Tuesday, February 9, 2010

WEEKEND HUSBAND (AND DADDY), SEBUAH TREN?

Pada mulanya adalah sebuah kondisi yang seolah tak terelakkan. Ketika keluarga-keluarga muda dipaksa menyesuaikan sikon keuangannya dengan memilih dan membeli rumah di wilayah pinggiran. Atau juga ketika harus tinggal berjauhan di lain kota karena satu atau lain alasan. Maka kemudian yang umum terjadi adalah serangkaian ritual nyaris rutin, yaitu di pagi buta bergegas ke kantor, dan sudah lewat waktu tidur anak-anak ketika menjejakkan kaki kembali ke rumah. Atau bagi yang bekerja di luar kota, ritmenya adalah di Senin subuh berlari-lari ke bandara, dan Jumat malam dalam keadaan payah menjumpai keluarga.

Pertanyaan besar yang kerap mengganggu adalah bagaimanakah kualitas "keayahan" atau "kesuamian" itu? Padahal bagaimanapun, bukankah ini sebuah amanah dan tanggung jawab berat yang dengan sadar kita pilih?

Sementara istri dan anak-anak butuh dan memiliki hak untuk diperhatikan dan dilimpahi kasih sayang juga tho? Bukan hanya pekerjaan yang bertumpuk tak habis-habis, juga rekan kerja, anak buah, maupun atasan yang perlu dijaga perasaannya, serta hobi atau aktivitas sampingan.

Aku bertanya karena beberapa klien mengeluhkan tentang perasaan asing dan tersisih oleh suami yang kebetulan bekerja hingga jauh malam/di luar kota, di mana waktu bercengkrama begitu bisa dihitung dengan jari. Tapi juga memendam cemburu dan marah dengan hobi sang suami yang biasanya dilakukan sepanjang hari Sabtu dan hanya menyisakan satu hari sebelum mengejar pesawat lagi, di Senin buta.

Hm, kira-kira teman-teman punya solusi jitu apa ya untuk para "commuter-hubby/daddy" ini ya? itung-itung, belajar yuks jadi psikolog (haha, ini mah malah ngerjain orang!)

Piss ah, I love you full... ;))

1 comment:

Lala said...

Hehehe para istri musti kreatif tuch mengalihkan perhatian sang suami biar lupa dengan hobbynya sehingga bisa lebih dekat dengan keluarga