Friday, May 1, 2009

SEBETULNYA HIDUP ITU SANGAT SEDERHANA




Sebetulnya hiudp itu sangat sederhana;
tetapi kita merumitkannya
dengan rencana
yang tidak kita laksanakan,
dengan janji
yang tidak kita penuhi,
dengan kewajiban
yang kita lalaikan,
dan dengan larangan
yang kita langgar

(mario teguh)

Thursday, April 30, 2009

MAKANYA, KONTENTRASI!



Minggu lalu, rombongan Depok nyambangin rumah Ibu/Mertua/Ompungnya anak untuk silaturahim, kabar-kabari sama keluarga adiknya abang, sekalian serah terima tongkat lipat.

Di sana ada ponakanku yang imut, Abdul namanya. Umurnya baru 3 tahun, murid kelas PG. Pas diajakin ngerakit legonya, dia girang bukan main. Aku terus balapan bikin mobil free-sytle sama dia, bareng Yusuf. Yang lucu, sebab karena abang dan kakaknya ngga ada yang minat serius sama lego, jadilah dia terkagum-kagum dengan racikan legonya Yusuf, en errornya, agak melecehkan karya ciptaku, hihi... Nah, pas mobilku dah kumpul 6 buah, aku lupa, aku bikin kesalahan sehingga mobil-mobilanku agak oleng dan hancur berantakan. Ajaibnya, Abdul ngomentarin kecerobohanku sambil ngomong,"nah makanya Uwa (panggilanku), kontentrasi!", sambil nunjuk-nunjuk aku.

Halah, gimana aku sama Ompungnya ngga ketawa ngakak? Gaya bener euy anak PG sok nasehatin orangtua, pake bahasa tinggi lagi, eh salah hurup lagi, gubrax dech!

Aku bilangin si Abdul,"eh, salah tuh Dul, bukan kontentrasi tapi konsentrasi. Ayo coba ngomong terasi, bisa ngga?"

Ompungnya tambah terpingkal-pingkal, nih Uwa sama ponakan sama-sama ngaco! Yah, kompakan dong Pung :D

Wednesday, April 29, 2009

INI RUMAH KITA SAYANG...



di perapian manakah kan kau temukan kehangatan cinta
di puncak manakah kau rasakan sejuknya hawa kasih sayang
dari oase manakah dahaga dan kegersangan hatimu terobati
di indahnya mimpi yang manakah pelangi harmoni kan kau jumpai
segalanya kan menyapamu di sini
di rumah kita sayang...

(dikutip dari buku karya Mas Golagong dan Mbak Tyas Tatanka, sang isteri tercinta)

Tuesday, April 28, 2009

KRIBO AGAIN?? ARRGGGHH...



Entah kenapa, tiap ngurusin acara, selalu ujung-ujungnya rada kriting bin kribo. Aku bukan ngomongin model rambut tapi efeknya secara mental. Meski secara dari luar kagak keliatan karena ketutupan jilbab (tau yah di dalemnya botak atawa megar nanggung pas buka jilbab, haha...), tetep aja konsentrasi rada-rada buyar untuk hal-hal rutin sekalipun yang biasa dilakonin. Mungkin emang dari sononya aku orang yang model panikan kali ya? Wallahu'alam...

Waktu acara Januari lalu, aku yang ketiban tugas untuk ngurusin penjualan tiket, sempat agak blank, en biasanya air mukaku gampang banget kebaca sama orang-orang sekitar, so meski nih mulut ngomong ngga perlu bala bantuan (insya Allah bukan buat sok-sokan mampu ngehandel sendiri, tapi lebih karena bakal tambah runyam kalo dioper di tengah-tengah kerjaan), tapi wajah melas menerbitkan rasa kasian (huss, bukan dikasih uang lho, itu mah mauuu! Hehe, emang mental pengemis??)

Tiap pulang habis rapat atawa ngumpul sama panitia lain, biasanya aku perluin untuk tarik napas, curhat. Bukan curhat ke abang (dia sendiri dah banyak kerjaan, kasian boo...), tapi curhat ke yang punya diri dan isi hati dan kepala, Gusti Allah. Mo nangis, senyum-senyum, ngucap syukur, bebas merdeka, Allah Maha Menerima...

Jadi biar sekarang keriting mulai bermunculan, lapor ke Allah "it a must", harus itu! Rebonding? Ntar, liat dompet dulu, ada anggarannya kagak??

Monday, April 27, 2009

FIGHTING THE WRONG FIGHT


(MARIO TEGUH)

Anda hanya mendapat dari yang Anda kerjakan.
Janganlah memilih pekerjaan yang salah.
Dalam kehidupan, pertanyaan yang sebenarnya bukan apa yang Anda menangkan, tetapi apa yang Anda lakukan; karena yang Anda lakukan menentukan apa yang bisa Anda menangkan.
Jadi janganlah berlama-lama dalam kesadaran bahwa yang sedang Anda lakukan ini sebetulnya salah. Janganlah Anda biarkan diri Anda menua dalam pekerjaan yang menuntut penggunaan dari kelemahan-kelemahan Anda. Berjayalah dalam pekerjaan yang merayakan penggunaan dari kekuatan-kekuatan Anda.

Anda dikenal melalui pertarungan yang Anda pilih.
Apa pun yang Anda perjuangkan melalui pertarungan - pasti merupakan sesuatu yang penting bagi Anda. Itu sebabnya Anda dikenal dari apa yang Anda pertarungkan.
Bila hal-hal kecil yang tidak penting, cukup untuk membuat Anda bertarung dengan orang lain, maka kecil dan tidak pentinglah Anda. Bila yang Anda perjuangkan adalah hal-hal yang baik dan bernilai, maka baik dan bernilailah Anda.

Kelas Anda ditentukan oleh keberanian Anda.
Keinginan Anda tidak penting, bila untuk pencapaiannya Anda tidak bersedia untuk bertarung.
Banyak orang sangat berani dalam mengkhayalkan keberhasilan dirinya, tetapi menjadi kerdil saat betul-betul harus memenuhi syarat bagi keberhasilannya dalam pekerjaan yang nyata.
Mereka yang pemberani, tidak selalu mengawali perjuangan mereka dengan impian, tetapi selalu memasuki pekerjaan dengan kesungguhan, dan menghadapi kesulitan dengan keberanian. Itu sebabnya, keinginan yang sesungguhnya hanya pantas berlabuh di hati seorang pemberani.

Janganlah menjadi petarung yang setengah-setengah.
Janganlah menjadikan hidup ini setengah matang.

Segeralah selesaikan hal-hal yang akan membentuk keutuhan dari rencana-rencana Anda.
Janganlah impian Anda mengenai keberhasilan di masa depan, menjadikan Anda penunda yang menafikan keberhasilan yang bisa Anda capai hari ini.
Bersikaplah seperti para petarung sejati.
Janganlah memukul, karena itu akan menyakiti orang lain. Janganlah juga, memukul dengan lunak, karena balasan yang Anda terima bisa keras. Tetapi, bila Anda harus memukul, pukullah dengan keras.

Periksalah kembali prinsip-prinsip Anda.
Memang dibutuhkan sebuah keberanian, untuk tewas mempertahankan sebuah prinsip; tetapi dibutuhkan keberanian yang jauh lebih besar lagi untuk tetap hidup dan berjaya dalam sebuah prinsip. Dan itu adalah pilihan yang lebih baik.
Bukan ukuran Anda yang penting untuk memenangkan sebuah pertarungan, tetapi ukuran keberanian dalam diri Anda; yaitu keberanian untuk tampil dan bekerja sesuai dengan prinsip Anda.

Tidak ada hal besar yang bisa dicapai oleh seseorang yang keras kepala -karena prinsipnya; tetapi yang berjalan tanpa arah, meneriakkan keraguan dan keluhan; tetapi menolak nasihat-nasihat baik, hanya karena itu bukan prinsipnya.
Bila yang disebutnya prinsip itu, mengkerdilkannya mungkin itu bukan prinsip, atau dia harus memeriksa kembali sikapnya dalam berprinsip.

Dia yang menyerang harus menang, dan dia yang bertahan harus selamat.
Apakah Anda termasuk yang agresif dalam hidup ini, yang memasuki jam-jam kerja dengan kekuatan hati yang menyerang dengan kekuatan penuh?
Ataukah Anda yang hanya bertahan, yang berupaya selamat dari hari ke hari, tanpa pandangan yang jelas kapan kira-kira kelambatan dan ke-rata-rata-an ini berakhir? Yang manakah Anda? Maka ..., bertindaklah lebih berani.

Bila Anda berseteru dengankehidupan ini, semua orang akan menjagokan kehidupan.
Dari semua hal yang bisa Anda jadikan musuh dan Anda salahkan atas kelambatan laju kehidupan ini, jangan pernah musuhi kehidupan.
Bila pendapat buruk Anda tentang kehidupan ini benar, maka tidak akan ada orang lain yang tampil sebagai pemenang. Tetapi, telah banyak orang yang menang, dan masih akan ada banyak lagi yang menang.
Kehidupan ini harus dimenangkan, didapatkan, dan dialami dengan baik -lalu bagaimana mungkin Anda bisa memenangkan, mendapatkan, dan mengalami kehidupan dengan kecintaan, bila Anda mengeluhkan kehidupan?
Sayangilah kehidupan ini, dan dia akan mengembalikan kebaikan Anda itu dengan kualitas hidup yang lebih besar dari yang Anda berikan.

Betapa pun Anda menyukai permainan, janganlah bermain-main dengan hidup Anda.
Bagi anak-anak, sebuah permainan adalah kehidupan yang sesungguhnya, dan dengan permainan itulah mereka membangun pengertian dan kemampuan untuk menjadi pemenang yang anggun dalam hidup mereka nanti.
Sebagian dari anak-anak itu memang tumbuh menjadi pemenang, tetapi sebagian yang lain tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang masih bermain-main dengan kehidupan mereka.

Hidup ini bersikap ramah kepada kita yang bersungguh-sungguh untuk mencapai kemenangan, dan bersikap keras kepada mereka yang tidak terlibat secara sadar dalam prosesi kehidupan.
Dan yang menyayat hati para pemerhati adalah bila mereka yang dikerasi agar sadar itu, menerima kesulitan hidup sebagai nasib buruk seolah-olah upaya mereka tidak akan mendatangkan perubahan.
Seandainya saja, mereka mau mendorong diri mereka untuk mencoba, untuk berjuang dalam perjuangan yang benar.

Thursday, April 23, 2009

JADWAL RUTIN



Aku yakin di antara kita, nyaris semua punya jadwal rutin dan urutan-urutan yang pasti serta tingkat urgensi bervariasi. Meeting jam sekian, break, lanjut lagi sampai dzuhur, lunch, kemudian kerja, bla bla bla... Atau juga seorang guru atau dosen, seperti mbak Diah, Bapak, dan Ibuku, juga adindaku, jadwalnya tidak kalah ketat, berapa jam jatah mengajar minggu/semester ini,kapan ujian blok, formatif, dan ditutup dengan ujian akhir. Seorang ibu rumah tangga sekalipun -- seperti aku -- tidak kalah ruwetnya. Tight on schedule, habis subuh mutar cucian, menyapu dan menyiram, kapan melap rak-rak buku yang bertebaran di hampir semua ruangan, juga memasak, dan istirahat.

Tapi, apakah kita punya jadwal pasti untuk mencium anak dan istri/suami? Menyapa mereka? Care with them, dengan perasaan-perasaan mereka di hari ini? Rasanya tidak, dan itu kerap hanya menyembul di celah-celah kecil yang tersisa dari setumpuk urusan yang -- menurut persepsi kita -- jauh lebih tinggi prioritasnya dibanding mereka. Kita lebih mengutamakan perasaan-perasaan rekan kerja atau anak buah, dengan bersandar pada alasan nilai nominal megaproyek jutaan dollar yang mengiringinya, penilaian atasan, respek dan kekaguman rekan setim dan bawahan, cemas dan khawatir dengan kritik sponsor atau penyandang dana, dan sebagainya. Padahal sadarkah kita, bahwa porsi waktu yang kita habiskan selayaknya lebih banyak di lingkungan rumah, anggota keluarga, karena sesungguhnya merekalah amanah utama kita? Amanah utama yang akan selalu kita bawa sepanjang hidup, hingga tiba saat maut menjemput? Dan apa yang mau kita laporkan kepada Allah tentang semua ini? Nihil, nol besar, atau malah minus, karena kita lebih banyak menuntut daripada menunaikan tugas dan tanggung jawab?

"Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS At-Tahrim, 6)

Tuesday, April 21, 2009

THREE TIMES A LADY...


(RENUNGAN HARI KARTINI)



Seorang wanita, harus pertama, menjadi seorang kekasih.

"Mungkin karena mengikuti sebuah seminar yang salah, tidak sedikit wanita yang tidak lagi berupaya menjadikan dirinya obyek ketertarikan fisik dari pria-nya, segera setelah mereka menikah.

Entah siapa yang mengajarinya untuk menjadi wanita yang tidak lagi menggetarkan jantung pria-nya saat tenunan-tenunan benang itu meninggalkan kulitnya.

Atau menjadikannya wanita dengan suara tawa, teriakan, dan umpatan yang biasanya dilakukan oleh pria-pria tidak terdidik. Atau, menjadikan dirinya lebih perkasa daripada pria-nya, untuk menyiapkan dirinya bagi pertarungan yang harus dimenangkannya atas prianya, suatu ketika nanti.

Bila Anda ingin pria Anda mengendap-endap, meliuk-liuk, dan menggeram rendah dan dalam saat dia merangkak mendekati Anda, dengan sinar mata yang mengharuskan Anda untuk gemetar karena lebih mengharapkan daripada menolak; maka jadikanlah diri Anda seorang kekasih yang pertemuan dengannya membuat pria Anda bersedia meninggalkan apapun."
.......

Seorang wanita, harus ke-dua, menjadi seorang sahabat.

"Sebuah kebersamaan yang tidak dibangun atas sebuah persahabatan, akan menjadi sebuah istana pasir yang menunggu air pasang naik. Dua sahabat, disebut sahabat, karena mereka menikmati kebersamaan dengan satu sama lain.

Mereka menikmati yang mereka lakukan bersama. Mereka tidak harus menyenangi hal-hal yang sama, tetapi mereka selalu menemukan cara-cara yang menyenangkan dalam menikmati waktu mereka.

Mereka menjadi penguat bagi satu sama lain; tidak menilai buruk satu sama lain, melihat kebaikan dari satu sama lain, mengupayakan kebaikan bagi satu sama lain.


Seperti unsur kimia yang bereaksi dan berubah karena dicampurkan - Anda dan pria Anda harus berubah menjadi pribadi-pribadi baru, yang kebersamaannya justru memperkuat kebersamaan Anda.

Bukan tidak cukup-nya kasih sayang, yang membuat sebuah kebersamaan itu tidak membahagiakan - tetapi tidak cukup-nya persahabatan."

.......

Seorang wanita, harus ke-tiga, menjadi seorang ibu.

"Ada wanita yang berhasil membangun karir yang cemerlang, lalu menolak menjadi seorang ibu, karena menurutnya menjadi seorang ibu itu, merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita.


Dia sangat betul, karena dia adalah wanita yang dilahirkan dari rahim seorang pria.

Tidak ada pria atau wanita yang super mulia dan super cemerlang dalam sejarah kemanusiaan, yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu.

Bila bayi kecil, lucu, harum, dan ceria itu kemudian menjadi seorang profesional atau pebisnis yang cemerlang dan mulia pribadinya; maka langit pun tidak bisa menjadi atap dari tingginya pujian yang terharuskan bagi seorang ibu.

Seorang pria yang mengerti hal ini, akan menghormati wanita-nya sebagai keteladanan bagi anak-anaknya dalam menghormati ibu mereka, wanita kecintaan-nya.

Ciumlah punggung tangan wanita Anda, dan katakanlah dengan penuh kasih.


You’re once, twice, three times a lady.
And, I love you."


............

Cara terdekat untuk memperbaiki rizki adalah meningkatkan kualitas kasih sayang di keluarga kita.


“Katakanlah kepada wanita Anda:
Seorang wanita adalah sebuah kesatuan yang indah dari tiga peran penting dalam kebersamaan dengan pria-nya.

Yang pertama, dia sebagai kekasih.
Yang kedua, dia sebagai sahabat.
Yang ketiga, dia sebagai ibu.

Ketertarikan yang menggila pada saat-saat pertama cinta ditemukan, memang mudah untuk membuat dua pribadi yang sangat berbeda untuk menjadi satu dan memutuskan untuk bersama-sama sepanjang hidup. Hanya saja, panjangnya hidup yang dilihat oleh mata yang sedang terkaburkan oleh cinta, bisa jadi sangat pendek.

Itu sebabnya cinta saja tidak cukup. Cinta harus menjadi landasan dari sebuah kebersamaan, yang tidak mungkin menjadi keseluruhan strukturnya.

Ada banyak hal yang harus dibangun dengan logika yang jernih untuk menjadikan sesuatu yang dimulai dengan emosional ini – sebuah kebersamaan yang membahagiakan.”

(MARIO TEGUH GOLDEN WAYS)