oleh: SAYYID QUTHB
Ya Allah,
jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin,
jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya
agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah,
jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana,
jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya
agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati,
jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang
yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah,
jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya
agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah,
jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu
melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah,
jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah,
jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas
sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini
telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan
limpahan keimanan kepada-Mu
dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Monday, April 28, 2008
Wednesday, April 23, 2008
RASA APA YANG TERSELIP DI SANA
oleh: SENO GUMIRA AJIDARMA
rasa apa yang terselip disana?
angin datang menggetarkan permukaan danau
puluhan helai daun melayang terapung
kita sama-sama tersiksa dengan peristiwa ini
siapa menyelipkan aku disana?
ada yang berteriak
walaupun angin telah berhenti
tolong! kudengar teriakan itu sayup-sayup
di ujung yang lain dari bumi dan angin
kau mencariku di tiap tiupan
seakan kau dengar
aku berteriak-teriak memanggilmu
dari tiap celah angin
yogya 1976
rasa apa yang terselip disana?
angin datang menggetarkan permukaan danau
puluhan helai daun melayang terapung
kita sama-sama tersiksa dengan peristiwa ini
siapa menyelipkan aku disana?
ada yang berteriak
walaupun angin telah berhenti
tolong! kudengar teriakan itu sayup-sayup
di ujung yang lain dari bumi dan angin
kau mencariku di tiap tiupan
seakan kau dengar
aku berteriak-teriak memanggilmu
dari tiap celah angin
yogya 1976
Tuesday, April 22, 2008
DZIKIR
(RESENSI BUKU MIFTAH FARIDL)
PENERBIT: PUSTAKA, BANDUNG
216 HALAMAN
"Allah SWT menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan, dan segala apa yang ada di dalamnya itu bersifat tidak abadi. Derita dan gembira akan datang silih berganti menghadang setiap insan, berputar sedemikian rupa bagaikan putaran roda pedati, dan itu justru menimbulkan dinamika harmonis. Sebab kenikmatan baru dapat dirasakan sebagai suatu yang benar-benar nikmat apabila diawali dengan kepahitan dan kesulitan.
Pada saat kita beroleh kesuksesan dan kebahagiaan, janganlah kita larut dan lupa diri karena sebaiknya kita bersiap-siap untuk menghadapi kegagalan dan penderitaan. Namun demikian, kebahagiaan tersebut dapat lestari pabila kita pandai bersyukur..."
Tercenung, terpana, tanpa terasa dan tiada tertahan, airmata ini menetes, membanjir membasahi pipi ini, sajadah ini, mukena ini, juga lantai masjid ini... Allah, sungguh kata-kata yang bernas dari seorang pak Miftah. Kepala, isi pikiran, hati nurani, laksana dipukul godam, kesadaran diguncang begitu hebat bahwa sejatinya Allah tidak akan pernah terlena dan abai terhadap makhluk-Nya, ciptaan-Nya. Begitu mudah kita terbuai nafsu oleh kesenangan-kesenangan duniawi, baik berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang bertumpuk, kuda pilihan, sawah, dan sebagainya, padahal segala kesenangan itu akan hilang lenyap.
Membaca buku ini seolah kita sedang dituntun pada realita bahwa kita bukan siapa-siapa, entah dia yang merasa seorang manajer yang hebat dengan ilmu mumpuni dan banyak dikagumi, wanita dengan karir cemerlang, ibu rumah tangga yang sukses mengasuh buah hati, ataupun seorang presiden sekalipun. Perbanyak dzikir, karena kita tiada 'kan pernah tahu, seberapa banyak tabungan amal salih kita akan sanggup menolong kita dari panasnya api neraka, juga mungkin saja amal salih itu ibarat angin, tak berbekas akibat ketidakikhlasan kita, sifat riya dan ujub kita, atau kekeliruan cara kita melakukannya (entah dengan menyakiti hati orang lain, melawan hukum Allah, meringan-ringankan larangan-Nya, dan sebagainya). Astaghfirullah, sesungguhnya tiada seorangpun, tanpa kecuali, boleh menepuk dada bahwa dia pasti akan masuk surga-Nya...
Satu lagi buku yang menurutku bisa melengkapi buku ini adalah buku DOA, karangan pak Miftah juga, yang di dalamnya kita leluasa membaca doa apa saja, sesuai kondisi kita. Ini sekaligus menguatkan esensi Qur'an sebagai obat pelipur lara, dan hanya Allah jua sebaik-baik tempat curhat, tanpa batas waktu, tanpa khawatir ikhtilat, tanpa cemas akan biaya, tanpa gundah munculnya riak cemburu...
Cukuplah Allah bagiku,
cukuplah Allah bagiku,
tidak ada tuhan selain Dia.
Hanya kepada-Nya jua
hamba bertawakal...
(QS At-Taubat, 129)
PENERBIT: PUSTAKA, BANDUNG
216 HALAMAN
"Allah SWT menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan, dan segala apa yang ada di dalamnya itu bersifat tidak abadi. Derita dan gembira akan datang silih berganti menghadang setiap insan, berputar sedemikian rupa bagaikan putaran roda pedati, dan itu justru menimbulkan dinamika harmonis. Sebab kenikmatan baru dapat dirasakan sebagai suatu yang benar-benar nikmat apabila diawali dengan kepahitan dan kesulitan.
Pada saat kita beroleh kesuksesan dan kebahagiaan, janganlah kita larut dan lupa diri karena sebaiknya kita bersiap-siap untuk menghadapi kegagalan dan penderitaan. Namun demikian, kebahagiaan tersebut dapat lestari pabila kita pandai bersyukur..."
Tercenung, terpana, tanpa terasa dan tiada tertahan, airmata ini menetes, membanjir membasahi pipi ini, sajadah ini, mukena ini, juga lantai masjid ini... Allah, sungguh kata-kata yang bernas dari seorang pak Miftah. Kepala, isi pikiran, hati nurani, laksana dipukul godam, kesadaran diguncang begitu hebat bahwa sejatinya Allah tidak akan pernah terlena dan abai terhadap makhluk-Nya, ciptaan-Nya. Begitu mudah kita terbuai nafsu oleh kesenangan-kesenangan duniawi, baik berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang bertumpuk, kuda pilihan, sawah, dan sebagainya, padahal segala kesenangan itu akan hilang lenyap.
Membaca buku ini seolah kita sedang dituntun pada realita bahwa kita bukan siapa-siapa, entah dia yang merasa seorang manajer yang hebat dengan ilmu mumpuni dan banyak dikagumi, wanita dengan karir cemerlang, ibu rumah tangga yang sukses mengasuh buah hati, ataupun seorang presiden sekalipun. Perbanyak dzikir, karena kita tiada 'kan pernah tahu, seberapa banyak tabungan amal salih kita akan sanggup menolong kita dari panasnya api neraka, juga mungkin saja amal salih itu ibarat angin, tak berbekas akibat ketidakikhlasan kita, sifat riya dan ujub kita, atau kekeliruan cara kita melakukannya (entah dengan menyakiti hati orang lain, melawan hukum Allah, meringan-ringankan larangan-Nya, dan sebagainya). Astaghfirullah, sesungguhnya tiada seorangpun, tanpa kecuali, boleh menepuk dada bahwa dia pasti akan masuk surga-Nya...
Satu lagi buku yang menurutku bisa melengkapi buku ini adalah buku DOA, karangan pak Miftah juga, yang di dalamnya kita leluasa membaca doa apa saja, sesuai kondisi kita. Ini sekaligus menguatkan esensi Qur'an sebagai obat pelipur lara, dan hanya Allah jua sebaik-baik tempat curhat, tanpa batas waktu, tanpa khawatir ikhtilat, tanpa cemas akan biaya, tanpa gundah munculnya riak cemburu...
Cukuplah Allah bagiku,
cukuplah Allah bagiku,
tidak ada tuhan selain Dia.
Hanya kepada-Nya jua
hamba bertawakal...
(QS At-Taubat, 129)
Monday, April 21, 2008
RESCHEDULE...
Siapa bilang cuma para pekerja kantoran yang kerap rutin mengganti jadual kerjanya? Baru saja kusadari, ternyata semenjak menikah, menjadi seorang istri, dan kemudian ibu rumah tangga, entah sudah berapa kali aku kudu harus menskedul ulang jadual harianku.
Contoh gampangnya seperti ini. Sesudah menikah dan sempat tinggal di rumah ibu mertua, aku harus menyisihkan waktu untuk mencuci dan membuat sarapan sebelum ngantor bersama suami, dan sore hari mendapat tugas memasak makan malam/menyetrika, plus beres-beres menuci piring. Naah, tugas-tugas baru yang memunculkan skedul baru kualami ketika putriku lahir dan kian bertambah 'gubrax' ketika menempati rumah baru dan adiknya menyusul. Soal kapan memutar cucian, memasak, menyapu halaman, menyuapi anak, sampai makan dan ngaso. Sebegitu ketatnya sampai lumayan sangat menegangkan kalau hal-hal yang sudah tersusun sedemikian detilnya ujug-ujug menyimpang di luar rencana, entah anak atau aku sendiri tiba-tiba jatuh sakit, pembantu ngga ada angin ngga ada katrina eh... badai tahu-tahu minta pulang, barang bawaan anak ketinggalan dan harus segera diantar, dan sebagainya. Rambut bisa sekonyong-konyong kribo dan kepala pun bertanduk saking korsletnya. Dan berubahlah jadi monster super stress, hehe...
Sekarang sih monsternya alhamdulillah sudah agak jarang nongol, bukan diruqyah bukan diapa-apain juga, tapi lagi belajar untuk lebih nyantai menerima suratan takdir eh... maksudnya out of well-planned action . Halah gaya, kayak manajer aja! Eh iya dong, seorang istri+ibu adalah multi super manajer lho, manajer keuangan+delegasi tugas+waktu yang gajinya tersimpan rapi di surgawi jikalau ikhlas. ya tho? Setuju kan para bapak merangkap suami??
Sebulanan ini lagi-lagi aku harus belajar adaptasi dengan jadual baruku. Yang tadinya Senin adem tentrem di rumah karena itu hari beres-beres (bisa setengah harian ngelap-ngelapnya, ya buku+majalah+koran semingguan, suvenir cuilik-cuilik, kertas-kertas ulangan pasukan ceria, mainan, de el el, belum geser-geser kursi, angkat karpet, sidak kulkas.. Wow, kaget sendiri ternyata buanyak banget yah?? Kembali ke laptop, sejak merambah ikutan senam, dengan berat hati upacara di atas agak dieliminir, setengah tega dan tutup mata deh pokoknya untuk tidak memaksakan diri melakukannya. Bukan apa-apa, bisa habis waktu!
Oya, ini baru ngomongin hari Senin, belum jadual setor hafalan surah yang berkembang menjadi 2 hari (bareng dengan jadual renangku) dan di jam yang super ajaib, jam 11. Kebayang asyiknya kan nyetor pas panas mentari di atas ubun-ubun? Pinginnya sih pagi-pagi selesai renang, tapi mau bagaimana lagi, jam yang tersedia tinggal itu, hehe... Emangnye siape lu, kali kalau guru ngajinya orang betawi asli macam si Pitung bisa nyaut kayak gini :D
Tanya-tanya pada Abang, suami tercinta, soal menyiasati jadual baru ini, beliau pun cuma bisa tersenyum simpul, dan akhirnya menyarankan untuk trial and error saja, sambil direka-reka plus-minusnya. Ok deh Bos, let me try!
So, makanya minta maaf banget kalau tulisanku mungkin tidak bisa serutin dulu (sampai suami dengan bergurau bilang merasa terancam denganku, hehe...), karena masih dalam masa adaptasi itu. Doakan ya bisa tetap istiqamah menyapa dan berbagi ilmu/pengalaman hidup...
Contoh gampangnya seperti ini. Sesudah menikah dan sempat tinggal di rumah ibu mertua, aku harus menyisihkan waktu untuk mencuci dan membuat sarapan sebelum ngantor bersama suami, dan sore hari mendapat tugas memasak makan malam/menyetrika, plus beres-beres menuci piring. Naah, tugas-tugas baru yang memunculkan skedul baru kualami ketika putriku lahir dan kian bertambah 'gubrax' ketika menempati rumah baru dan adiknya menyusul. Soal kapan memutar cucian, memasak, menyapu halaman, menyuapi anak, sampai makan dan ngaso. Sebegitu ketatnya sampai lumayan sangat menegangkan kalau hal-hal yang sudah tersusun sedemikian detilnya ujug-ujug menyimpang di luar rencana, entah anak atau aku sendiri tiba-tiba jatuh sakit, pembantu ngga ada angin ngga ada katrina eh... badai tahu-tahu minta pulang, barang bawaan anak ketinggalan dan harus segera diantar, dan sebagainya. Rambut bisa sekonyong-konyong kribo dan kepala pun bertanduk saking korsletnya. Dan berubahlah jadi monster super stress, hehe...
Sekarang sih monsternya alhamdulillah sudah agak jarang nongol, bukan diruqyah bukan diapa-apain juga, tapi lagi belajar untuk lebih nyantai menerima suratan takdir eh... maksudnya out of well-planned action . Halah gaya, kayak manajer aja! Eh iya dong, seorang istri+ibu adalah multi super manajer lho, manajer keuangan+delegasi tugas+waktu yang gajinya tersimpan rapi di surgawi jikalau ikhlas. ya tho? Setuju kan para bapak merangkap suami??
Sebulanan ini lagi-lagi aku harus belajar adaptasi dengan jadual baruku. Yang tadinya Senin adem tentrem di rumah karena itu hari beres-beres (bisa setengah harian ngelap-ngelapnya, ya buku+majalah+koran semingguan, suvenir cuilik-cuilik, kertas-kertas ulangan pasukan ceria, mainan, de el el, belum geser-geser kursi, angkat karpet, sidak kulkas.. Wow, kaget sendiri ternyata buanyak banget yah?? Kembali ke laptop, sejak merambah ikutan senam, dengan berat hati upacara di atas agak dieliminir, setengah tega dan tutup mata deh pokoknya untuk tidak memaksakan diri melakukannya. Bukan apa-apa, bisa habis waktu!
Oya, ini baru ngomongin hari Senin, belum jadual setor hafalan surah yang berkembang menjadi 2 hari (bareng dengan jadual renangku) dan di jam yang super ajaib, jam 11. Kebayang asyiknya kan nyetor pas panas mentari di atas ubun-ubun? Pinginnya sih pagi-pagi selesai renang, tapi mau bagaimana lagi, jam yang tersedia tinggal itu, hehe... Emangnye siape lu, kali kalau guru ngajinya orang betawi asli macam si Pitung bisa nyaut kayak gini :D
Tanya-tanya pada Abang, suami tercinta, soal menyiasati jadual baru ini, beliau pun cuma bisa tersenyum simpul, dan akhirnya menyarankan untuk trial and error saja, sambil direka-reka plus-minusnya. Ok deh Bos, let me try!
So, makanya minta maaf banget kalau tulisanku mungkin tidak bisa serutin dulu (sampai suami dengan bergurau bilang merasa terancam denganku, hehe...), karena masih dalam masa adaptasi itu. Doakan ya bisa tetap istiqamah menyapa dan berbagi ilmu/pengalaman hidup...
Wednesday, April 16, 2008
UNIK BIN ANTIK DARI PADANG
Berkisah tentang Sumatera Barat, ternyata masih menerbitkan imajinasi akan keelokannya. Subhanallah ya, mata seolah dibuka lebar-lebar, panorama alam negeri kita sungguh tidak kalah dengan negara tetangga, bahkan mungkin Singapura dan Malaysia bertekuk lutut! Tetirah lalu sekaligus jadi sarana pembelajaran bagi kami, orang tua dan anak-anak, untuk senantiasa memanjat syukur atas karunia tak ternilai ini sekaligus tidak mudah silau oleh gemerlap promo negeri jiran dengan rayuan mautnya tuk beranjangsana ke sana...
Hari ini tanpa sengaja, terbaca olehku catatan unik di secarik kertas, tentang seluk-beluk tanah kelahiran Siti Nurbaya dan Malin Kundang ini. Beberapa di antaranya adalah nama kota yang sempat terpampang di papan jalan, kota Lubuk Mata Kucing. Aha, kontan dan spontan mata-mata indah para penggemar kucing langsung berbinar-binar. Sayang seribu sayang, tak ada kerumunan kucing di sana, sama sekali tak melibatkan kucing seekorpun, karena kata pak supir, di sana hanya ada kolam renang/pemandian dan pesantren. Atau sang kucing-kucing itu mesantren dan sigap berenang? wallahu'alam :)
Kali lain, berlabuhlah kami di Masjid Raya Bayur, di tepi jalan saat ingin istirah menuju Danau Maninjau. Terpacak pandangan, antik nian masjid besar ini, akulturasi menawan antara pagoda dan rumah gadang. Di mukanya ada air mancur gemulai memancar, di bagian belakang tersedia kolam ikan, dengan tempat wudhu resik. Bagian dalamnya pun tak kalah unik, tiang-tiang kayu coklat tua terpancang kokoh menyangga atap, meski menurut suami tercinta, agak timpang dengan kegemilangan arsitektur luarnya.
Kontras dengan masjid di atas, Masjid Jihad di kota Padang panjang cabang Koto Baru, justru membetot atensi dengan kebersahajaannya. Ciri atap rumah gadang tak ditinggalkan, semburat warna merah marun. Kekhasannya terpatri pada letaknya yang jauh menjorok di bawah jalan raya, layaknya sang pengunjung harus hati-hati berakrobat menuruni jalan semen yang cukup terjal. Juga kolam-kolam besar di sisi kiri-kanan bagian muka, mengurangi terik serta menghadirkan kesejukan.
Taman Makam Pahlawan Bahagia, Batu Sangkar. Itu jadi bahan diskuasi tak berkesudahan di antara kami, dijejali pikiran iseng. Siapakah yang bahagia, apakah sang pahlawan yang terbaring bersemayam di sana sempat merasakan bahagia itu, kenapa pula dinamakan demikian, atau apakah pihak kerabatnya yang justru berbahagia telah menunaikan baktinya menguburkan sang pahlawan bangsa di TMP tersebut? Lagi-lagi wallahu'alam... Tingallah pak supir yang senyum-senyum kecut menyeringai, ini keluarga tak kalah unik bin antik dengan kota yang dikunjunginya, mungkin... :D
Hari ini tanpa sengaja, terbaca olehku catatan unik di secarik kertas, tentang seluk-beluk tanah kelahiran Siti Nurbaya dan Malin Kundang ini. Beberapa di antaranya adalah nama kota yang sempat terpampang di papan jalan, kota Lubuk Mata Kucing. Aha, kontan dan spontan mata-mata indah para penggemar kucing langsung berbinar-binar. Sayang seribu sayang, tak ada kerumunan kucing di sana, sama sekali tak melibatkan kucing seekorpun, karena kata pak supir, di sana hanya ada kolam renang/pemandian dan pesantren. Atau sang kucing-kucing itu mesantren dan sigap berenang? wallahu'alam :)
Kali lain, berlabuhlah kami di Masjid Raya Bayur, di tepi jalan saat ingin istirah menuju Danau Maninjau. Terpacak pandangan, antik nian masjid besar ini, akulturasi menawan antara pagoda dan rumah gadang. Di mukanya ada air mancur gemulai memancar, di bagian belakang tersedia kolam ikan, dengan tempat wudhu resik. Bagian dalamnya pun tak kalah unik, tiang-tiang kayu coklat tua terpancang kokoh menyangga atap, meski menurut suami tercinta, agak timpang dengan kegemilangan arsitektur luarnya.
Kontras dengan masjid di atas, Masjid Jihad di kota Padang panjang cabang Koto Baru, justru membetot atensi dengan kebersahajaannya. Ciri atap rumah gadang tak ditinggalkan, semburat warna merah marun. Kekhasannya terpatri pada letaknya yang jauh menjorok di bawah jalan raya, layaknya sang pengunjung harus hati-hati berakrobat menuruni jalan semen yang cukup terjal. Juga kolam-kolam besar di sisi kiri-kanan bagian muka, mengurangi terik serta menghadirkan kesejukan.
Taman Makam Pahlawan Bahagia, Batu Sangkar. Itu jadi bahan diskuasi tak berkesudahan di antara kami, dijejali pikiran iseng. Siapakah yang bahagia, apakah sang pahlawan yang terbaring bersemayam di sana sempat merasakan bahagia itu, kenapa pula dinamakan demikian, atau apakah pihak kerabatnya yang justru berbahagia telah menunaikan baktinya menguburkan sang pahlawan bangsa di TMP tersebut? Lagi-lagi wallahu'alam... Tingallah pak supir yang senyum-senyum kecut menyeringai, ini keluarga tak kalah unik bin antik dengan kota yang dikunjunginya, mungkin... :D
Tuesday, April 15, 2008
SEHAT? SUBHANALLAH INDAHNYA...
Alhamdulillah hari ini bisa juga daku menembus kevakuman blog ini sekitar 1 pekanan. Maaf untuk para pelanggan setia (hehe, lebih bae' ge-er dah daripada minder kan??), yang mungkin udah bolak-balik ngelongok blog ini kok kagak ada kemajuan alias apdet-nya. Insya Allah niat dan semangat kembali dikobarkan, horaaass!
Semingguan lalu, suami tercinta jatuh sakit, tumbang kelelahan juga karena kena radang tenggorokan. Meskipun hanya 2 hari beliau bertahan istirahat di rumah, tapi hingga akhir pekan (bertepatan dengan pilkada Jawa Barat) kelihatan kondisi kesehatannya belum pulih betul. Masih tersisa bersin di sana-sini dan senyumnya belum merekah laksana bunga mekar di taman (ciee, sok puitis ah...).
Ngomongin soal kesehatan, kayaknya memang lagi musim sakit. 2 orang teman kantor suami juga sakit, sementara tetangga -- seorang ibu dengan 3 anak balita -- harus kehilangan bayinya karena pendarahan selama 10 hari terus-menerus. Masuk pekan ini, ada berita suami sahabat harus menjalani operasi pemasangan pen di tulang punggungnya, dan harus dirawat inap selama 1 minggu menunggu pemulihan.
Aah... entah kenapa ya, ketika sampai kabar berita demikian, kita seolah terhenyak, disadarkan, betapa sehat itu mahal harganya, betapa menjadi sehat itu sebuah karunia-Nya, yang baru diresapi nikmatnya saat kita terpuruk digempur aneka penyakit. Bukankah sehat ini juga salah satu dari 5 masa yang diingatkan Allah SWT, yang dititahkan-Nya untuk dijaga, sebelum datang masa/waktu sakit. Dijaga lewat makanan bergizi, olahraga, juga puasa/detoks, dan pembersihan alam pikiran kita.
Buat rekan-rekan, para sahabat, yang kini masih terbaring lemah, syafahumullah, semoga Allah menyembuhkanmu, meluruhkan dosa-dosamu pabila sabar tiada keluh-kesah dalam deritamu... Aamiin...
Semingguan lalu, suami tercinta jatuh sakit, tumbang kelelahan juga karena kena radang tenggorokan. Meskipun hanya 2 hari beliau bertahan istirahat di rumah, tapi hingga akhir pekan (bertepatan dengan pilkada Jawa Barat) kelihatan kondisi kesehatannya belum pulih betul. Masih tersisa bersin di sana-sini dan senyumnya belum merekah laksana bunga mekar di taman (ciee, sok puitis ah...).
Ngomongin soal kesehatan, kayaknya memang lagi musim sakit. 2 orang teman kantor suami juga sakit, sementara tetangga -- seorang ibu dengan 3 anak balita -- harus kehilangan bayinya karena pendarahan selama 10 hari terus-menerus. Masuk pekan ini, ada berita suami sahabat harus menjalani operasi pemasangan pen di tulang punggungnya, dan harus dirawat inap selama 1 minggu menunggu pemulihan.
Aah... entah kenapa ya, ketika sampai kabar berita demikian, kita seolah terhenyak, disadarkan, betapa sehat itu mahal harganya, betapa menjadi sehat itu sebuah karunia-Nya, yang baru diresapi nikmatnya saat kita terpuruk digempur aneka penyakit. Bukankah sehat ini juga salah satu dari 5 masa yang diingatkan Allah SWT, yang dititahkan-Nya untuk dijaga, sebelum datang masa/waktu sakit. Dijaga lewat makanan bergizi, olahraga, juga puasa/detoks, dan pembersihan alam pikiran kita.
Buat rekan-rekan, para sahabat, yang kini masih terbaring lemah, syafahumullah, semoga Allah menyembuhkanmu, meluruhkan dosa-dosamu pabila sabar tiada keluh-kesah dalam deritamu... Aamiin...
Thursday, April 10, 2008
SUARA
Oleh: Taufiq Ismail
Deretkan awan, pelangi, dengan rambutmu merah-ungu
Taburkan pelan, pelangi, sepanjang lengkung lenganmu
Panorama yang kemarau teramat kering
Daunan berjuta. Angin menjadi hening
Tiada terasa lagi di mana suara memanggil-manggil
Tiada suara lagi betapa cahaya makin mengecil
Pohon-pohon redup dan berbunga di bukit dan pesisir
Kemarauku siang, dinginku maJam yang menggigil
Di sanalah dia bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Ketika langit seolah menutup dan kau amat pucat
Di hutan selatan cahayamu pelan berlinangan
Melintas jua ke ambang pasar, pada bayang-bayang jambatan
Tiada terasa lagi di mana cahaya berhenti mengalir
Tiada bintik lagi ketika bintang dalam fajar
Dan pada pilar-pilar langit
Awan pun bersandar
Di sanalah kau bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Setiap terasa lagi suara memanggil-manggil
Pada pilar-pilar langit. Di puncak-puncaknya
Suara Engkau yang merdu
Suara sepi yang biru.
1965
Deretkan awan, pelangi, dengan rambutmu merah-ungu
Taburkan pelan, pelangi, sepanjang lengkung lenganmu
Panorama yang kemarau teramat kering
Daunan berjuta. Angin menjadi hening
Tiada terasa lagi di mana suara memanggil-manggil
Tiada suara lagi betapa cahaya makin mengecil
Pohon-pohon redup dan berbunga di bukit dan pesisir
Kemarauku siang, dinginku maJam yang menggigil
Di sanalah dia bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Ketika langit seolah menutup dan kau amat pucat
Di hutan selatan cahayamu pelan berlinangan
Melintas jua ke ambang pasar, pada bayang-bayang jambatan
Tiada terasa lagi di mana cahaya berhenti mengalir
Tiada bintik lagi ketika bintang dalam fajar
Dan pada pilar-pilar langit
Awan pun bersandar
Di sanalah kau bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Setiap terasa lagi suara memanggil-manggil
Pada pilar-pilar langit. Di puncak-puncaknya
Suara Engkau yang merdu
Suara sepi yang biru.
1965
Subscribe to:
Posts (Atom)