewati 'time-tunnel'. Ketika di kampus, aku adalah seorang psikolog, profesional, yang sekuat tenaga membantu klien dan orangtuanya untuk mengatasi problemnya. Namun saat melampaui lorong kampusku yang rindang, menuju halaman parkir, terlebih ketika duduk manis di angkot, aku seolah mendadak berubah wujud menjadi ibu rumah tangga lagi, seorang istri lagi. Kenapa bisa begitu? Karena isi pikiranku sudah langsung bercabang pada "hm, bawa oleh-oleh apa ya?", atau "waduh, lauk di rumah kurang deh kayaknya" (nih biasanya kalau pas mau berangkat ngga punya ide alias blank untuk masak apa,hehe...), sampai yang paling parah "kayaknya aku harus mampir ke pasar deh, beli bla-bla-bla...".

Tadi digodain Abang, jangan-jangan aku mengalami multiple-identity dan perlu ditangani temen yang psikolog. Hah, jadi bengong, speechless, hehe... Tapi mikir-mikir, mungkin aku rada telmi aja, dengan begitu banyaknya peran atau role yang kita punya. Ya istri, ya emaknya anak-anak, ya anak dari ibu-bapak, ya menantu, ya tetangga, ya sahabat, dan sekarang nambah atu lagi, jadi psikolog, yang notabene wanita karir. Yang kucermati, semua itu mau ngga mau, suka ngga suka, akan saling terkait satu sama lain, dan tanpa kita sadari, kita senantiasa akan switch atau oper peran dari waktu ke waktu. KAlau menurutku, pertanyaan besarnya adalah seberapa siap kita menanggung dan menjalani semua peran itu dengan maksimal, seoptimal yang kita bisa? Karena apa? Karena itu penting, bukan sekedar jadi ayah atau suami yang 'lewat' aja ngga ngurusin anak-istri, atau wanita karir yang tutup mata dengan problem anaknya yang terlibat narkoba, misalnya.
Hm, jadi inget beberapa waktu lalu ditawarin teman untuk bantu tim penyeleksi peserta Olimpiade Sains se-Indonesia. Tempting memang, ya godaan bisa jalan-jalan gratis (kan dibayarin tiket dan akomodasi dllnya), bisa ganti suasana, macem2 deh. Tapi konsekuensinya lumayan berat, buatku lho (kan kita ngga bisa pukul rata pasti persepsinya sama dengan kita tho?), yaitu kemungkinan besar akan tiba di rumah paling ceat jam 7-8 malam. Waduh, langsung deh kutolak mentah-mentah, ngga deh, haqqul yaqin ngga. Biarpun dibayar sejuta per kepala? Insya Allah, tetep ngga, bukan karena alasan sombong ngga butuh duit. Karena bagaimanapun, prioritasku masih yang utama ya menjalankan peran sebagai ibu dan istri, bukan sebagai wanita karir.

Bagaimana menurut teman-teman? Hm, rada berat ya topiknya...

Wednesday, March 12, 2008

MAKA, CINTAILAH DIA DENGAN SEDERHANA...

Aku pernah berbincang sersan (serius tapi santai) dengan sobat kentalku. Bincang-bincang biasa sebenarnya, tapi lama-kelamaan kok menukik makin dalam ke topik SSS (sangat sangat serius). Yaitu pernak-pernik kehidupan berumah tangga, seputaran masalah anak, suami, bapak-ibu, mertua, dan sebagainya.

Dia bilang, beberapa kali ketika dia merasa teramat sangat sayang terhadap suaminya, kok ya ada saja sekeping kejadian yang akhirnya membuahkan kekecewaan. Entah saat dia sudah rapi jali semerbak mewangi menanti sang pujaan hati melangkahkan kaki (naah, puitis ngga?) pulang ke rumah, ujug-ujug sang suami lapor kalau pulang larut malam karena keasyikan ngobrol atau harus lembur, atau dia sedang ingin ngobrol santai eh kok ya suaminya asyik mendengkur kelelahan, atau juga ketika sudah lintang-pukang memasak sajian istimewa favorit suami ternyata beliau sudah dinner di luar atau kalaupun makan di rumah, ya makannya sambil lalu ngga pake memuji ngga pake basa-basi... Gimana ngga sevvot (liat kan, udah ngga pake w lagi, ganti v dobel pula :)) bin kesel?

Tahu ngga, sesaat aku terpesona dengan tutur ceritanya. Bukan apa-apa, ternyata aku juga pernah mengalaminya dengan Abang tersayang (piss man, plis read until the end ya :)). Mungkin tidak persis sama, tapi overall mirip (kurang lebihnya mohon maaf, lho?). Tapi alhamdulillah, dari perbincangan ini pula kudapat pencerahan untuk langkah selanjutnya, so tidak ngegosip, menyalahkan suami yang kurang toleran atau ngerti perasaan istri, de el el. Apakah itu? Yuk simak!

Pertama dan utama, kami ini, para istri, sepatutnya membenahi niat. Dasar apakah yang melatarbelakangi semua tindakan di atas hingga berujung kekecewaan? Ternyata setelah dikaji-kaji, niatnya adalah ingin beroleh pujian dari suami, bukan disandarkan semata karena Allah SWT. Makanya ngga heran waktu suami cuek bebek aja, langsung sakit atiii deh... Padahal kalau saja niat itu diluruskan, insya Allah tidak akan kecewa atau marah, karena Allah tidak akan pernah mengecewakan kita bukan??

Aku jadi ingat Aa Gym pernah mengingatkan kita untuk tidak menggantungkan harapan kepada manusia/makhluk, karena bisa bermuara pada timbulnya rasa kecewa, sedih, dan marah tatkala manusia tersebut tidak mampu memenuhi harapan kita. Namanya manusia kan tempatnya salah dan ketidaksempurnaan, so pasti ada masanya berbuat keliru?

Kedua dan ngga kalah penting adalah paradigma alias pola pikir yang tertanam bahwa suami adalah tempat utama atau bahkan satu-satunya kita mencurahkan cinta, the only one dedication of every wife, dan ternyata, mohon maaf, keliru besar! Hanya Allah jua cinta sejati kita, paling hakiki, yang paling paling lah pokoknya... Karena apa? Cinta yang terlampau berlimpah kepada seseorang, entah dalam hal ini pasangan hidup, anak-anak, atau siapapun, pada suatu masa akan menyakitkan ketika takdir-Nya memisahkan kita, entah melalui kecelakaan, salah satu berpulang, perceraian, atau apapun. Kalaupun ditakdirkan terus bersama, salah satu merasa terkekang, tersiksa, terancam, tidak nyaman dengan dirinya, sementara pihak lainnya merasa was-was, takut ditinggalkan. Kalau sudah demikian, hati-hati lho, ini sudah masuk fase berbahaya, artinya kita sudah mulai "cinta dunia", takut sendirian, karena terlalu bergantung pada makhluk, padahal seharusnya cuma Dia, sang Maha Penggenggam tiap jiwa kita, menjadi satu-satunya sandaran kita, tempat curhat atau berkeluh-kesah.

Aku teringat -- kalau ngga salah ya -- ada kata bijak, "Sederhanalah kamu dalam mencinta dan membenci". Mengapa sih harus sederhana aja, biasa aja? Ya itu tadi, kalau berlebihan, kan ngga baek, meresap terlalu dalam di lubuk hati, entah jadi cemburu akut, dendam, atau penyakit hati lainnya, juga karena bisa saja benci berubah jadi cinta ataupun sebaliknya, kan berabe nantinya saat perasaan kita itu jadi bertolak belakang dengan yang selama ini digembor-gemborkan? Cinta dalam porsi wajar, biasa saja, karena yang 'spesial pake telor' cuma dan cuma untuk Dia, Sang Pencipta.

Naah, cara sobatku mungkin bisa jadi contoh. Ketika di lain hari kejadian seperti di atas berulang kembali, santai aja dia menyikapinya, entah segera beralih ke anak-anaknya, aktivitas lain, menikmati masakan sendiri di teras, atau kalau suaminya sudah keburu lelap, ya dia baca buku deh bablas sampai tengah malam! Intinya, isi kepala dan hatinya dienyahkan dari syak wasangka atau perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap suami. Rebes kan?

Jadi sejak saat itu, kami mulai menata niat, semua yang dilakukan semata lillahi ta'ala... Tidak mudah memang, perlu waktu dan proses, tapi bismillah, kita bisa...

Friday, January 25, 2008

PIKIRAN ADALAH DOA...

Kamis pekan lalu, aku menyempatkan diri ke Zoe Library di Margonda, Depok. Kuniatkan dalam hati, ya Allah, izikan aku mereguk ilmu dan hikmah dalam perjalananku kali ini, dan alhamdulillah, apa yang kudapat hari itu, sesuai benar dengan niat, Dia mengabulkan doaku.

Di salah satu majalah wanita yang kubaca, ada artikel sangat menarik. Judulnya "Mendesain Masa Depan". Tulisan tersebut sebagian berisi tentang buku "The Secret" yang mengupas hukum tarik-menarik yang berlaku di alam semesta ini, yaitu bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup sebenarnya ditarik oleh kita sendiri melalui isi pikiran kita. Juga dikemukakan pendapat beberapa ahli, salah satunya Erbe Sentanu (Quantum Ikhlas).

Pikiran kita sesungguhnya bersifat magnetis, punya frekuensi yang dikirim ke alam semesta dan akan menarik hal serupa ke arah kita. Artinya, tidak ada yang namanya peristiwa kebetulan, karena kejadian baik/buruk itu ditentukan oleh diri kita sendiri. Misalnya, ketika kita didera masalah, dan isi pikiran kita semata berisikan hal-hal negatif (tidak dapat pinjaman bank, takut di-PHK, dikejar-kejar debt-collector, dimarahi mertua, de el el) ataupun bayangan kegagalan apapun, justru secara tidak sadar menggiring kita untuk bertindak menuju pikiran negatif tersebut, yang notabene kian memperburuk dan mendatangkan lebih banyak hal-hal buruk dalam hidup.

Dalam artikel itu juga dibahas tentang emotional guidance system, emosi yang akan jadi penuntun kita untuk memilih dan memilah pikiran yang benar-benar jadi keinginan kita. Untuk itu, penting sekali kita mengasah kepekaan/intuisi, selain juga yang tak kalah penting harus diawali dengan rasa syukur/gratitude sebagai kunci utama kebahagiaan serta inner happiness, yaitu kembali ke pikiran yang tenang dan ikhlas. Mm, sejalan benar dengan pandnagan Erbe Sentanu bahwa di masa kini, banyak orang mencari kebahagiaan di luar dirinya, padahal sumber kebahagiaan itu adanya di dalam diri kita masing-masing, yaitu keikhlasan kita menerima apapun yang sudah digariskan Allah yang Maha Kuasa.

Hm, jadi serius banget ya? Cuma untukku pribadi, artikel ini sungguh membuka hatiku, tatkala kita sedang didera masalah, merasa sedih dan gundah-gulana tentulah sangat manusiawi, hanya saja, sebaiknya jangan terlampau diturutkan. Segera bangkit, ambil wudhu, dirikan shalat sunnah, mengadu kepada-Nya sepuas-puasnya, lalu menata hati dan alam pikiran kita, dan jangan lupa, usir pikiran-pikiran jelek yang kiranya bisa merintangi. Dunia terus berputar, rugi kan kalau kita terpuruk dalam kepiluan? Setuju?? Jadi, ayo bangun!

Tuesday, January 22, 2008

STOP COMPARING, START FLOWING!

Sumber: Motivasi_net

Gede Prama memulai talkshow dengan bercerita tentang tokoh asal Timur Tengah, Nasruddin. Suatu hari, Nasruddin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata dia mencari jarum. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum tersebut. Tetapi selama sejam mereka mencari, jarum itu tak ketemu
juga.

Tetangganya bertanya, "Jarumnya jatuh dimana?"
"Jarumnya jatuh di dalam," jawab Nasruddin.

"Kalau jarum bisa jatuh di dalam, kenapa mencarinya di luar?" tanya
tetangganya. Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasruddin menjawab, "Karena
di dalam gelap, di luar terang."

Begitulah, kata Gede Prama, perjalanan kita mencari kebahagiaan dan keindahan. Sering kali kita mencarinya di luar dan tidak mendapat apa-apa. Sedangkan daerah tergelap dalam mencari kebahagiaan dan keindahan, sebenarnya adalah daerah-daerah di dalam diri. Justru letak 'sumur' kebahagiaan yang tak pernah kering, berada di dalam. Tak
perlu juga mencarinya jauh-jauh, karena 'sumur' itu berada di dalam semua orang.

Sayangnya karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya, banyak orang mencari sumur itu di luar. Ada orang yang mencari bentuk kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil bagus atau rumah indah. Tetapi kenyataannya, setiap pencarian di luar tersebut akan berujung pada bukan apa-apa. Karena semua itu, tidak akan berlangsung lama. Kulit, misalnya, akan keriput karena
termakan usia, mobil mewah akan berganti dengan model terbaru,
jabatan juga akan hilang karena pensiun.


"Setiap perjalanan mencari kebahagiaan dan keindahan di luar, akan
selalu berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan dan kebahagiaan, berangkat dari mencarinya di luar," tegas Gede Prama.

Untuk mencapai tingkatan kehidupan yang penuh keindahan dan kebahagiaan, seseorang harus melalui 5(lima) buah 'pintu' yang menuju ke tempat tersebut.


Pintu pertama adalah stop comparing, start flowing. "Stop membandingkan dengan yang lain. Seorang ayah atau ibu belajar
untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain. Karena setiap
pembandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagiaan di luar,"
ujar Gede Prama.

Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan,
menurut Gede Prama, dimulai dari membandingkan. Gede Prama
mencontohkan orang kaya berkulit hitam yang tidak dapat menerima
kenyataan bahwa dia berkulit hitam. Orang itu sering kali
membandingkan dirinya dengan orang kulit putih.

"Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik.
Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan
lain, maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang orang kaya itu.
Leads you nowhere," kata Gede Prama dengan logatnya yang khas.

Karena itu, Gede Prama mengajak peserta ke sebuah titik, mengalir
(flowing) menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia, yaitu
menjadi diri sendiri. Apa yang disebut flowing ini sesungguhnya
sederhana saja.

Kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, ketika kita mulai
belajar menerimanya. Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul.
Kepercayaan diri ini berkaitan dengan keyakinan-keyakinan yang kita bangun dari
dalam. "Tidak ada kehidupan yang paling indah dengan
menjadi diri sendiri. Itulah keindahan yang sebenar-benarnya!" kata
Gede Prama.