Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Tuesday, November 2, 2010

ILMU UNTUK HIDUP SEHAT

(kalimat bijak penuh hikmah dan renungan dari seorang sahabat)

INGAT DUA HAL...
1. Ingat kesalahan kita pada orang lain, sehingga kita ingin memperbaiki
2. Ingat kebaikan orang lain pada kita sehingga kita ingin berbuat baik juga


LUPAKAN DUA HAL...
1. Lupakan kebaikan kita pada orang lain, agar terhindar dari sikap tidak ikhlas (menagih balas budi)
2. Lupakan kesalahan orang lain pada kita, sehingga kita tidak punya sifat pendendam


Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua, aamiin...

Tuesday, October 12, 2010

RENUNGAN HARI INI...

tidak lebih baik akal seseorang
bila tidak dihiasi kelapangan dada,
kelapangan dada yang dihiasi oleh ilmu,
ilmu yang dihiasi oleh kebenaran,
kebenaran yang dihiasi oleh amal,
dan amal yang dihiasi oleh kelemahlembutan,
karena sesungguhnya
kelemahlembutan adalah cerminan akhlak mulia...

(NN)

Friday, May 21, 2010

QOUTE OF TODAY

tak pernah ada
yang luput
dari tatapan Allah
Dia benar-benar Maha Menyaksikan
apapun yang kita lakukan
tak ada yang tersembunyi
tak bisa berdusta
sama sekali
di hadapan Allah...

(SMS Tauhid MQ Pagi)

Monday, April 26, 2010

RENEW YOUR MARRIAGE...




(sumber: NN)

bila cintamu cinta sejati
tentu semuanya 'kan jadi mudah
karna segala yang ada di atas tanah
tak lain hanyalah tanah...

yang tak mengasihi
tentulah bukan kekasih kita,
karena kasih sayang tidaklah menyakiti

Maka janganlah tertipu...

Tuesday, April 20, 2010

RENUNGAN HARI INI...

Perbanyaklah mengingat satu hal yang 'kan memutuskanmu dari kelezatan dunia, yaitu maut...

Saat kita terbaring tak bergerak, tiada bernafas, sadarkah bahwa detik itu tatkala ruh membebaskan diri dari belenggu raga kita, saat itu pula tutup sudah hak jawab kita sebagai makhluk hidup? Dan orang-orang, yang berkenan melayat, maupun yang tidak sudi menjenguk, punya kekebasan tak terbatas untuk bicara ini dan itu tentang kita. Lalu, kita ingin orang membicarakan apa mengenai diri yang sudah terbujur kaku ini? Kebaikankah? Sifat yang pendendam kita? Atau kelicikan dan kedurjanaan kita? Semua itu berpulang pada benih-benih yang dengan sabar kita tenam dan semaikan di ladang amal kita, sepanjang hayat. Jikalau kita ingin diperbincangkan tentang budi baik kita, tiada pilihan lain kecuali menabur sebanyak-banyak kebaikan ketika Allah masih berkenan menitipkan ruh pada jasad kita, berhati-hatilah dalam melangkah...

Monday, April 5, 2010

RASA MANIS SEBUAH KEIMANAN

Syarah Hadits
13/1/2007 | 23 Zulhijjah 1427 H
Oleh: Samin Barkah, Lc


Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Tiga sifat yang jika dimiliki orang akan mendapatkan manisnya iman; Orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lain; Orang yang mencintai seseorang semata karena Allah; Dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Dalam surat Ali Imran ayat 31 Allah menyebutkan bahwa jika kita benar-benar mencintai Allah, maka kita harus mengikuti Rasulullah saw. sehingga Allah akan mencintai kita. Pusat dan sumber alasan kecintaan kita kepada sesuatu adalah Allah, termasuk juga kecintaan kepada Rasulullah saw.

Dengan kelemahan manusia seperti disebutkan Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 72 bahwa manusia adalah makhluk yang zhalim dan jahil, terkadang manusia lupa dengan cinta yang hakiki. Manusia hidup dalam perburuan cinta palsu, terutama di zaman hedonisme ini. Segala kemajuan materialis sangat meninakbobokan manusia untuk mengenal diri dan penciptanya, apalagi untuk memahami hakikat hidup dan tujuannya. Itulah kondisi masyarakat di negara-negara maju dan di sebagian di negara-negara berkembang.

Mencintai orang karena Allah. Sama halnya juga dengan membenci seseorang semata karena Allah. Nafsu manusia sering menghalangi kita untuk mencinta dan membenci seseorang karena Allah. Manusia mencintai karena ada sesuatu yang ingin ia dapatkan dari orang tersebut.

Ada sebagian orang yang ketika mendapatkan jasa seseorang akan membuat dia tidak dapat mencinta dan membenci karena Allah. Segala pemberian yang ia terima akan membuat dirinya tidak dapat memposisikan diri apakah harus mencinta atau membenci ketika orang yang pernah menanamkan jasa tersebut bertentangan dengan syariat Allah. Karena itulah seorang dai harus memelihara izzahnya untuk tidak dengan mudah menerima segala pemberian yang membuat ia tidak dapat memberikan nasihat. Kesederhanaan dan kemandirian seorang dai menjadi tuntutan agar ia tetap dapat menyampaikan kebenaran kepada semua orang.

Wednesday, March 24, 2010

WISDOM FROM OPRAH

”Melakukan yang terbaik hari ini akan membawamu ke tempat terbaik pada masa mendatang.”

Oprah Winfrey, produser dan pembawa acara televisi asal Amerika Serikat

Tuesday, March 2, 2010

CINTA: ANTARA ANUGERAH DAN MUSIBAH

(sumber: dakwatuna.com)

Cinta sebagaimana fitrahnya merupakan anugerah dan cinta juga musibah. Cinta menjadi kenikmatan bila karena Allah dan dijalan-Nya (Al-Hubb Fillah wa Lillah). Cinta islami demikian tidaklah mengenal batas ruang dan waktu serta melampaui batas fisik materi. Cinta yang fitri kata orang bijak adalah buah yang tak mengenal musim dan dapat dipetik oleh siapa pun. Cinta yang demikian tak jadi masalah kepada siapa dan seberapa besar asalkan karena Allah dan dijalan-Nya. Inilah rumus cinta suci segitiga dalam Islam; cinta proporsional (equilibrium love) antara cinta kepada Allah yang tidak menelantarkan cinta kepada makhluk, dan cinta kepada makhluk yang tidak melalaikan bahkan senantiasa dalam cinta kepada Allah Sang Khalik.
Perasaan cinta pada dasarnya sebuah kenikmatan. Betapa indahnya hidup yang dipenuhi cinta sejati dan betapa sengsaranya hidup yang dipenuhi kebencian. Orang yang dipenuhi semangat cinta yang suci mulia akan selalu merasa bahagia sebelum orang lain bahagia sehingga mendorongnya untuk memiliki sikap tenang, damai, puas dan ridha. Bahkan cinta merupakan energi dahsyat kehidupan yang mengilhami Lao Tzu, filsuf Cina yang hidup sekitar abad ke-6 SM untuk merangkai kata mutiara bahwa dicintai secara mendalam oleh seseorang akan memberimu kekuatan, dan mencintai seseorang secara mendalam akan memberimu keberanian. Demikian Plato filsuf Yunani kuno juga berkesimpulan bahwa cinta adalah sumber keindahan sehingga dengan sentuhan cinta setiap orang dapat menjadi pujangga.

Perasaan cinta yang dialami setiap jiwa manusia memang sebuah misteri sebagaimana fenomena ruh (jiwa). Nabi saw. bersabda: “Ruh itu laksana pasukan yang dikerahkan, maka seberapa jauh mereka saling mengenal maka sejauh itu pula mereka saling menyatu, dan seberapa jauh mereka tidak saling mengenal maka sejauh itu pula mereka akan berselisih.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud). Menyatunya jiwa sesama mukmin dalam cinta begitu kuat dan tetap hidup seperti satu tubuh sebagaimana diumpamakan Nabi saw. dalam hadits riwayat Imam Muslim. Begitu kuatnya pengaruh cinta sehingga kadang dapat menghilangkan kontrol emosi dan keseimbangan rasio sehingga tidak mampu bersikap objektif.

Mabuk asmara sebagaimana dikatakan filosof Plato merupakan cinta buta yang bergelora dalam jiwa yang kosong. Aristoteles juga berujar: “Cinta buta adalah cinta yang buta untuk melihat kesalahan orang yang dicintai. Cinta buta adalah kebodohan yang membalikkan hati yang hampa, sehingga ia tidak lagi mau memikirkan yang lain.” Oleh karena itu perlu manajemen cinta untuk menghindarkan ekses negatif dan efek kegilaan cinta yang menjurus kepada cinta buta yang sangat berbahaya sebagaimana dilukiskan penyair Qais: “Kau gila karena orang yang kau cinta. Memang cinta buta itu lebih parah dari gila. Orang tidak bisa sadar karena cinta buta, sedang orang gila bisa terkapar tak berdaya”. Bahkan yang lebih parah lagi bila cinta menghanyutkan seseorang sehingga melupakannya dari prioritas cinta lainnya seperti melupakan ataupun menduakan cinta kepada Allah yang dapat berakibat syirik.

Cinta memang persoalan hati (qalbu) dan hati seperti namanya adalah bersifat labil (yataqallabu) sehingga yang diperlukan adalah upaya maksimal lahir batin dalam pengendaliannya secara adil untuk setiap yang berhak atasnya. Nabi saw memaklumi fenomena batin ini dalam pengakuannya:
“Ya Allah, inilah usahaku sebatas kuasaku, maka janganlah Engkau cela diriku tentang apa yang Engkau kuasai dan aku tidak kuasai (hati).” (HR. Abu Dawud).

Melalui proses manajemen dan pengendalian cinta, seseorang dapat menjadikan perasaan cinta sebagai motivasi kontrol dalam kerangka kebajikan dan kemuliaan. Inilah esensi pesan Risalah Islam mengenai Alhubb wal Bughdhu fillah (Cinta dan benci karena Allah) sehingga kita tidak akan termakan oleh doktrin sinetron yang menyesatkan seperti sinetron “Kalau cinta jangan marah”. Hal itu karena kemarahan dalam perspektif manajemen cinta merupakan kelaziman cinta sejati yang diekspresikan dalam bentuk yang arif bijaksana tanpa keluar jalur syariat sebagaimana kemarahan Nabi saw diungkapkan dalam bentuk ekspresi perubahan mimik muka, diam, atau isyarat lainnya sebagai peringatan yang selanjutnya diberikan penjelasan dan dialog dari hati ke hati. Karenanya, beliau tidak menyukai lelaki yang suka memukul wanita bila marah apalagi sampai menampar wajah. Sebaliknya beliau juga tidak menyukai wanita yang meninggalkan atau mengkhianati suaminya bila sedang marah.

Manajemen cinta akan menumbuhkan sikap adil dalam cinta yang membawa hidup sehat dan seimbang (tawazun) dan bukan menjadi sumber penyakit sebagaimana Ibnul Qayyim sampaikan bahwa cinta bagi ruh sama dengan fungsi makanan bagi tubuh. Jika engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya serta tidak seimbang tentu akan membinasakanmu. Kelezatan hidup inilah yang dilukiskan dalam hadits tentang kelezatan iman:
“Ada tiga perkara yang siapa pun memilikinya niscaya akan merasakan kelezatan iman; barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari lainnya, barang siapa yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan siapa yang benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Proses menuju cinta suci yang diberkati Allah tidaklah mudah sehingga memerlukan upaya manajemen diri termasuk pengendalian ego dan penumbuhan rasa empati serta solidaritas sebagai persyaratan iman. Sabda Nabi saw:
“Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” Bahkan cinta sesama mukmin merupakan syarat masuk surga “Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim)

Cinta yang dikehendaki Islam adalah cinta sejati dan arif bukan cinta buta yang bodoh. Manajemen cinta mengajarkan agar perasaan cinta kepada seseorang tidak menghalangi kita untuk tetap melakukan segala hal yang semestinya kita kerjakan. Sehingga kita tidak akan melakukan ataupun meninggalkan segala hal demi rasa cinta ataupun mendapatkan cinta dari orang yang kita cintai meskipun hal itu bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) dirinya, membahayakan orang lain dan menimbulkan kerusakan di muka bumi atau memancing kemarahan Allah. Karena sikap demikian merupakan cinta buta yang bodoh. Sebagai contoh seorang ibu yang begitu memanjakan anaknya karena cintanya yang mendalam sampai melupakan pendidikan dan pengajarannya yang pada gilirannya justru akan menjadi bumerang bagi orang tuanya karena menjadi anak durhaka.

Adapun cinta yang arif sejati adalah sebagaimana cinta Allah kepada hamba-Nya dan cinta Rasulullah kepada umatnya sehingga yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah kebaikan, kesempurnaan dan kemuliaan dengan membenci segala kemungkaran dan kejahatan. (QS. Fathir: 35, Al-Kahfi: 18).

Seorang muslim tidak mengenal cinta monyet, cinta buta, cinta dusta, cinta palsu dan cinta bodoh. Ia hanya mengenal cinta suci mulia yang penuh kearifan dan kesadaran yang melahirkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan meletakkan cinta tersebut di atas segala-galanya sebagai tolok ukur cinta lainnya. Suatu ketika seorang Arab badui menghadap Nabi saw dan menanyakan perihal datangnya kiamat, lalu beliau balik bertanya: “Apa yang telah kau persiapkan?” Ia menjawab: “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya” Beliau menyahut: “Engkau bersama siapa yang kau cintai” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta karena Allah dan benci karena Allah akan menjadi filter, kontrol sekaligus tolok ukur dalam mencintai segala hal. Dengan demikian cinta yang tulus karena Allah Dzat Maha Abadi inilah yang akan bertahan abadi sementara cinta yang dilandasi motif lainnya justru yang akan cepat berubah, bersifat temporer dan akan membuahkan penyesalan. (QS. Az-Zukhruf: 43, Al-Furqan: 25)

Friday, November 20, 2009

ANDAIKAN...

Pernahkah engkau bersua dengan seseorang yang menyesali roda kehidupannya berputar tidak sesuai dengan harapan dan keinginannya? Atau jangan-jangan orang itu adalah dirimu sendiri? Memelihara asa pada ladang yang salah, seraya berucap dan berkeluh-kesah,"ah, seandainya saja aku tidak begini atau begitu...", atau "coba aku dulu bertemu dan menikah dengan dia lebih dulu, pasti aku sekarang bahagia...", dan seterusnya. Sadarkah kita bahwa untaian kata tersebut secara tersirat mendeskripsikan bahwa kita kurang ikhlas dengan takdir yang digariskan Allah kepada kita? Mencoba menawar Beliau, Gusti yang Maha Digjaya, untuk menghaturkan kisah-kisah hidup yang bahagia semata, yang hanya klop dengan impian-impian kita? Padahal sepatutnya kita yakin, haqqul yaqin, bahwa senantiasa ada hikmah di balik segenap peristiwa yang datang kepada kita, yang akan menempa kita, lewat tetesan air mata kita, darah dan derita kita, sekalipun itu kejadian terlalu pilu untuk diresapi... Maka percayalah, selalulah semaikan benih kepercayaan bulat nan utuh, bahwa Gusti Allah ora sare, Dia tiada pernah lelap tertidur, selalu 'kan awasi bisikan hati, ucapan lirih, maupun teriakan protes kita pada kehidupan...

Kata putriku, subhanallah dia kini kian beranjak remaja, "mama, kata bu guru, jangan ikuti hati nurani, karena belum tentu menuntun kita ke jalan yang benar, tapi ikuti kata Allah saja..." Ah anandaku, bernas nian katamu...

kesulitan hidup ini tidak ditujukan
untuk membatalkan pencapaian masa depan Anda yang baik,
tapi untuk menjadikan Anda lebih kuat dan pantas bagi impian kita...
mario teguh

Tuesday, October 6, 2009

PRIBADI RUMAH KACA...

(MARIO TEGUH GOLDEN WAYS)

Pribadi rumah kaca adalah pribadi yang terlihat dan terbaca jelas kebaikannya, niatnya, dan kesetiaannya.

Sehingga, dia mendapatkan keuntungan dari tidak adanya prasangka buruk dari orang lain, dan dengannya dia menerima perlakuan baik.

Jika ada orang lain yang berniat buruk kepada seorang pribadi rumah kaca, keburukan itu cepat teridentifikasi – karena dia telah terlatih sekali dalam jalan-jalan kebaikan. Dan dengannya dia bisa menghindari keterlibatan yang merugikan dengan orang yang buruk pribadinya.

Maka, jadilah pribadi yang kebaikannya terlalu jelas, untuk dikira selain itu.

………..

Bagaimana dengan kekhawatiran?

Khawatirlah, tetapi pastikan cara Anda dalam mengkhawatirkan sesuatu – menjadikan Anda lebih kuat untuk mengatasi atau menyelesaikannya.

Berhati-hatilah dengan kekhawatiran, karena cara Anda mengkhawatirkan sesuatu, bisa lebih melukai Anda daripada kekhawatiran itu sendiri.

………..

Berfokuslah untuk mengisi pikiran dan hati Anda dengan kebaikan. Janganlah mampukan pikiran dan hati Anda untuk menjadi pelabuhan bagi pikiran dan prasangka buruk.

Keburukan di pikiran dan di hati itu menyita banyak waktu, dan menjadikan hari-hari kerja Anda pendek dan malam-malam Anda panjang tanpa tidur.

Anda yang hanya menyediakan kebaikan bagi pikiran dan perasaannya, akan menikmati produktifnya hari-hari kerja yang panjang, dan indahnya malam – walau mungkin sama-sama tanpa tidur.

………..

Jika Anda terpaksa menerima penistaan dari orang lain, tampilkanlah kesedihan karena perlakuan itu, tetapi tetaplah berlaku baik.

Dengan itu, bukan hanya manusia yang akan merasa kasihan, tetapi juga terutama Tuhan.

………..

Kita berhak membalas perlakuan buruk yang kita terima, ‘satu mata untuk satu mata’, tetapi akan lebih baik bagi kita jika kita memaafkan.

Tindakan memaafkan adalah tindakan membatalkan hak kita untuk membalas, dan menyerahkan penyelesaiannya kepada Tuhan, karena Beliau adalah sebaik-baiknya penyelesai masalah.

Dengannya, kita telah menjadi pribadi yang baik, dan ‘memberikan’ kesempatan kepada Tuhan untuk berlaku yang membaikkan orang yang mendzalimi kita.

………..

Alangkah indahnya kehidupan ini, jika saja Tuhan menuruti semua permintaan kita.

Tetapi, apakah kita menyadari bahwa ketaatan kita adalah penyebab bagi penghormatan Tuhan kepada permintaan-permintaan kita?

Maka cobalah untuk menjadi lebih penurut.

………..

Bersabarlah. Karena sabar itu tanda bahwa Anda percaya kepada Tuhan.

Jika kita menyatakan dengan lantang mengenai keimanan kita, maka bersabar seharusnya mudah.

Jika selain itu, marilah kita perbaiki keberserahan kita kepada Tuhan.

………..

Maka nasehatnya bagi kita semua adalah:

Beningkanlah hati kita, lalu perhatikan apa yang terjadi.

………..

Marilah kita menasehatkan kalimat-kalimat ini kepada diri kita masing-masing,

Jika wajahmu menyiratkan ketulusan hatimu, maka kehidupan akan memilihkan kualitas dari isi hatimu.

Dengannya, kehidupan menganugerahkan hati yang bening kepadamu.

Dan ketahuilah ini, bahwa kebeningan hatimu menentukan kemampuanmu untuk melihat yang tidak bisa dilihat oleh mereka yang hatinya suram.

Karenanya,

Jagalah hatimu dari prasangka yang mengkejikan perkiraan-perkiraanmu.

Peliharalah pikiranmu dari perhitungan yang memburukkan pekertimu.

Dan hindarkanlah dirimu dari anggapan yang melebihkanmu sebagai pembenci daripada pengasih.

Maka,

Serahkanlah hatimu kepada kebaikan, karena hanya dengannya hatimu menjadi bening.

Sejajarkanlah keramahan wajahmu dengan kebeningan hatimu, lalu perhatikan bagaimana kehidupan memilihkan kualitas dari isi hatimu.


Semakin bening hatimu, semakin besar dan luas pandanganmu terhadap kehidupan.

Sehingga sebetulnya, indahnya kehidupan hanya sebening hatimu.

………..

Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya,

Mudah-mudahan sedikit dari yang bisa saya susunkan di sini dapat menjadi penambah pertimbangan untuk mempercepat tercapainya perubahan pada kualitas diri kita, dalam upaya kita untuk memenangkan peran-peran dan tempat-tempat yang penting.

Tujuan utama dari menjadikan kualitas pikiran dan perasaan kita mudah ‘terbaca’ oleh orang lain, adalah menaruh diri kita dalam keterdesakan artifisial untuk SEGERA menjadikan kita pribadi yang berpikiran baik, yang bersikap baik, dan yang berlaku baik.

Hanya karenanya kebaikan dalam kehidupan ini menjadi sesuatu yang logis dan wajar untuk kita miliki.

Wednesday, August 19, 2009

YANG CERDAS DAN YANG BODOH



(TELADAN RASULULLAH)


"Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengekang nafsunya dan
beramal untuk (bekal) sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah
(pikiran) adalah orang yang mengikuti kehendak nafsunya dan berangan
pada (pemberian) Allah swt."
(HR. Turmudzi dan Ahmad)


Rasulullah kerap melihat suatu masalah dari sudut yang berbeda.
Standar kecerdasan seseorang dari hadits di atas dilihat dari
kemampuannya mengekang nafsu dan tingkat amal-amal shalih yang
dilakukannya untuk bekal hari akhirat. Sebaliknya pengumbar dan budak
nafsu adalah ciri orang yang lemah pikiran. Kenapa? Orang yang cerdas
dalam kriteria Rasulullah adalah orang yang memiliki pandangan jauh ke
depan, yakni kehidupan akhirat sebagai terminal kehidupan terakhir. Ia
adalah orang yang penuh pertimbangan, tidak sembrono, cermat,
hati-hati dan sungguh-sungguh melakukan aktivitasnya karena ia ingin
segala sesuatu yang dilakukannya tidak sia-sia apalagi membahayakan
dirinya. Amal-amal shalih pasti akan membuahkan ketenangan,
kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup.

Sebaliknya mereka yang akalnya lemah adalah para pengumbar dan budak
nafsu, tapi berharap sesuatu yang baik. Kenapa dikatakan lemah akal?
Karena orang yang bertipe seperti ini tidak pernah berpikir apa akibat
perbuatan yang dilakukannya. Ia tidak pernah memperhitungkan bagaimana
hasil kemaksiatan yang ia lakukan, baik di dunia apalagi di akhirat.
Sikap ini merupakan ciri orang yang tak memiliki perhitungan dan
pandangan ke depan. Bahkan, saking bodohnya, ia justru memiliki
perhitungan dan pandangan yang terbalik. Karena ia mengharapkan hasil
yang berlawanan dari yang dikerjakan.

Apa sebenarnya yang disebut hawa nafsu? Hawa nafsu banyak ragamnya,
termasuk kecenderungan pada yang baik mupun yang buruk. Manusia secara
fitrah memang memiliki nafsu atau kesukaan terhadap hal-hal tertentu.
Dalam Al-Qur`an disebutkan,

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang
diingini, yakni wanita wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan dan sawah ladang ..." (QS. Ali Imran : 14)


Sikap mencintai seperti ini wajar. Tapi Islam mengajarkan bagaimana
seseorang menempatkan sikap itu secara proporsional. Kecenderungan
pada wanita, harta, anak-anak dan masalah keduniaan adalah hal yang
mubah. Bahkan bisa meningkat pada tingkatan wajib. Karena bagaimanapun
dunia merupakan tempat manusia hidup. Dinamika kehidupan akan mati
tanpa wujudnya kecenderungan tersebut.

Tapi bila kecintaan itu sudah melewati batas, bisa jadi terlarang.
Ketika sarana dan prasarana hidup difungsikan menyimpang dari tujuan
asasi kehidupan ini sendiri -ibadah kepada Allah- maka di sanalah
seseorang dikatakan telah menjadi hamba hawa nafsunya, karena hawa
nafsu itu telah menjauhkannya dari Allah swt. Dalam hal inilah Allah
swt mencela perbuatan mengikuti hawa nafsu,

"Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allah." (QS. Shad : 26)


Hawa nafsu harus diarahkan kepada jalan yang benar. Diwarnai dengan
niat mencari ridha Allah, dan diarahkan sesuai tujuan ibadah kepada
Allah swt. Mencintai istri, anak, bekarja mencari nafkah, bisa menjadi
bernilai ibadah. Karenanya Rasulullah saw bersabda, "Tiadalah
sempurnya keimanan seorang mukmin sehingga ia menjadikan hawa nafsunya
mengikuti apa yang aku bawa." (HR. Imam Suyuthi)


(na)

Friday, July 31, 2009

PUISI CAK NUN



Allah sumber cahaya langit dan bumi
perumpamaan cahaya Allah
adalah misykat
adalah lubang tak tembus
di dalamnya ada pelita besar
pelita itu ada dalam kaca
kaca itu bercahaya-cahaya seperti mutiara
nyalanya dari minyak yang oenuh berkah
dari pohon zaitun
menerangi tanpa disentuh api
Cahaya di atas cahaya di atas
cahaya di atas
cahaya

Allah membimbing siapa yang dikehendaki
dan Ia buat perumpamaan bagi manusia
Allah Maha tahu atas segala sesuatu

(QS An-Nuur, 35)

Friday, July 17, 2009

NASEHAT USTMAN BIN AFFAN




(sumber: Majalah Tarbawi, Juni 2009)

Ada 6 hal yang harus ditakuti seorang mukmin:
1. Takut jangan-jangan Allah mencabut keimanannya,
2. Takut jangan-jangan malaikat pencatat amal menulis amal dengan catatan memalukan di hari kiamat
3. Takut jangan-jangan syaitan berhasil merusak amal yang kita kerjakan
4. Takut jangan-jangan malaikat Izrail mencabut nyawa saat kita lupa kepada Allah
5. Takut jangan-jangan dunia membuat kita terlena sehingga lupa urusan akhirat
6. Takut jangan-jangan keluarga kita telah menyibukkan kita untuk memenuhi urusannya sehingga melupakan ketaatan kepada Allah

Astaghfirullah...

Monday, June 29, 2009

SPEECHLLESS...

bila anda mengetahui orang yang anda kasihi hanya memiliki satu hari lagi sebelum dia meninggalkan kehidupan ini, apakah yang akan anda lakukan untuknya sekarang?

Bagi siapapun, kutipan kata bijak dari pak Mario Teguh ini, pasti membuat terhenyak, termangu, speechless. Seperti juga aku...

Bagaimana teman-teman, kira-kira apa yang akan engkau persembahkan?

Monday, June 15, 2009

SHALAT SUBUH...




Seorang pria bangun pagi-pagi buta utk sholat subuh di Masjid.
Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan menuju masjid, pria tersebut jatuh dan pakaiannya kotor. Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI, berjalan menuju masjid .

Dlm perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama! Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah.

Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid .

Di tengah jalan menuju masjid , dia bertemu seorang pria yg memegang lampu.

Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab "Saya melihat anda jatuh 2 kali di perjalanan menuju masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda."

Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid. Saat sampai di masjid , pria pertama bertanya kepada pria yang membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.

Pria kedua menolak.
Pria pertama mengajak lagi hingga berkali-kali dan, lagi, jawabannya sama.
Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat.

Pria kedua menjawab, "Aku adalah Setan."

Pria itu terkejut dengan jawaban pria kedua.
Setan kemudian menjelaskan, "Saya melihat kamu berjalan ke masjid, dan sayalah yg membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah memaafkan semua dosa-dosamu. Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja, kamu tetap memutuskan kembali masjid. Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu. Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa-dosa seluruh penduduk desamu, jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dengan selamat..."

Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya.

Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tau ganjaran yg akan kamu dapatkan dari segala kesulitan yang kamu temui dalam usahamu untuk melaksanakan niat baik tersebut.

sumber: NN

Thursday, June 11, 2009

HAMBA TERBAIK ALLAH...




Ciri dan identitasnya:

1. Tidak kenal sikap palsu, kamuflase, banyak tingkah, dan takabur (QS 25:63)

2. Ruang jiwanya dipenuhi perhatian dan kepedulian besar nan sungguh dalammencapai tujuan mulia mereka (QS 28:55)

3. Detik-detik malammereka teramat sangat berharga, diisi dengan ibadah muraqabatullah (QS 25:64; 17:79; 76:26)

4. Sangat risau dan amat takut akan azab neraka jahanam (QS 25:65-66; 2:3-4)

5. Mempunyai ukuran-ukurab yang jelas atas kebenaran dalam kehidupannya (QS 25:67; 17:29)

6. Tidak menyekutukan Allah, tidak menantang atau menyalahi-Nya (QS 25: 68-71)

7. Tidak menyia-nyiakan hak orang lain dan tidak menzalimi seorangpun (QS 25:72)

8. Hati mereka hidup subur dengan iman yang benar (QS 25:73; 8:2)

9. Mereka ingin kebaikan yang dilakukannya menjamah dan berlanjut untuk tiap generasi (QS 25: 74-76)

Tuesday, June 2, 2009

PUISI CINTA TUK ANANDA..




tiada terasa
anakku sudah remaja
ah Gusti Allah
waktu betapa cepat bergegas
meninggalkan beribu jejak

ah, acapkali kami alpa
anak ini hanya 12 tahun
hatinya sanggup didekap
sepenuh pelukan
sedang sesudahnya
hatinya sudah tertambat
pada teman sebayanya

kadangkala kumerenung
sudah berapa banyak bekalan
yang tlah kami siapkan
untuknya
sanggup menghadapi badai kehidupan
dengan setotal keyakinan
kepada Tuhannya
melawannya dengan
seutuh keberanian
akan tegaknya kebenaran
kebenaran hakiki Illahi

terus-terang
nyaris aku tak pernah yakin
makanya doa selalu teriring
untuknya
mohon perlindungan
Rabbnya
untuk selalu menjaga
melindunginya
karena Ia
sebaik-baik
penjaga dan penolong...

Wednesday, May 20, 2009

14 TIP PERKAWINAN HARMONIS



(sumber: Ita Dekritawati, Psi.)

1. Komunikasi Berkualitas

Komunikasi yang berkualitas tak dihitung dari seberapa sering kita berbicara dengan pasangan tetapi seberapa kuat komunikasi itu dapat memecahkan masalah yang terjadi. Contoh, ada persoalan dengan perilaku anak yang sering tantrum. Nah, suami dan istri perlu berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencari solusinya. Intinya suami istri merasa bertanggung jawab terhadap persoalan yang terjadi.

2. Pacaran Setelah Menikah

Akan sangat menyenangkan bila kita berkunjung ke tempat-tempat yang pernah kita datangi saat berpacaran, baik itu restoran, bioskop, tempat wisata, dan sebagainya. Kunjungilah berdua saja sambil sejenak melupakan masalah di rumah.

3. Hubungan Jasmani dan Bulan Madu Kedua

Hubungan jasmani merupakan ekspresi cinta yang sangat dalam. Lakukanlah kesepakatan bagaimana melakukan hubungan yang terbaik lewat pembicaraan tentang hasrat dan fantasi seksual yang kita inginkan. Tapi ingat, kepuasan seks tak tergantung seberapa sering kita melakukannya tetapi bagaimana kita berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangan. Intinya, kedua pasangan menikmati betul hubungan ini dengan baik, bukan semata-mata memenuhi kewajiban.

Sangat baik bila di waktu tertentu kita merancang hubungan jasmani ini dengan lebih spesial. Misal, melakukannya tidak di rumah melainkan di lokasi-lokasi spesial seperti hotel atau di tempat indah lain. Ambillah cuti 2-3 hari kemudian jadikan momen ini sebagai bulan madu kedua. Dengan suasana yang sangat spesial ini bisa menggelorakan kembali cinta pertama seperti saat belum ada anak-anak.

4. Saling Memaafkan

Cobaan terkadang membuat pasangan khilaf dan melakukan kesalahan. Diperlukan keluasan hati untuk bisa memaafkan kesalahan yang dilakukannya. Mungkin saja, karena tak kuat cobaan, dia berselingkuh. Bila kemudian dia mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, tak salah bila kita memberinya maaf.

Begitu pun dengan kesalahan-kesalahan kecil yang dia perbuat, harus dibukakan pintu maaf. Umpama, pasangan tak menepati janji untuk makan malam di rumah; jangan langsung kesal dan memarahinya tetapi lihat dahulu alasan kenapa dia mengingkarinya. Bila memang alasannya bisa diterima, segera berikan maaf. Penelitian menunjukkan, kemarahan dan kebencian merupakan pemicu hancurnya sebuah perkawinan. Dengan maaf, kebencian akan sirna dan membuat pasangan tidak saling menyakiti.

5. Saling Percaya dan Terbuka

Istri memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap aktivitas yang dilakukan suami bahwa dia tidak melakukan hal-hal negatif di kantor, misal. Begitu pun sebaliknya. Tentu harus dibarengi dengan kesungguhan masing-masing untuk tidak merusak keharmonisan lewat tindakan-tindakan negatif, seperti berselingkuh. Seandainya ada ganjalan atau pasangan punya pandangan berbeda, sebaiknya bicarakan secara terbuka. Istri maupun suami tak boleh egois untuk memaksakan kehendaknya, melainkan negosiasikan dan cari titik temunya agar aktivitas yang dilakukan berjalan nyaman dan tidak saling menyakiti.

Keterbukaan masing-masing terhadap aktivitasnya pun sangat penting terhadap tumbuhnya kepercayaan. Jangan menggunakan "topeng" untuk menutupi sesuatu, tetapi kembangkan kejujuran supaya setiap pasangan dapat mengenal watak, sifat, dan karakter masing-masing dengan baik.

6. Saling Menghargai

Bila kebetulan jabatan istri lebih tinggi dari suami tak harus membuatnya lebih tinggi hati sehingga menyepelekan suami. Begitu pula sebaliknya. Ketika keduanya beradu pendapat tentang suatu hal, maka masing-masing harus menghargai pendapat pasangannya. Penghargaan yang terkadang membuat pasangan begitu bahagia adalah kejutan-kejutan yang kita berikan. Saat ulang tahun misalnya, berikan hadiah-hadiah unik yang sangat disenangi pasangan. Tentu dia akan merasa sangat dihargai.

7. Memandang Positif Persoalan

Sangat wajar bila dalam rumah tangga muncul persoalan yang begitu pelik dan sulit dipecahkan bersama. Umpama, siapa yang harus mengurus anak di rumah dan siapa yang bekerja. Memang, umumnya suamilah yang bekerja dan istri menjaga anak. Namun bila gaji suami tak mencukupi atau istri punya karir yang bagus, tentu hal ini perlu dipecahkan. Untuk itu,setiap pasangan harus memandang positif persoalannya dengan mencari apa yang sebenarnya menjadi perhatian masing-masing.

Alasan istri bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan hidup memang sesuatu yang perlu dilakukan. Demikian pula dengan karier. Nah, pengurusan anak bisa dicarikan solusi bersama, apakah mencarikan pengasuh, mengatur jadwal bersama anak, memanfaatkan waktu libur lebih berkualitas, dan sebagainya. Terkadang, pendapat masing-masing sangat bertolak belakang, untuk itu atur waktu dan carilah tempat yang nyaman guna membicarakan masalah ini. Kesabaran dan kebijaksanaan sangat diperlukan supaya pernikahan tetap harmonis.

8. Menepati Komitmen Pernikahan

Saat menikah, tentu kita punya komitmen dengan pasangan. Misal, menerima pasangan apa adanya, suami bekerja sedangkan istri mengurus anak atau sebaliknya, kedua-duanya bekerja, memberi kebebasan suami atau istri berkarier, dan sebagainya. Nah komitmen-komitmen ini harus terus dipegang. Bila suatu saat terjadi konflik yang diakibatkan oleh pelanggaran pasangan terhadap komitmen yang sudah dibuat, berusahalah kembali mengingat komitmen-komitmen yang pernah dibuat saat menikah.

9. Saling Bergantung

Tak hanya istri yang harus bergantung pada suami atau suami yang bergantung pada istri tetapi keduanya harus saling bergantung. Hal ini sebagai wujud kalau kita dan pasangan merupakan pribadi yang menyatu. Dengan begitu bila ada kekurangan di masing-masing pihak bisa saling mengisi. Contoh, gaji suami yang tak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga bisa tercukupi oleh gaji istri. Karena kesibukannya, istri tak bisa mengantar anak ke sekolah, tak salah bila suami yang menggantikan perannya. Begitu seterusnya. Saling bergantung ini pun membuat kita tidak saling berlomba untuk menunjukkan peran yang terkadang menjadi salah satu pemicu pertengkaran.

10. Berbagi dalam Suka dan Duka

Pernikahan ibarat mengarungi lautan dengan perahu, maka kita harus saling bahu-membahu supaya perahu tidak terbalik atau karam hingga dapat menyeberangi lautan. Bila dalam pernikahan ada suka maka setiap pasangan harus merasakannya. Begitu pun bila ada duka, pasangan harus mengempatinya. Kemampuan berbagi rasa ini menjadi salah satu hal penting untuk mewujudkan perkawinan yang langgeng. Jangan sampai, bila pasangan punya masalah, kita bersikap tidak mau tahu. Sebaiknya, suami dan istri harus menjadi teman untuk berbagi sekaligus memberikan jalan keluar dan pemberi semangat.

11. Tidak Menjadi Pengatur

Mengatur supaya hubungan perkawinan menjadi harmonis dan berjalan dengan baik tak masalah. Namun bila mengaturnya sudah mendikte tentu akan menuai masalah. Umpama, suami selalu diatur oleh istri berapa rupiah harus menjatahkannya beli baju, jam berapa suami harus pulang kerja dan tidak boleh telat, dengan siapa saja suami/istri boleh bergaul. Tentu pendiktean ini akan membuat pasangan kesal sehingga memunculkan bom waktu yang terpendam. Bila memang ingin mengatur cobalah dengan cara yang bijaksana, dengan kata-kata halus, sambil memberi masukan yang disertai berbagai pertimbangan sehingga tanpa kesan mendikte.

12. Menjaga Kemesraan

Kemesraan hubungan tak hanya saat pacaran. Ketika sudah menikah pun harus terus dijaga supaya keharmonisan tetap terwujud. Mencium tangan atau pipi suami/istri saat akan berangkat kerja bisa menjadi sangat penting untuk keharmonisan. Tak hanya itu, kita juga bisa mewujudkannya lewat kata-kata halus, memberikan hadiah saat ulang tahun, berkata mesra, memberikan perhatian tulus saat pasangan sakit, dan sebagainya. Dengan kemesraan ini akan terus menggelorakan perasaan cinta sehingga tidak padam.

13. Tampil Menawan

Bayangkan, apa respons suami bila sepulang kerja mendapati istrinya berpakaian lusuh dan bau? Atau sebaliknya. Meskipun dia sangat mencitai pasangannya namun responsnya tidak sebaik bila istri maupun suami berpenampilan menawan. Berpenampilan menawan tak harus dengan baju bagus dan berbedak tebal tetapi bisa dengan berpakaian sederhana, rambut tidak acak-acakan, mandi, sangat baik bila memakai parfum. Dengan penampilan seperti ini tentu pasangan akan lebih senang tinggal di rumah.

14. Mencukupi Nafkah

Semua hal di atas mustahil berjalan dengan baik bila tak ada yang mencukupi kebutuhan rumah tangga. Umumnya, di masyarakat kita yang bertugas memberi nafkah adalah suami, maka suami harus berusaha untuk mencukupi segala kebutuhan rumah tangganya. Namun tak berarti istri terbebas dari tanggung jawab ini. Bila ternyata gaji suami kurang dan tak dapat memenuhi kebutuhan, tentu istri perlu membantu. Setidaknya, istri mengatur pengeluaran biaya rumah tangga dengan sebaik-baiknya.

Friday, May 1, 2009

SEBETULNYA HIDUP ITU SANGAT SEDERHANA




Sebetulnya hiudp itu sangat sederhana;
tetapi kita merumitkannya
dengan rencana
yang tidak kita laksanakan,
dengan janji
yang tidak kita penuhi,
dengan kewajiban
yang kita lalaikan,
dan dengan larangan
yang kita langgar

(mario teguh)

Monday, April 27, 2009

FIGHTING THE WRONG FIGHT


(MARIO TEGUH)

Anda hanya mendapat dari yang Anda kerjakan.
Janganlah memilih pekerjaan yang salah.
Dalam kehidupan, pertanyaan yang sebenarnya bukan apa yang Anda menangkan, tetapi apa yang Anda lakukan; karena yang Anda lakukan menentukan apa yang bisa Anda menangkan.
Jadi janganlah berlama-lama dalam kesadaran bahwa yang sedang Anda lakukan ini sebetulnya salah. Janganlah Anda biarkan diri Anda menua dalam pekerjaan yang menuntut penggunaan dari kelemahan-kelemahan Anda. Berjayalah dalam pekerjaan yang merayakan penggunaan dari kekuatan-kekuatan Anda.

Anda dikenal melalui pertarungan yang Anda pilih.
Apa pun yang Anda perjuangkan melalui pertarungan - pasti merupakan sesuatu yang penting bagi Anda. Itu sebabnya Anda dikenal dari apa yang Anda pertarungkan.
Bila hal-hal kecil yang tidak penting, cukup untuk membuat Anda bertarung dengan orang lain, maka kecil dan tidak pentinglah Anda. Bila yang Anda perjuangkan adalah hal-hal yang baik dan bernilai, maka baik dan bernilailah Anda.

Kelas Anda ditentukan oleh keberanian Anda.
Keinginan Anda tidak penting, bila untuk pencapaiannya Anda tidak bersedia untuk bertarung.
Banyak orang sangat berani dalam mengkhayalkan keberhasilan dirinya, tetapi menjadi kerdil saat betul-betul harus memenuhi syarat bagi keberhasilannya dalam pekerjaan yang nyata.
Mereka yang pemberani, tidak selalu mengawali perjuangan mereka dengan impian, tetapi selalu memasuki pekerjaan dengan kesungguhan, dan menghadapi kesulitan dengan keberanian. Itu sebabnya, keinginan yang sesungguhnya hanya pantas berlabuh di hati seorang pemberani.

Janganlah menjadi petarung yang setengah-setengah.
Janganlah menjadikan hidup ini setengah matang.

Segeralah selesaikan hal-hal yang akan membentuk keutuhan dari rencana-rencana Anda.
Janganlah impian Anda mengenai keberhasilan di masa depan, menjadikan Anda penunda yang menafikan keberhasilan yang bisa Anda capai hari ini.
Bersikaplah seperti para petarung sejati.
Janganlah memukul, karena itu akan menyakiti orang lain. Janganlah juga, memukul dengan lunak, karena balasan yang Anda terima bisa keras. Tetapi, bila Anda harus memukul, pukullah dengan keras.

Periksalah kembali prinsip-prinsip Anda.
Memang dibutuhkan sebuah keberanian, untuk tewas mempertahankan sebuah prinsip; tetapi dibutuhkan keberanian yang jauh lebih besar lagi untuk tetap hidup dan berjaya dalam sebuah prinsip. Dan itu adalah pilihan yang lebih baik.
Bukan ukuran Anda yang penting untuk memenangkan sebuah pertarungan, tetapi ukuran keberanian dalam diri Anda; yaitu keberanian untuk tampil dan bekerja sesuai dengan prinsip Anda.

Tidak ada hal besar yang bisa dicapai oleh seseorang yang keras kepala -karena prinsipnya; tetapi yang berjalan tanpa arah, meneriakkan keraguan dan keluhan; tetapi menolak nasihat-nasihat baik, hanya karena itu bukan prinsipnya.
Bila yang disebutnya prinsip itu, mengkerdilkannya mungkin itu bukan prinsip, atau dia harus memeriksa kembali sikapnya dalam berprinsip.

Dia yang menyerang harus menang, dan dia yang bertahan harus selamat.
Apakah Anda termasuk yang agresif dalam hidup ini, yang memasuki jam-jam kerja dengan kekuatan hati yang menyerang dengan kekuatan penuh?
Ataukah Anda yang hanya bertahan, yang berupaya selamat dari hari ke hari, tanpa pandangan yang jelas kapan kira-kira kelambatan dan ke-rata-rata-an ini berakhir? Yang manakah Anda? Maka ..., bertindaklah lebih berani.

Bila Anda berseteru dengankehidupan ini, semua orang akan menjagokan kehidupan.
Dari semua hal yang bisa Anda jadikan musuh dan Anda salahkan atas kelambatan laju kehidupan ini, jangan pernah musuhi kehidupan.
Bila pendapat buruk Anda tentang kehidupan ini benar, maka tidak akan ada orang lain yang tampil sebagai pemenang. Tetapi, telah banyak orang yang menang, dan masih akan ada banyak lagi yang menang.
Kehidupan ini harus dimenangkan, didapatkan, dan dialami dengan baik -lalu bagaimana mungkin Anda bisa memenangkan, mendapatkan, dan mengalami kehidupan dengan kecintaan, bila Anda mengeluhkan kehidupan?
Sayangilah kehidupan ini, dan dia akan mengembalikan kebaikan Anda itu dengan kualitas hidup yang lebih besar dari yang Anda berikan.

Betapa pun Anda menyukai permainan, janganlah bermain-main dengan hidup Anda.
Bagi anak-anak, sebuah permainan adalah kehidupan yang sesungguhnya, dan dengan permainan itulah mereka membangun pengertian dan kemampuan untuk menjadi pemenang yang anggun dalam hidup mereka nanti.
Sebagian dari anak-anak itu memang tumbuh menjadi pemenang, tetapi sebagian yang lain tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang masih bermain-main dengan kehidupan mereka.

Hidup ini bersikap ramah kepada kita yang bersungguh-sungguh untuk mencapai kemenangan, dan bersikap keras kepada mereka yang tidak terlibat secara sadar dalam prosesi kehidupan.
Dan yang menyayat hati para pemerhati adalah bila mereka yang dikerasi agar sadar itu, menerima kesulitan hidup sebagai nasib buruk seolah-olah upaya mereka tidak akan mendatangkan perubahan.
Seandainya saja, mereka mau mendorong diri mereka untuk mencoba, untuk berjuang dalam perjuangan yang benar.