Wednesday, February 13, 2008

BULANG (IBU-IBU PETUALANG): PASAR MALAM

Malam mingguan enaknya ke mana yah? Eit, jangan mikir beduaan man, ini mah rombongan keluarga bahagia (haha, insya Allah!) yang tengah bosan dengan rutinitas menyantap nasgor di ujung jalan sono :)

So setelah melalui perundingan ketat bin alot (ini rapat apa makan steik sih??), dilampiri dengan berbagai dalih dan survei lumayan matang dari bos besar penyandang dana, akhirnya lahirlah keputusan untuk menjajal pecel lele di perkampungan atas masjid. Ok, kemon lah yaw...

Naah, ceritanya malam minggu lalu itu kali ketiga rombongan kami mencicipi hidangan di situ, alhamdulillah cocok aja tuh. Bukan tipe
high-involvement alias rewel dengan aneka toto dahar, servis, plus senyum angkuh sang pelayan (wong ini just using gerobax dorong sederhana and 2 mbak-mbak muda usia yang manis-manis kok),pokoke asal mak nyuuus, hayo sergap, laparrr soalnya, hehe...

Usai melicintandaskan hidangan pecel lele/ayam, sang bos mengajak untuk melewati rute lain, itung-itung nunggu 'makanan turun' kate orang tua dulu. Dasar nasib bae', kok ya pas digelar pasar malam, pasar rakyat gitu deh. Ada es krim seribu (paket serbu serba lima rebu McD mah lewat!), VCD bajakan, mainan anak-anak, mesin jahit portabel mirip straples, juga... komidi putar (untung inget udah tua, kalo ngga mah, langsung mbayar trus naik deh, hehe...)! Setelah penjajagan 1 babak, akhirnya lembar-lembar ribuan mulai meluncur mulus dari dompet mboke and bapake anak-anak. Es krim dan mesin jahit sukses diboyong, total ngga sampe 20 rebu sodara-sodara! Asyik kan?

Yang fantastis adalah antusiasme warga, rakyat kecil, hilir-mudik ngga putus-putus. Dan yang bikin takjub, kayaknya bukan cuma warga sekitar situ yang tertarik berkunjung, tapi juga yang lokasi rumahnya agak jauh. Terus-terang, perasaan waktu itu overwhelmed lah, campur-aduk, antara senang, miris, sedih, betapa sodara-sodara kita, sebangsa setanah air, yang kebetulan masuk golongan menengah ke bawah, begitu haus dengan hiburan seperti pasar malam begini. Harapan sih sering-sering aja diadain lah, buat sarana refeshing, penghilang stres di tengah kecemasan membumbungnya harga-harga, ancaman penggusuran, juga kecemasan di-PHK.

Setuju sodara-sodara??

Tuesday, February 12, 2008

MARI KITA BERSYUKUR!

Oleh: Arvan Pradiansyah

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada supir pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?" Si supir menjawab,"Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai" Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"

Supirnya menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan."

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.

Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita
miliki, kita tak pernah menjadi ''kaya'' dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang 'kaya'. Orang yang 'kaya' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.

Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.

Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu." Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di
tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab,"Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu".

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak
kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga".

Monday, February 11, 2008

ARTI SEBUAH KEMENANGAN

sumber: Motivasi_net


Kemenangan bukanlah hanya ketika kita berhasil mengalahkan
lawan di suatu pertandingan. Dan bukan hanya ketika kita
berhasil mencapai prestasi terbaik. Bahkan, bukan hanya
ketika kita berhasil mendapatkan semua yang kita inginkan
dalam hidup ini.

Tapi, kemenangan adalah saat di mana kita dapat melawan suatu
kegagalan. Saat di mana kita dapat mengatasi musibah. Saat di
mana kita dapat bangkit dari suatu keadaan yang menyedihkan.
Dan, saat di mana kita merasa sangat terpuruk namun kita mampu
berjuang menghancurkan semua cobaan itu.

Kemenangan adalah saat di mana kita dapat menjadikan itu
semua sebagai pertanda betapa sayangnya Sang Maha Pencipta
kepada kita. Saat dimana kita menyadari betapa kita dapat
belajar banyak dari semua kegagalan yang kita alami.

Dan, kemenangan adalah saat di mana kita melangkah begitu
mantap dan yakin bahwa kita begitu hebat untuk sekedar melawan
suatu kegagalan kecil. Saat dimana kita dapat mengalahkan diri
kita sendiri, sehingga kadang-kadang kita merindukan sebuah
kegagalan. Karena kegagalanlah yang membuat kita sadar di mana
kita berada.

Sunday, February 10, 2008

HAJATAN SPESIAL (part 2)

Sambutan dari bapak ketua panitia menghentikan segala bisik-bisik, suara baritonnya membelah pagi yang cerah.
“Baiklah, sebelum kita mulai, mari kita berdoa dulu, menurut agama dan kepercayaan masing-masing, semoga hajatan kita ini dapat berjalan sukses dan lancar. Berdoa mulai!”
Selesai disumpah, para panitia yang menempati posnya masing-masing menunjukkan sejumlah perlengkapan yang ada kepada para hadirin. Amplop coklat berisi berita acara, surat suara, kotak suara yang tegas-tegas dipertunjukkan kenihilan isinya, dan seterusnya, dan seterusnya.
“Lama betul tho? Kapan nyoblosnya?”
Ada decak kesal dari Pak Priyo, mantan wiraswastawan.
“Sabar, Pak Priyo. 5 tahun sekali Pak,”
Anak-anak juga mulai tak bisa disuruh tenang.
“Jangan lupa bu, moncong putih yo, he… he… he…”
“We, moncong apa mencong kowe(17)?”
“Oo ndak boleh, ingat tanggal 5 coblos nomor 5 ya pak?”
“Puyer aja, puyer 16, dari pada pusing-pusing.”
Anak-anak makin ramai, terkikik-kikik mereka di luar arena TPS 179 itu. Mungkin jauh di lubuk hatinya, mereka ingin menggoda hati orang-orang dewasa yang masih kebingungan menentukan pilihannya pada PEMILU kali ini, atau mungkin juga sebenarnya mereka kepingin ikutan nyoblos…
Lik Darmo buru-buru meredam kegembiraan dan keiisengan anak-anak itu.
“Heisya, anak-anak! Ojo berisik tho. Kampanye wis lewat. Main sana!”
Kejahilan anak-anak tadi tanpa disengaja menurunkan ketegangan dan keseriusan di wajah para pemilih.
“Nah, bapak-bapak, ibu-ibu. Jangan berlama-lama di bilik suara ya, waktu kita dibatasi. Jam 1 harus selesai lho. Sambil menunggu giliran, pikir-pikir lagi parpol yang mau dicoblos. Itung-itung ya seperti kita dulu mau menikah tho? Biar banyak yang naksir dan kita juga banyak suka, kan ndak bisa semuanya kita kawini tho? Emang kita bangsa kucing opo?”
Tawa membahana mendengar banyolan Ketua KPPS.
“Sekarang waktunya kita milih. Kemarin-kemarin kampanye sudah, kita sudah lihat mana yang menarik hati. Ojo pilih sing bohongi rakyat lho ibu-ibu, bapak-bapak. Sopo sing entuk(18) serangan fajar yo ben(19), uangnya disimpen tapi ojo coblos partainya. Setuju??”
“Setuju!!”
Satu persatu pemilih dipanggil, masuk ke dalam bilik. Ada yang keluar dari bilik suara dengan wajah cerah dan langkah mantap, tapi banyak juga yang lama sekali mendekam di sana hingga harus diingatkan petugas KPPS.
“Ayo mbah Suro, ojo kesuwen(20). Yang lain nunggu giliran.”
Dengan lantang, Mbah Suro malah balas menjawab dari balik bilik,”habis bingung, ra kewaca(21) nama caleg DPDnya. Yo wis (22) lah, ben cepet(23), pilih sing jenenge apik, rupane bagus wae(24).”
“Kalau aku tadi ngitung kancing Pakne…,” istri mbah Suro nyeletuk.
Panitia KPPS mesem-mesem saja mendengarnya. Ah, sosialisasi calegnya ndak sampe rupanya… Lha, panitianya saja bingung mau pilih siapa, ndak ada yang kenal satu pun, apalagi rakyat kecil!
Begitulah. Keramaian masih terus berlangsung, tak terusik oleh matahari yang kian mencorong mencurahkan panasnya. Justru makin sore tatkala masa pencoblosan telah digantikan masa penghitungan suara, suasana tambah semarak.
“Hore, hidup PKS. Aku bilang opo, tuh menang dari moncong putih. We!”
“Belum tentu ye. Partainya SBY tuh juga jago…”
“Kuning, kuning.”
“Ijo, ijo, P3 hidup! Ijo, ijo, hidup PKB, membela yang benar!”
“Plok, plok, plok…”
“Eh, ada juga yang milih partai ora ngetop (25)tho?”
Riuh rendah suara anak-anak yang dominan ditambah bunyi tetabuhan kaleng bertutup kertas semen membuat TPS itu penuh gelak tawa. Saksi-saksi partai yang tadinya kecut dan tegang menyaksikan partainya ketinggalan jauh dari partai ‘kuda hitam’ maupun partai lama, menjadi cair hatinya. Ini beneran hajatan, tenan!!

*****

Jam sepuluh malam…
Mata-mata mulai memberat, bantal dan kasur yang empuk menghimbau-himbau, memanggil pulang. Namun pekerjaan masih menumpuk.
“Ngopi lagi Pak Marto, ojo turu(26) lho. Berita Acarane durung mbok gawe(27).”
“Wuah, uenake justru turu Pak Joko, ora nulis 11 rangkap Berita Acara kuwi. Hoaah…”
Setelah dikilik-kilik sesama panitia lainnya, dan menyeruput kopi sumbangan ibu-ibu dus kripik singkong, mata Pak Marto sedikit bisa diganjal. Mulai kerja lagi, ayo… ayo… Demi pemerintah, kita kan rakyat yang patuh tho?? Demi uang 80 ribu, hoahh…
Tiba-tiba… DUARR!!
“Hujan, hujan!! Pak Marto, bangun pak! Sampeyan keturon(28) yo?”
“Astaghfirullah! Hh, di mana?”
“Cepetan, selamatkan kertas-kertas, surat suara. Demi negara, demi pemerintah.”
“Hoahh, hidup rakyat!”

Cimanggis, 8 April 2004

terj.:
Kowe: kamu (kasar)
Yo ben: ya biar
Sopo sing entuk: siapa yang dapat
Ojo kesuwen: jangan kelamaan
Ra keawaca: tidak terbaca
Yo wis, ben cepet; ya sudah, biar cepat
Sing jenenge apik, rupane bagus wae: yang namanya bagus, wajahnya ganteng saja
Ora ngetop: tidak terkenal
Ojo turu: jangan tidur
Durung mbok gawe: belum dibuat
Keturon: ketiduran

Wednesday, February 6, 2008

HAJATAN SPESIAL (part 1) -- SAINGAN RUSH HOUR!

(cerpenku untuk mengenang peristiwa penting di tahun 2004, monggo dibaca utk liburan, harpitnas, or apalah namanya, hehe... Sebelumnya mohon maaf bagi yang bukan orang Jawa ya, karena bertaburan basa jawa, sama sekali tak bermaksud SARA lho...)


Pagi buta…
Suara-suara gaduh mulai membahana sementara adzan Subuh belum lagi berkumandang.
“Pak, bangun tho Pak! Nanti terlambat kita. Orang-orang keburu pada datang lho!”
Suara Bu Marto nyaring dan garing membangunkan suaminya dengan semangat 45. Pak Marto, yang baru bisa tertidur jam 12 malam tadi, tergeragap dan langsung melompat dari tempat tidurnya.
“Jam berapa tho Bune?”
“Jam empat! Panjenengan durung dahar(1), mana mesti pake kain dan beskap tho Pak? Lama lho…”
“Hhh…,”Pak Marto menguap lebar seraya menyandarkan tubuhnya yang rada-rada remuk redam didera kantuk yang sangat.
Melihat gelagat suaminya yang akan melanjutkan upacara tidurnya, Bu Marto buru-buru bertindak, “Ealah, Pakne! Ojo ngono tho(2). Apa kata orang nanti? Bisa-bisa panjenengan dimarahi Pak Camat! Ayo tho, aku kan ikut malu kalo panjenengan telat.”
Capek diusik-usik sang istri tercinta, sekaligus menyadari kebenaran omongannya, setengah berat hati Pak Marto beranjak ke kamar mandi. Mandi dengan sabun wangi, sekalian ambil wudhu. Ah, segarrr!
Usai shalat, dengan dibantu istri, Pak Marto bergegas mengenakan kain batik, beskap, dan blangkon yang sudah disiapkan istrinya sedari malam. Baru disadari ternyata…
“Waduh Bune, susah tenan iki(3), kainnya ora pas terus tibane(4). Walah, aku wis kemeringet(5). “
Setengah putus asa bercampur geli, Pak Marto memandang hasil pekerjaannya yang kacau-balau. Kain batiknya kusut, naik-turun di sana-sini. Wajah istrinya tak kalah kusut dan memelas, warna-warni bak pelangi. Tapi dasar ibu-ibu, idenya ada saja.
“Gini saja, tak panggil Lik Darmo yo, haqqul yakin dia bisa bantu. Kan dulu dia bekas abdi dalem kraton tho Pakne? Ndak papa sekalian ajak sarapan di sini?”
Diberi solusi jitu, Pak Marto mengangguk-angguk kegirangan. “Sip, sana berangkat!”
Tak berapa lama, Lik Darmo pun datang. Kerja sama yang brilian, meski sempat diseling debat sana-sini dari Pak Marto (karena kurang sreg dengan kain yang seumur-umur baru dipakainya), akhirnya membuahkan hasil sempurna. Untung saja ndak pake keris segala, bisa-bisa aku kecucuk(6) kerisku sendiri, gerutu Pak Marto separo geli. Setengah jam kemudian, mereka berdua sudah duduk manis menekuri pisang goreng dan teh nasgitel (panas, legi, kenthel)(7).
“Alhamdulillah, selesai juga ya Lik. Matur nuwun(8) lho atas bantuannya…”
“Ah, sama-sama dik Marto. Sampeyan(9) belum biasa saja pake kain, jadi repot begitu… Ojo dilihat repotnya dik, kapan lagi kita jadi panitia hajatan istimewa koyo ngene tho? Jarraang, ora kabeh wong iso(10). Nah, ini kehormatan buat kita tho?”
“Betul itu. Lha gimana ndak istimewa, tempatnya saja dihias apik tenan(11) tho, melebihi kondangane(12) nak Larasati, anake Pak Lurah kuwi…,” Bu Marto datang menyeletuk sembari membawa sepiring ubi rebus.
“Oho, lain Bune. Acarane nak Laras ndak ada apa-apanya dibanding hajatan hari ini. Kalah jauh, makanya baru tengah malam tempat hajatannya selesai dihias. Coba mengko deloken(13), apik tenan!,”Pak Marto setengah berpromosi.
“Iyo, percoyo, percoyo.”

*****

Jam tujuh kurang seperempat…
Orang-orang bergerombol menyemuti satu lokasi. Ada janur-janur kuning, kain batik pesisiran membentang, buah-buah kelapa bergelantungan di beberapa titik sentral. Tidak lupa, ada sayup-sayup terdengar suara gending lembut menyeruak dari radio tape yang diletakkan di balik meja panitia. Menggugah, mengundang decak kagum. Wuah, pancen oye eh… pancen oke!
“Syerius tho panitia hajatane?,”mbah Sungkono yang giginya sudah banyak yang ompong, memandangi hasil karya Pak Marto dan kawan-kawan dengan terpesona.
“Lha iyo Mbah. Harus serius! Kesempatan tho, kapan lagi? Ora mben dino, apa meneh ben taon tho(14)?”
Cucunya, yang antri di belakangnya menunggu giliran, menyahut. Dia melihat sekeliling. Agak aneh memang, sepagi ini kampung kecilnya sudah ramai ditingkahi suara-suara penghuninya. Ibu-ibu, yang biasanya masih sibuk menyapu halaman rumah dengan dasternya, sudah berdandan rapi, ayu-ayu dengan bedak dan gincu tebal, konde gedhe dan kebaya ketat memeluk tubuh mereka. Bapak-bapak ndak kalah gaya, kemeja batik lengan panjang plus sepatu yang berusaha disemir kuat-kuat. Hm, lain memang, sangat spesial!
Lokasi hajatan spesial itu sendiri tidaklah spesial. Hanya di jalan kampung, gang kecil tepatnya. Berbentuk persegi panjang, dibatasi bambu-bambu pembatas dan kain terpal sederhana sumbangan warga. Ada tanda MASUK, KELUAR, juga sejumlah panitia yang begitu gagah dengan beskap dan blangkonnya, termasuk dua orang hansip dan saksi-saksi. Semua tersenyum sumringah, ya panitia, ya hadirinnya. Bedanya, tiap peserta kondangan diberi nomor setelah menyodorkan kartu biru kepada panitia yang duduk dekat pintu masuk.
“Monggo(15) Mbah, nomor 15. Ditunggu saja ya?” Pak Marto menyapa dengan ramah. Ada kehangatan menjalar menyaksikan antusiasnya warga mendatangi lokasi hajatannya. Ndak sia-sia aku kerja sampai malam tadi, bisiknya dalam hati. Diliriknya anggota panitia lain, wajahnya sama, sumringah, penuh bunga.
“Ndak lama tho nak Marto?”
“Insya Allah ndak.”
Orang-orang berkerumun, tertib menanti giliran. Meski banyak juga yang tidak mendapat tempat duduk, keringat mulai berleleran, kipas-kipas mungil mulai dikeluarkan dari tas kondangan yang meling-meling (16) ditimpa cahaya surya yang mulai membara, tak ada keluhan berarti. Roman-roman muka masih seantusias semula. Termasuk anak-anak kecil yang kerjanya berseliweran sembari lari-lari kecil mengitari lokasi hajatan.
“Tes, tes! Ehem, ehem… “
“Sst, sst, tenang, tenang semua! Anak-anak, huss, ojo ribut!”
Suara-suara mendesis berusaha membantu kekhusyukan acara hajatan kali ini. Tak lama sesaat setelah jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi…
“Assalamu’alaikum. Selamat pagi untuk semua warga Rt 001 . Terima kasih atas kehadirannya. Bla… bla…”
---

terj:
Panjenengan durung dahar: Kamu belum makan
Ojo ngono: jangan begitu
Susah tenan iki: susah sekali
Ora pas terus tibane: Tidak pas/tepat betul jatuhnya
Wis kemeringet: sudah berkeringat
Kecucuk: tertusuk
Panas, legi, kenthel: panas, manis, kental
Matur nuwun: terima kasih
Ora kabeh wong iso: tidak semua orang bisa
Apik tenan: bagus sekali
Kondangane: undangannya
Mengko deloken: nanti dilihat
Ora mben dino, apa meneh ben taon tho: Tidak setiap hari, apalagi tiap tahun
Monggo: Silakan
Meling-meling: berkilap-kilap

Tuesday, February 5, 2008

MENULIS DENGAN KELOPAK MATA? SUBHANALLAH!

SUMBER: Forum_LingkarPena@yahoogroups.com

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana seseorang menulis buku bukan dengan tangan atau anggota tubuh lainnya, tetapi dengan kedipan kelopak mata kirinya?

Jika Anda mengatakan hal itu mustahil untuk dilakukan, tentu saja karena Anda belum mengenal orang yang bernama Jean Dominique Bauby. Dia pemimpin redaksi majalah Elle, majalah kebanggaan Prancis yang banyak digandrungi wanita di seluruh dunia.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk tetap menulis dan membagi kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan. Setelah tahu apa yang dialami Jean dalam menempuh hidupnya, Anda pasti akan berpikir, "Seberat apa pun problem, stres, dan beban hidup kita, semua tidak ada artinya dibandingkan dengan penderitaan Jean!"

Pada tahun 1995, ia terkena stroke yang akhirnya melumpuhkan seluruh tubuhnya. Ia mengalami penyakit yang disebut Lockedin Syndrome, kelumpuhan total yang disebutnya, "Seperti pikiran di dalam botol." Ia memang masih dapat berpikir jernih, tetapi sama sekali tidak dapat berbicara atau bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi, itulah cara dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga, dan teman-temannya.

Beginilah cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat dan teman-temannya) menunjukkan huruf demi huruf dan Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. "Bukan main,"begitu pasti komentar Anda.

Ya, begitu juga reaksi semua orang yang membaca kisahnya. Bagi kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, bila kita disuruh menulis dengan cara Jean, barangkali kita harus menangis dulu selama berhari-hari. Bukannya buku yang jadi, kita malah minta ampun agar tidak disuruh melakukan apa yang diperbuat Jean untuk menulis bukunya.

Tahun 1996, ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya secara sangat istimewa. Judulnya, "Le Scaphandre" et le Papillon (The Bubble and The Butterfly). Insya Allah filmnya akan beredar tahun 2008 nanti. Film ini pun masuk nominasi Golden Globe.

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS Ar Rahman , 13)

Monday, February 4, 2008

DOA

kepada pemeluk teguh

oleh CHAIRIL ANWAR


Tuhanku
dalam termangu
aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling


13 November 1943