Warteg, konotasi apa yang terbayang di benak kita mendengar kata ini? Sederhana, 'ramesan', bangku-bangku kayu panjang, kumuh, atau mungkin iiih, ogah ah makan di situ? Yah, aku sih ngga bisa menyalahkan orang yang berpikiran negatif dengan warteg, mungkin saja memang itulah stereotipe umum yang terbangun subur selama ini.
Melalui perjalanan panjang dan penuh liku (cie, puitis ngga??), setelah merasakan aura sekaligus rasa hidangan dan embel-embel lain (kebersihan, senyum ramah, kerapian, de el el), akhirnya tibalah kami pada kesimpulan bahwa ternyata, sekali lagi ternyata, tidak semua warteg layak menyandang predikat "kumuh dan zorrok". Ada kok warteg yang oke banget, sehingga ngangeni kami untuk selalu datang dan datang lagi.
Mungkin hampir tiap bulan atau paling sedikit 2 kali sebulan, pada hari Ahad, seusai menggenjot sepeda dengan semangat 45, berlabuhlah kami di sebuah warteg depan pasar. Sang Ibu pemilik warteg dengan ramah selalu menyapa, anak-anak tak pernah luput disapanya, mau pesan apa. Sabar, penuh senyum, tidak tergesa-gesa atau memburu-buru bila kami merenung terlampau lama soal menu (ini mau ngelamun apa makan sih??). Sederhana ya pasti (kalau ngga, of course dia udah sulap jadi resto atau bistro), tapi pemandangan apik dan bersih itu selalu tampak. Dan yang paling menakjubkan tentu ketika makan di warteg adalah harga yang fantastis murah buangets! Contohnya ketika pekan aku terkapar itu, suami menyuruhku untuk sekalian beli menu makan siang, dan total jenderal dengan menu sarapan (2 mi goreng plus telur dan 2 nasi rames) hanya 24 ribu! Subhanallah, aku sampai bolak-balik meminta si mbaknya untuk menghitung ulang, ya kenanya cuma segitu.
Bisa aja sih ada yang berkilah aah, mungkin cuma segelintir warteg yang kayak begitu, kebanyakan mah ngga asyik. Kan bisa aja kita seleksi dulu, liat penampakan luar (emang hantu, hehe...) juga gimana sekilas lingkungan sekitarnya. Itung-itung sedekah lah, sekalian bantu perekonomian rakyat kecil, jangan cuma makan di tempat-tempat 'sophisticated' en bergengsi semacam Pizza Hut, JCo, ataw yang lainnya.
Wednesday, February 27, 2008
Monday, February 25, 2008
HARGA-HARGA MELONCAT TINGGI DI TRAMPOLIN
Hari-hari belakangan ini, dikabarkan daging lenyap dari pasaran. Diawali harga yang melambung tinggi, demo solidaritas para penjual daging di pasar tradisional, sampai mogok jualan. Yang bikin trenyuh, tadi pagi sempat kuintip update news di acara "Good Morning" Trans-TV, para penjual merelakan sebagian keuntungannya demi mengikat hati pelanggannya agar tidak lari. Duh...
Khusus untuk keluarga kami, kehilangan daging dari pandangan sesungguhnya tidak terlalu mengganggu. Bukan karena pasti kebeli (halah, sombongnya, ngga lah yaw...) tapi karena jarraaang banget kami mengomsumsi daging. Paling heibat ya ayam, paling sering en favorit adalah telur dengan aneka ragam racikan dan bentuk (dibalado, dadar, ceplok, tahu-telur, en so on...). Pernah suatu ketika suami tersayang terbelalak ketika mengetahui harga ayam kampung 50 ribu! Hah?? Yah, maklumlah bapak-bapak, ngga terpantaulah harga-harga sembako dan kawan-kawannya, kan waktunya sudah habis dengan urusan kantor.
Aku ingat betul, dulu ketika awal menikah, uang belanja rtku sebesar 150 ribu untuk sebulan (catatannya masih ada)! Sedap kan?? Nah sekarang, uang segitu cuma cukup untuk 5 hari, mengerikan ya? So untuk menarik nafas panjang supaya bisa makan dengan sederhana plus lumayan kenyang selama 30 harian, dibutuhkan dana nyaris 10 kali lipat. Oh, man!
Aku pernah bertanya ke tukang sayur langganan soal modalnya berdagang, dia bilang dulu (kayak nostalgia aja, jaman pak Harto almarhum katanya!), modalnya cukup 70 ribu, eh ndilalah sekarang kudu 700 ribu - 1 juta! Dan itupun belum tentu besoknya saat dia kembali berbelanja ke pasara, uang segitu cukup untuk membeli aneka pernak-pernik dagangannya.
Yang unik, komentar ibuku ketika aku ikut mengeluh soal harga yang menguamuk laksana banteng ketaton (hayo, apa artinya mbak Ely/Diah :)), beliau kok ya cuma berpesan pendek (bukan SMS yah, hehe...), "ya udah, beli aja sesuai uangmu, ngga kebeli ya udah, ojo ngedumel tho Nak?" Bener juga sih, artinya kan kita ngga usahlah neko-neko kepingin yang di luar kesanggupan kita, juga berarti belajar mengendalikan nafsu? Sederhana, simpel, tepat sasaran bukan? Jadi kalau memang kita sanggupnya beli telur, ya jangan beli ayam donk, juga kalau uangnya cuma cukup untuk tetelan, ya dilarang keras beli steik, apalagi beli steiknya di Jerman atau Hong Kong. Bukan apa-apa, jauhhhhh en berat diongkos :p
Khusus untuk keluarga kami, kehilangan daging dari pandangan sesungguhnya tidak terlalu mengganggu. Bukan karena pasti kebeli (halah, sombongnya, ngga lah yaw...) tapi karena jarraaang banget kami mengomsumsi daging. Paling heibat ya ayam, paling sering en favorit adalah telur dengan aneka ragam racikan dan bentuk (dibalado, dadar, ceplok, tahu-telur, en so on...). Pernah suatu ketika suami tersayang terbelalak ketika mengetahui harga ayam kampung 50 ribu! Hah?? Yah, maklumlah bapak-bapak, ngga terpantaulah harga-harga sembako dan kawan-kawannya, kan waktunya sudah habis dengan urusan kantor.
Aku ingat betul, dulu ketika awal menikah, uang belanja rtku sebesar 150 ribu untuk sebulan (catatannya masih ada)! Sedap kan?? Nah sekarang, uang segitu cuma cukup untuk 5 hari, mengerikan ya? So untuk menarik nafas panjang supaya bisa makan dengan sederhana plus lumayan kenyang selama 30 harian, dibutuhkan dana nyaris 10 kali lipat. Oh, man!
Aku pernah bertanya ke tukang sayur langganan soal modalnya berdagang, dia bilang dulu (kayak nostalgia aja, jaman pak Harto almarhum katanya!), modalnya cukup 70 ribu, eh ndilalah sekarang kudu 700 ribu - 1 juta! Dan itupun belum tentu besoknya saat dia kembali berbelanja ke pasara, uang segitu cukup untuk membeli aneka pernak-pernik dagangannya.
Yang unik, komentar ibuku ketika aku ikut mengeluh soal harga yang menguamuk laksana banteng ketaton (hayo, apa artinya mbak Ely/Diah :)), beliau kok ya cuma berpesan pendek (bukan SMS yah, hehe...), "ya udah, beli aja sesuai uangmu, ngga kebeli ya udah, ojo ngedumel tho Nak?" Bener juga sih, artinya kan kita ngga usahlah neko-neko kepingin yang di luar kesanggupan kita, juga berarti belajar mengendalikan nafsu? Sederhana, simpel, tepat sasaran bukan? Jadi kalau memang kita sanggupnya beli telur, ya jangan beli ayam donk, juga kalau uangnya cuma cukup untuk tetelan, ya dilarang keras beli steik, apalagi beli steiknya di Jerman atau Hong Kong. Bukan apa-apa, jauhhhhh en berat diongkos :p
Friday, February 22, 2008
MEMAKNAI HIDUP DENGAN SEDERHANA
Acapkali kita berfikir terlalu rumit dalam mencerna ritme hidup ini, padahal semua itu bisa diawali dari keseharian yang kita jalani. Ketika kita menyapu halaman, memandangi dedaunan yang berguguran, langit yang mendung menggantung, sebenarnya kita tengah dihadapkan pada drama kehidupan itu sendiri, bahwa hidup senantiasa seperti roda yang bergulir, kadang di atas, kadang pula di bawah, berpasangan antara suka dan duka, dan usia tua yang menjelang kala muda sudah berlalu, dan menyongsong ketiadaan...
Seperti itu pula yang sepatutnya bisa dihayati ketika kita melakukan aktivitas olahraga. Tatkala kita kayuhkan tangan dan kaki saat berenang, coba nikmati tiap ayunannya, insya Allah akan sangat berbeda dengan saat kita melakukannya tanpa penghayatan tanpa makna.
Alangkah nikmatnya, coba bayangkan betapa lebih terasa takzimnya waktu kita berlama-lama mengadu kepada-nya, tidak sekedar ritual ibadah belaka, sekedar memenuhi kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Meresapi tiap kalimat indah-Nya yang termaktub dalam kitab suci-Nya, merenunginya, merasakan betapa kecil dan tidak berartinya kita di hadapan Allah, membuat tiada celah bagi kita untuk bersikap digjaya atau takabur.
Mau mencoba?
Seperti itu pula yang sepatutnya bisa dihayati ketika kita melakukan aktivitas olahraga. Tatkala kita kayuhkan tangan dan kaki saat berenang, coba nikmati tiap ayunannya, insya Allah akan sangat berbeda dengan saat kita melakukannya tanpa penghayatan tanpa makna.
Alangkah nikmatnya, coba bayangkan betapa lebih terasa takzimnya waktu kita berlama-lama mengadu kepada-nya, tidak sekedar ritual ibadah belaka, sekedar memenuhi kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Meresapi tiap kalimat indah-Nya yang termaktub dalam kitab suci-Nya, merenunginya, merasakan betapa kecil dan tidak berartinya kita di hadapan Allah, membuat tiada celah bagi kita untuk bersikap digjaya atau takabur.
Mau mencoba?
Wednesday, February 20, 2008
RUSUH TAPI GEMBIRA, HOW IT COME??
"Wah, besok ya Kak? Ngasih apa nih kita?"
"Tau, yuk tanya Mama..."
"Psst...., gimana? Beli aja sama Mama ya?"
"Jadi patungan berapa-berapa nih?"
"Harganya 30 ribu, bagi 2 jadi 15 ribu per orang."
Dan wuzzzzz, berlarilah 2 orang ini mengambil tabungannya, diangsurkan padaku sejumlah 15 ribu, dan 'barang idaman' pun berpindah tangan, pagi itu, di sela kehebohan bersiap ke sekolah. Tapi ternyata 'upacara' ini belum usai...
"Dik, sini nyumbang seribu lagi, kakak mau beli bungkus bunga-bunga."
Si adik enteng aja mengangsurkan selembar ribuan (lagi) ke tangan kakaknya, siip dah...
"Eh Yusuf, sst...nya disimpan aja di lemari dulu ya, nanti ketahuan Papa lho."
"Ok."
Wuzz... kabur lagi dia ke atas, aku cuma bisa geleng-geleng bercampur geli melihat antusiasme mereka...
***
Pulang sekolah, anak-anak tidur siang sebentar. Dan sore itu, si kakak kembali sibuk dengan bungkus bunga-bunga dan segepok koran. Ini ngapain sih, dari tadi ceritanya full-misteri begini?? Hehe, tunggu dulu donk, sabar ya...
Dipatut-patutnya ukuran kertas dengan dus psst...nya, dan...
"Yaah Ma, ngga muat kalo pake dus susu, ganti aja ya?"
"Ya udah, ngga papa Nak, boleh aja."
Lantas, sibuk lagi dia -- sambil diawasi sang adik -- dengan koran-koran lama, dibungkusnya dus kecil itu satu persatu sehingga makin lama makin 'membesar', barulah ditutup dengan bungkus bunga-bunga tadi.
Eng ing eng, alhamdulillah jadi deh kado cantik usil bikinan anak-anak untuk... Papanya tercinta yang sedang milad alias ultah. Dasar anak-anak, jiwa isengnya muncul, ya koran lah diuntel-untel untuk kamuflase ukuran kado, ya bungkus bunga-bunga (pink lagi, hehe...) yang udah pasti ngga matching dengan ke-macho-an (halah, ini bahasa ngawur pisan!) Papanya. Anyway busway, tetep aja yang muncul kuat ke permukaan adalah betapa mereka -- dengan caranya yang unik bin antik -- menyayangi Papanya.
Bukan sekali ini Papanya jadi korban, aku malah paling sering jadi sasaran tembak (untungnya 'nyawaku' banyak, hehe... I'm still alive :)) Entah dihadiahi pas hari Ibu dengan aneka ragam bentuk, dari buku notes, pulpen fancy, atau sekedar torehan karya mereka. Apapun, semua terasa spesial karena kerusuhan gembira yang dilakukan kedua juniorku ini. Memang sih suatu kali ada efek sampingnya, yaitu curhat si adik bahwa dia merasa ditodong si kakak untuk urunan ("itu, kakak minta 10 ribu ke Yusuf, uang Yusuf jadi kurang deh", sambil mukanya ditekuk dan mulutnya cemberut). Ya udah, demi keamanan dan ketentraman bersama, kuganti uangnya sambil melipur laranya.
Aah, buat anak-anak, cinta bisa diwujudkan tanpa banyak tanya dan perenungan, tidak serumit yang dipikir para manusia dewasa. Setuju??
"Tau, yuk tanya Mama..."
"Psst...., gimana? Beli aja sama Mama ya?"
"Jadi patungan berapa-berapa nih?"
"Harganya 30 ribu, bagi 2 jadi 15 ribu per orang."
Dan wuzzzzz, berlarilah 2 orang ini mengambil tabungannya, diangsurkan padaku sejumlah 15 ribu, dan 'barang idaman' pun berpindah tangan, pagi itu, di sela kehebohan bersiap ke sekolah. Tapi ternyata 'upacara' ini belum usai...
"Dik, sini nyumbang seribu lagi, kakak mau beli bungkus bunga-bunga."
Si adik enteng aja mengangsurkan selembar ribuan (lagi) ke tangan kakaknya, siip dah...
"Eh Yusuf, sst...nya disimpan aja di lemari dulu ya, nanti ketahuan Papa lho."
"Ok."
Wuzz... kabur lagi dia ke atas, aku cuma bisa geleng-geleng bercampur geli melihat antusiasme mereka...
***
Pulang sekolah, anak-anak tidur siang sebentar. Dan sore itu, si kakak kembali sibuk dengan bungkus bunga-bunga dan segepok koran. Ini ngapain sih, dari tadi ceritanya full-misteri begini?? Hehe, tunggu dulu donk, sabar ya...
Dipatut-patutnya ukuran kertas dengan dus psst...nya, dan...
"Yaah Ma, ngga muat kalo pake dus susu, ganti aja ya?"
"Ya udah, ngga papa Nak, boleh aja."
Lantas, sibuk lagi dia -- sambil diawasi sang adik -- dengan koran-koran lama, dibungkusnya dus kecil itu satu persatu sehingga makin lama makin 'membesar', barulah ditutup dengan bungkus bunga-bunga tadi.
Eng ing eng, alhamdulillah jadi deh kado cantik usil bikinan anak-anak untuk... Papanya tercinta yang sedang milad alias ultah. Dasar anak-anak, jiwa isengnya muncul, ya koran lah diuntel-untel untuk kamuflase ukuran kado, ya bungkus bunga-bunga (pink lagi, hehe...) yang udah pasti ngga matching dengan ke-macho-an (halah, ini bahasa ngawur pisan!) Papanya. Anyway busway, tetep aja yang muncul kuat ke permukaan adalah betapa mereka -- dengan caranya yang unik bin antik -- menyayangi Papanya.
Bukan sekali ini Papanya jadi korban, aku malah paling sering jadi sasaran tembak (untungnya 'nyawaku' banyak, hehe... I'm still alive :)) Entah dihadiahi pas hari Ibu dengan aneka ragam bentuk, dari buku notes, pulpen fancy, atau sekedar torehan karya mereka. Apapun, semua terasa spesial karena kerusuhan gembira yang dilakukan kedua juniorku ini. Memang sih suatu kali ada efek sampingnya, yaitu curhat si adik bahwa dia merasa ditodong si kakak untuk urunan ("itu, kakak minta 10 ribu ke Yusuf, uang Yusuf jadi kurang deh", sambil mukanya ditekuk dan mulutnya cemberut). Ya udah, demi keamanan dan ketentraman bersama, kuganti uangnya sambil melipur laranya.
Aah, buat anak-anak, cinta bisa diwujudkan tanpa banyak tanya dan perenungan, tidak serumit yang dipikir para manusia dewasa. Setuju??
Tuesday, February 19, 2008
SPECIAL POEM FOR SPECIAL MAN IN MY LIFE...
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKA
Ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa : betapa sengit
cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit
menyisih awan hari ini; di bumi
meriap sepi nan purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
di sayap kupu-kupu, di sayap warna
swara burung di ranting-ranting cuaca,
bulu-bulu cahaya : betapa parah
cinta kita
Mabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah
(puisi: SAPARDI DJOKO DAMONO)
Happy milad, barakallah, dikaulah amanah terbaik yang direngkuh-Nya kepadaku...
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKA
Ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa : betapa sengit
cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit
menyisih awan hari ini; di bumi
meriap sepi nan purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
di sayap kupu-kupu, di sayap warna
swara burung di ranting-ranting cuaca,
bulu-bulu cahaya : betapa parah
cinta kita
Mabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah
(puisi: SAPARDI DJOKO DAMONO)
Happy milad, barakallah, dikaulah amanah terbaik yang direngkuh-Nya kepadaku...
Monday, February 18, 2008
TERKAPAR...
Seumur-umur, kayaknya baru Ahad kemarin ini bodi ini bener-bener kagak bisa diajak kompromi. Ini bukan ngomongin bodi mobil yang bisa diketok-mejik, tapi bodi alias badan sendiri! Karena kebetulan sedang tidak shalat, cuma sebentar terbangun waktu suami tercinta shalat Subuh, habis itu kok ya bablas, en bablasnya tidak tanggung-tanggung sodara-sodara, sampai 3 jam! Agak prihatin sih, hiks, apa beginilah nasib tambah umur, tambah payah... Ngaku tua tapi kok funky sih??
Yang sangaaaaat mengharukan, suamiku ngga pake ngomel ngga pake ngedumel istrinya kebluk begitu (hayo, yang ngga ngerti kebluk ngacung!). Tahu-tahu saat aku bangun, sudah ada secangkir kopi susu hangat di atas meja makan, cucian sudah diputar di mesin cuci, dan... pe-er setrikaan kemarin sudah rapi jali dikerjakannya. Ditilik-tilik dengan seksama, subhanallah... sama sekali ngga ada sedikitpun gurat jengkel atau pamrih minta diberi ucapan "haik, arigato!". Malah senyum senantiasa tersungging di bibirnya yang manis...
Kelihatannya memang terkaparnya daku di hari Minggu kelabu adalah berkat akumulasi aktivitasku yang seabrek 5 hari sebelumnya. Urusan sekolah, ngaji (setoran hafalan), me-time tapi sesungguhnya melototin celana training untuk suamiku (maklum, niatnya buat kado ultahnya), jenguk anaknya tetangga di RS, ikutan seminar, halah... pokoke beneran memeras otak, tenaga, en waktu off course lah...
Naah, heibatnya lagi, suami yang emang dari sononya irit bicara, include dulunya jarang mengumbar kata-kata romantis, hampir selalu sigap turun tangan membantu, bukan golongan bapak-bapak anggota NATO (not action talk only). So para ibu-ibu penggemar blog ini (hehe, ge-er!) hargailah jerih-payah usaha para suami tercinta, jangan cuma terpana oleh kata-kata gombal "Ai lap you..." ajah, setuju? We need action!!
Yang sangaaaaat mengharukan, suamiku ngga pake ngomel ngga pake ngedumel istrinya kebluk begitu (hayo, yang ngga ngerti kebluk ngacung!). Tahu-tahu saat aku bangun, sudah ada secangkir kopi susu hangat di atas meja makan, cucian sudah diputar di mesin cuci, dan... pe-er setrikaan kemarin sudah rapi jali dikerjakannya. Ditilik-tilik dengan seksama, subhanallah... sama sekali ngga ada sedikitpun gurat jengkel atau pamrih minta diberi ucapan "haik, arigato!". Malah senyum senantiasa tersungging di bibirnya yang manis...
Kelihatannya memang terkaparnya daku di hari Minggu kelabu adalah berkat akumulasi aktivitasku yang seabrek 5 hari sebelumnya. Urusan sekolah, ngaji (setoran hafalan), me-time tapi sesungguhnya melototin celana training untuk suamiku (maklum, niatnya buat kado ultahnya), jenguk anaknya tetangga di RS, ikutan seminar, halah... pokoke beneran memeras otak, tenaga, en waktu off course lah...
Naah, heibatnya lagi, suami yang emang dari sononya irit bicara, include dulunya jarang mengumbar kata-kata romantis, hampir selalu sigap turun tangan membantu, bukan golongan bapak-bapak anggota NATO (not action talk only). So para ibu-ibu penggemar blog ini (hehe, ge-er!) hargailah jerih-payah usaha para suami tercinta, jangan cuma terpana oleh kata-kata gombal "Ai lap you..." ajah, setuju? We need action!!
Friday, February 15, 2008
TOTTO CHAN...
Bagaimana reaksi Anda menghadapi anak yang seenaknya memanggil pengamen untuk berdendang kala tengah pelajaran? Atau sanggupkah Anda mendengar nano-nano kisah si anak dan duduk tenang mendengarkannya tanpa berkeluh-kesah selama 4 jam? Kalau itupun belum cukup memunculkan rasa tak berdaya pada diri Anda, coba bayangkan apa yang Anda lakukan menyaksikan seorang anak asyik mengaduk-aduk pembuangan WC untuk mencari dompet mungilnya yang meluncur mulus masuk lubang WC saat BAK?
Yang terbayang di benak Anda kemungkinan besar adalah memarahinya bukan? Banyak mendesah dan bolak-balik melirik jam? Mungkin juga alam pikiran kita lanagsung 'keriting' hingga perlu cepat-cepat di-rebonding? Hm, tampaknya kita perlu belajar banyak dari pak Sosaku Kobayashi, kepsek Sd Tomoe, Jepang, ketika menghadapi aneka tingkah-polah Totto Chan, sang murid baru pindahan, atau tepatnya, yang dipaksa keluar dari sekolah lama akibat perilakunya yang 'ajaib' tadi.
Membaca buku ini -- diterbitkan Gramedia, sebelumnya oleh penerbit kecil -- aku seolah disadarkan betapa pak Sosaku punya kadar kesabaran berlipat ganda, bahkan untuk adegan mengaduk-aduk isi pembuangan WC, beliau cukup berkomentar,"nanti dirapikan kembali ya?" sambil berlalu. Waah, mana mungkin begitu? Paling tidak kita akan mengawasi dengan penuh selidik, barangkali, apakah dia benar menepati janjinya merapikan hasil adukannya tadi? Eits, jangan sewot dulu dong hehe...
Menyimak kisah-kisah nyata yang dituturkan Tetsuko Kuroyanagi saat dia bersekolah dasar di SD Tomoe, kita seperti dihadapkan oleh banyak cita rasa model pendidikan Jepang, yang sedikit banyak nyaris sama dengan di Indonesia. ingat kan waktu kecil dulu ada saja guru 'killer' yang galak dan seolah tanpa kompromi dengan sifat anak-anak yang aneh bin ajaib seperti Totto? Nah di sekolah Totto yang lama, friksi yang kian tajam antara Totto vs guru akhirnya tak terelakkan sehingga mengakibatkan murid sejenis Totto harus angkat kaki.
Pada akhirnya, aneka kegembiraan, ragam life-skill untuk anak-anak kita, juga contoh kesabaran guru dan kepsek SD Tomoe semoga bisa menginspirasi kita semua... Beli yuk, insya Allah buku bagus nih, well-recommended!! Waspadalah eh... percayalah!!
Yang terbayang di benak Anda kemungkinan besar adalah memarahinya bukan? Banyak mendesah dan bolak-balik melirik jam? Mungkin juga alam pikiran kita lanagsung 'keriting' hingga perlu cepat-cepat di-rebonding? Hm, tampaknya kita perlu belajar banyak dari pak Sosaku Kobayashi, kepsek Sd Tomoe, Jepang, ketika menghadapi aneka tingkah-polah Totto Chan, sang murid baru pindahan, atau tepatnya, yang dipaksa keluar dari sekolah lama akibat perilakunya yang 'ajaib' tadi.
Membaca buku ini -- diterbitkan Gramedia, sebelumnya oleh penerbit kecil -- aku seolah disadarkan betapa pak Sosaku punya kadar kesabaran berlipat ganda, bahkan untuk adegan mengaduk-aduk isi pembuangan WC, beliau cukup berkomentar,"nanti dirapikan kembali ya?" sambil berlalu. Waah, mana mungkin begitu? Paling tidak kita akan mengawasi dengan penuh selidik, barangkali, apakah dia benar menepati janjinya merapikan hasil adukannya tadi? Eits, jangan sewot dulu dong hehe...
Menyimak kisah-kisah nyata yang dituturkan Tetsuko Kuroyanagi saat dia bersekolah dasar di SD Tomoe, kita seperti dihadapkan oleh banyak cita rasa model pendidikan Jepang, yang sedikit banyak nyaris sama dengan di Indonesia. ingat kan waktu kecil dulu ada saja guru 'killer' yang galak dan seolah tanpa kompromi dengan sifat anak-anak yang aneh bin ajaib seperti Totto? Nah di sekolah Totto yang lama, friksi yang kian tajam antara Totto vs guru akhirnya tak terelakkan sehingga mengakibatkan murid sejenis Totto harus angkat kaki.
Pada akhirnya, aneka kegembiraan, ragam life-skill untuk anak-anak kita, juga contoh kesabaran guru dan kepsek SD Tomoe semoga bisa menginspirasi kita semua... Beli yuk, insya Allah buku bagus nih, well-recommended!! Waspadalah eh... percayalah!!
Subscribe to:
Posts (Atom)