Thursday, July 31, 2008

LANGGANAN GITU LOH...

Ritual pit-pitan di hari Minggu sesungguhnya punya banyak visi. Ya olahraga, ya ajang mengakrabkan hubungan sekeluarga batih ini, ya tadabbur alam, juga ngga ketinggalan, ajang icip-icip alias jajan di luar, jajan murah-meriah tapi tetep bersih (itu syarat ngga bisa ditawar!)

Biasanya sih rute andalan ya menyusuri kali yang membelah kompleks perumahan kami terus nanjak menuju jalan ke arah Giant Cimanggis, langsung melaju ke arah pasar Palsigunung. Naah, dari lampu merah kami berbelok ke kiri dan berhenti deh di sebuah warteg sederhana langganan kami untuk nyarap.

Sang ibu penjaga warteg adalah seorang bersahaja yang ramah, keramahan khas perempuan Jawa (hayo ngacung yang orang Jawa!). Saking seringnya kami rutin breakfast di situ, beliau sampai hafal menu standar kami, anak-anak dengan mi gorengnya (hari merdeka bo, merayakan pekanan boleh icip-icip mi goreng instan,hehe...) dan mbok-bapake dengan favoritnya nasi rames isi telur dadar dkk.

Dua pekan lalu, sang ibu dengan wajah sumringah menyambut kedatangan kami sambil menyapa,"mi goreng ya dek? Pedes semua atau 1 pedes 1 ngga?". Kami tertawa geli, sang ibu rupanya sudah hafal di luar kepala pesanan anak-anak, sampai-sampai berakrab-akrab menggoda anak bungsuku yang belum doyan pedas. Tapi ternyata kejutannya tidak berhenti di situ, karena Yusuf, anakku itu, langsung menukas,"langganan gitu loh..." Bagaimana kami tidak terpingkal-pingkal, wong biasanya dia lebih pendiam dibanding kakaknya ini kok ya sempet-sempetnya nyamber omongan sang ibu? Siapa menyangka dia sekarang lambat-laun berubah?

Subhanallah, ternyata dari anak-anak kita pun bisa belajar banyak...

Wednesday, July 30, 2008

HAPUSKAN CITA-CITA DAN HARAPANKU SELAIN KEPADA ALLAH!

Tausiyah Aa Gym, Senin, 28 Juli 2008

HAPUSKAN CITA-CITA DAN HARAPANKU SELAIN KEPADA ALLAH!

Ciri-ciri kemunafikan adalah adanya perbedaan antara perkataan, isi hati, dan perbuatan. Dan ini salah satu hal yang perlu dicermati secara ekstra. Mengapa? Sadarkah kita bahwa saat tiap kali kita mendirikan shalat, sesungguhnya kita tengah berikrar di hadapan Allah, melalui doa "sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, semata-mata karena Allah..." Lantas, apa jadinya bila kita mengingkari janji maha itu, janji yang bukan main-main pertanggungjawabannya??

Kita patut bertanya, hidup kita ini sebenarnya kita abdikan untuk siapa? Sebagai kepala keluarga, seorang laki-laki menafkahi, jadi panutan/suri tauladan, ikhlas melakoninya. Sementara seorang istri, cinta-kasihnya kepada suaminya janganlah berlebihan, karena sama seperti dirinya, diapun lemah, tidak bisa memberi nafkah atau kebahagiaan, namun melalui dia/suami, Allah melimpahkan itu semua.

Lalu, apa sebab kita berbohong dan menjelma menjadi orang munafik?

1. Kesenangan-kesenangan duniawi/nafsu, sangat cinta kepada makhluk.
Maka amat sering kita bertanya tak habis kata, kok orang yang rajin shalat, umroh tiap tahun, rajin ngaji di sana-sini, tapi kok korupsi, punya selingkuhan, atau menyuap orang? Menurut Aa, itu karena ibadahnya masih di ujung lidahnya saja, baru sebatas rangkaian kata-kata, belum meresap ke hati dan perbuatannya.

2. Berusaha mencari karunia melalui jalan yang tidak diridhai-Nya.
Misalnya kita ingin menenangkan diri dengan mabuk-mabukan atau 'clubbing', ya tidak akan pernah ketemu ketenangan itu, karena dicari dengan cara yang salah.


Kenapa yang kita ketahui beda dengan apa yang kita lakukan? Kenapa kelakuan kita tidak serius? Kenapa ngga ngeh juga kalau pebuatan itu salah? Artinya antara teori dan praktek ada gap, kesenjangan, sehingga kita tidak maksimal! Selain itu, kita harus hati-hati bila kita sudah merasa nyaman dengan dunia, CINTA DUNIAWI, hingga terlalu enak dibuai dengan puja-puji makhluk dan terlampau takut dengan hinaan makhluk. Jadi, kata Aa, ilmunya saja tentang Allah, namun hatinya terpaut pada seseorang, dan itu berarti dia gagal mengaitkan cita-cita dan harapannya hanya kepada Allah. Sehingga seperti sia-sia saja, sehebat apapun ceramah, sebanyak apapun ibadah, tapi kesukaan hatinya terlampau condong pada nafsu duniawi...

Tip untuk memperbaiki ini semua adalah dengan menyelidiki hati kita soal kemunafikan ini, yaitu seberapa jauh kita memikirkan penghargaan manusia secara berlebihan. Intinya dengan MUJAHADAH, punahkan makhluk-makhluk yang tidak perlu hadir, kecuali makhluk yang jadi jalan untuk kian dekat dengan Allah SWT, dengan cara proporsional. Dan alangkah baiknya setiap shalat-shalat kita, senantiasa jadi momen untuk membongkar kekurangan-kekurangan kita...

Patrikan di dalam hati untuk taubat dari perbuatan maksiat yang pernah/sedang dilakukan, dan itu adalah sebesar-besar karunia-Nya. Niatkan untuk berbuat yang terbaik, dengan hati bersih, tak mengharap kecuali kepada-Nya, meski shalat kita mungkin tidak banyak, ilmu pun sedikit, tidak riya untuk urusan ibadah, insya Allah nilainya jauh lebih berbobot di mata Allah...

Duh Gusti...
memang sungguh
tak boleh ada setitik pun ujub di kalbu
karena ilmu yang berlimpah
karena ibadah tak kunjung lepas
mana sujud-sujud itu
ke mana larinya penghambaan itu
apakah hanya sebatas 5 menit kulalui
di kala shalat
dan kemudian
kembali kutegakkan maksiat?
istighfarku mungkin takkan pernah cukup
mengusir bulir-bulir dosa dan khilaf ini...

Tuesday, July 29, 2008

OUR CHILDREN ARE...

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.


Teringat Hari Anak Nasional, 23 Juli, banyak pikiran berkecamuk di kepala. Pada anak-anakku, di mana harapan dan segala asa kutitipkan selaku orang tua. Ah amanah, amanah yang maha besar, maka kiranya sanggupkah kami -- aku dan Abang -- sanggup mengemban tugas mulia itu dengan mulus, memenuhi hak-haknya sebagai anak, mengindarinya sejauh yang kami bisa dari apapun yang bisa menimbulkan cacat di jiwanya, mampu berkembang jadi pribadi yang diandalkan,baik oleh diri sendiri dan lingkungannya, istiqamah di jalan Allah SWT, serta punya azzam kuat untuk senantiasa berbuat kesalehan dan kebajikan?

Hanya waktu yang 'kan menjawabnya, mengiringi upaya maksimal kami...

Monday, July 28, 2008

HARI TANPA TV, ALHAMDULILLAH SUKSES!

Mungkin temen-temen pada tahu, tanggal 20 Juli hari Minggu kemaren, ramai dibicarakan gerakan "Hari Tanpa TV". Sebenernya pencanangan gerakan ini sudah sejak tahun 2006 lalu, so ini menginjak taon ketiga, cuma entah kenapa, bebauannya baru nyampe sini taon ini (halah, emangnye idup di pedalaman mane mpok??)

Nah, 2-3 hari sebelum hari H, aku sudah mulai ceritain ke anak-anak soal program ini. Sempet ketar-ketir juga sih, mengingat 'habit' (bukan hobbit lho,hehe...) mereka yang abis sepedaan mingguan, langsung jadi anak nongkrong nunggu Doraemon lewat. Ya udah, dirancang deh untuk acara keluar rumah alias outdoor sebagai alternatif. Kan katanya salah satu kiat kalau kita mau melarang atau menyetop sesuatu yang adiktif sifatnya (nagih gitu, ngerasain kan kalo udah di depan teve kayak ga bisa stop?) adalah dengan menyediakan secara 'well-prepared' aktivitas pengganti yang ngga kalah serunya. So, minggu itu kita ajak deh anak-anak ngintip Lego di PIM (catet ya, ngintip doang, en syukur niatnya cuma itu, udah syok duluan liat hargenye bo!) plus meninjau toko buku "MP Book Point" yang baru pertama kali dilongok.

Alhamdulillah rencana berjalan mulus. Pulang pit-pitan, anak-anak nyante aje baca buku en beres-beres, terus siap untuk 'window-shopping' Lego plus 'shopping' betulan di toko buku. Subhanallah, sesudah hujan emang pasti ada pelangi, sesudah syok dengan harga Lego yang angka enolnya berderet lumayan banyak (ratusan ribu gitu deh) akhirnya dahaga bisa terpuaskan di MP Book Point. Asyik tokonya dan penuh buku-buku bagus, 'tempting' lah pokoknya... Kalo ngga inget mah maen samber aja (biarpun bukan petir!). Alhasil setenteng plastik penuh dengan buku pilihan masing-masing, si sulung dapet novel "Narnia:Prince Caspian"-nya CS Lewis yang lama diidam-idamkannya, si bungsu dapet buku "Math Stories" sesuai dengan hobi matematikanya yang lama mengakar (cie, sok gayya/dalem bahasanya...), senasib lah dengan embok-bapake. Yo wis, bar shalat, jadilah acara buka buku masing-masing, dilanjutkan sore. Dan semua lancar ditutup dengan ngaji dan belajar en baca komik/majalah lama mereka.

Ternyata, banyak banget yang bisa kita lakukan tanpa tergantung sama si kotak ajaib ini. Hikmahnya, sebagai orang tua, kitalah motor penggerak untuk secara perlahan merenggut kembali keterpesonaan berlebihan anak-anak (dan mungkin juga kita sendiri) terhadap acara TV yang non edukatif. Belajar diet TV dan bersikap selektif serta hanya nongkrongin acara-acara yang mendidik dan nambah ilmu/wawasan kita, tentu dan harus bisa, kenapa ngga??

Wednesday, July 23, 2008

DENTING GITAR SANG MAESTRO

Alhamdulillah, hari ini aku berkesempatan menyaksikan secara langsung performa panggung sang musisi senior kita, Ebiet G. Ade. Live? Iyalah, kalo nonton di tipi mah udah sering. Mbayar muahal? Oho, gratis tis tis. Kok bisa? Itulah, Allah Maha Tahu. Hehe, kagak ada hubungannya deh, lebih karena rezekiku kali ya :)

Ceritanya, waktu suami pit-pitan ke UI Sabtu kemarin, dia lihat spanduk besar terbentang, tentang Festival Wajah Muslim Indonesia, di FIB-UI, dan kemarin aku cek jadwal acaranya via panitia. Bagus-bagus pengisi acaranya, ada Ridwan Saidi, Didin Hafidduddin, dan Azyumardi Azra, terus tari Saman, tarian dari Jambi, dan drama Dul Muluk dari Palembang yang kocak. Naah sehabis "Dul Sawah" ini, lanjut dengan aksi maestro kita.

Subhanallah, penampilan Ebiet tetap saja bersahaja seperti dulu, cuma pake baju safari coklat tua, berkacamata, dan bersepatu sederhana, tanpa jam tangan atau aksesoris lain, beliau semata memanjakan indera pendengaran ini. Berucap sekedarnya tentang lagu yang akan dinyanyikan, tanpa bombastis atau intonasi 'lebai' alias berlebihan, yang terasa kuat justru aura kepiawaiannya memetik senar-senar gitarnya. Tiap dentingnya begitu penuh penghayatan, teraba sekali semua dilakukan dari hati, dinyanyikan sepenuh jiwanya, hingga suasana sunyi senyap, meresapi lagu-lagu yang dibawakannya, dan baru tepukan bergemuruh di akhir melodi.

Alhamdulillah, senang sekali hari ini bisa menjumpai nuansa ritme keseharian yang berbeda dengan hari-hari lalu. Aku belajar banyak dari Ebiet, tentang totalitas pengabdiannya, tentang pelibatan hati dalam berkarya, tentang cara kita mengendalikan diri, ah, banyak hal ternyata bisa dipetik dari penampilannya yang singkat.

Insya Allah besok penuh acara hiburan, dari pencak silat dan nasyid serta tarian anak-anak, dan siangnya ada pak Amien Rais dan Hidayat Nur Wahid. Dateng yuk, yakin deh ngga kecewa :) Mumpung gratis dan banyak sisi yang bisa diambil pelajarannya buat nambah wawasan kita kan??

Tuesday, July 22, 2008

DIALAH TEMPAT SEJATI BERPALING...

ketika duka begitu mendera
ketika serpihan hati kian berserak
ketika amarah semarak meraja
karena nista dusta tak berujung
ke mana hati 'kan berpaling
begitu senyap suasana
terlalu suram aura
dan sesak di jiwa
hingga kurasa-kubertanya
inikah kiamat

ah aku khilaf kembali
tentang Dia sang Maha Segala
yang senantiasa setia
ketika makhluk-Nya tak setia
yang senantiasa jujur
saat makhluk-Nya penuh tipu-muslihat
yang senantiasa adil
sewaktu hamba-Nya sekedar berdalih tentang keadilan semu

Gusti Allah
patrikan selalu jiwa-raga ini
kepada keagungan-Mu
tautkan kalbu dhaif ini
menuju ridha-Mu
tolong jangan pernah
tinggalkan hamba yang hina ini
berasyik-masyuk dengan durjana nafsu duniawiku...
basah air mata
semoga jadi bukti
azzamku...

Depok, 22 Juli 2008

Friday, July 18, 2008

GENJOT LAGI YUUUUUUK...

Ah, libur sudah berakhir. Saatnya kembalikan semangat olahraga dan kerja yang sempat menguap, tersapu antusiasme untuk santai-santai en leyeh-leyeh, hehe... Kini tiba waktunya ambil sepeda, periksa ban, yap oke, pake helm si kuning non golkar (huss, bukan golongan partisan en non fans JK :p), gembok pagar dan garasi, dan mulailah adaptasi kembali saat mengayuh dengan sekuat iman dan taqwa (ups, sekuat tenaga deh, hehe...). Pancangkan tekad sekeras baja seutama berjumpa tanjakan terjal, uji nyali pisan euy, alhamdulillah lulus meski nafas tinggal satu-satu (duh istighfar atuh nya', emangnya mau pergi ke alam baka apa??), dan ah, genjot lagi yuuuk... entah untuk kejar setoran senam body-balance non ketok mejik atawa renang gaya katak.

So, horaaaaaaas! Yuk sama-sama olahraga, entah bersepeda, senam, renang, apapun itu, tujuannya lillahi ta'ala, biar sehat sentosa, tak lapuk dimakan usia, setuju??

Thursday, July 17, 2008

KLIEN OH KLIEN...

Alhamdulillah, baru buka praktek selama 1,5 bulan ini (potong liburan,hehe...) membuat pengalaman hidup kian kaya, dan insya Allah semoga makin bersyukur sekaligus merenung. Pengalaman baru lagi menangani problem klien yang sangat bervariasi (sudah nyaris lengkap, dari anak SD, SMP, SMA, hingga dewasa) ternyata memberi nuansa ritme rutinitas berbeda. Di awal praktek, terasa sekali 'kepanikanku', pegang tes ini -itu, terus baca buku "Assessment of children" yang lebih tebal dari bantal sampai lembur hingga jam 10 malam, sampai-sampai diledekin Abang,"oh, ternyata 200 rebu itu bukan cuma 2 jam doang ya say, tapi plus2 mengartikan tesnya?". Hehe, ya iyalah, yang error emang akunya juga, lupa kalo kerja rodinya ya di situ, bukan pas ketemu klien en dapet uangnya, tinggal kipas-kipas doang, itu mah gubrax deh...

Anyway busway, beragamnya masalah yang dihadapi klienku juga tanpa kusadari bisa jadi bahan renungan. Gimana ngga, ada klien dewasa yang bisa dibilang bermasalah seumur-umur sama orang tuanya sendiri, ada anak kelas 1 SD udah dicekokin terus sama aneka les trus ngambek sekolah padahal anaknya pinter banget, duh kasian banget ya. Hidup cuma sekali kok ya disia-sia untuk dendam atau maksa anak atas alasan gengsi, takut ketinggalan sama temen-temennya, en so on.

Yang lucu, waktu aku sama anak-anak naik mobil omprengan ke rumah ibu, mbak yang bawa mobil belakangan juga setengah konsultasi sama aku, cerita soal anaknya yang mau les balet di Namarina PI. Anaknya (usia TK B) yang semula semangat mau les, tiba-tiba mogok ngga mau les, terus emaknya menggerutu panjang-pendek. Aku cuma senyum-senyum aja sambil ngomong,"hm, sekarang mbak coba tanya deh sama diri sendiri dulu, yang mau les balet tuh mbak apa anaknya?" Hehe, si mbak langsung diem trus ketawa tersipu-sipu.
Efek dari konsul sambil lalu ini, aku nyaris dibebasin uang omprengannya lho (lumayan sih, 30 rebu getu ;D), tapi kan ngga niat untuk nyari gratisan, lagian kalo beneran diitung konsul mah aku bisa didemo temen seprofesi, soalnya terlalu murah, hehe... ngerusak harga pasar, kate orang... Ups, matre yah ;P

Wednesday, July 16, 2008

MONSTER SELEB

Jangan dikira cuma Cinta Laura atawa Afgan aja yang selebritis en dielu-elukan di pelosok negeri ini. Meski hanya untuk ukuran seleb lokal, lumayan lah daripada engga kan :) Naaah, ini aku lagi ngomongin seleb di Pura Uluwatu, Bali, yang kebetulan sempat kami jenguk waktu kunjungan singkat (eh seminggu tuh singkat ataw padet yah, hehe...) ke Bali lalu.

Singkat cerita, suami tercinta menskedul pertunjukan kecak di pura ngetop abiez ini hari Rebo sore, menjelang sunset gitu deh. Sambil nunggu waktu, aku belajar moto-moto sama Abang, obyeknya dari monyet penghuni asli pura yang bergradasi ukuran dan tingkat kenakalannya, nangkep keindahan buih putih ombak yang memecah pantai -- subhanallah, tak sanggup diungkap dengan untaian kata -- sampe akhirnya adu cepat cari momen yang pas waktu para penari kecak dan sendratari Ramayana mulai beraksi. Jelang jam 6 kurang dikit, buru-buru bayar tiket deh, yah agak jeblos kantong sih, 50 rebu/orang (tau ngga, itu tarif masuk lokasi termahal lho selama di Bali, biasanya paling banter 7500 perak. Tapi alhamdulillah, worthed lah ternyata dengan show-nya, en ketemu si seleb yang monster itu (cakep engga kok ya pede-pedenya jadi seleb sih?).

Awal show, anak-anak rada bingung dan kurang minat, kok ada obor bertingkat-tingkat di tengah lapangan yang disulut api setelah dikasih minyak tanah. Ini apaan, barangkali itu pikir mereka. Masuk ke awalnya pun, saat para penari kecak mulai ber-"cak cak" sembari angkat kedua tangannya juga ketika Rama-Sita menari bersama, belum kelihatan arah-tujuan show ini (emangnye negara ya, kudu perlu visi-misi segala??). Tapi ketika sang Hanoman datang membantu Rama membawakan cincin ke Sinta yang diculik Rahwana, dan kemudian saingan beratnya, duet maut monster raksasa plus sang majikan, pertunjukan mulai menarik. Bukan karena ketampanan Rama, Hanoman, atau malah monster ini, percaya deh, udah syerem duluan lihat gigi-geliginya yang mencuat sempurna dan matanya yang kemerahan, tapi lebih karena aksinya yang atraktif. Monster kan biasanya menakutkan (lah ini emang tetep nakutin sih), tapi dua monster ini malah dadah-dadahan ke penonton, en sempet-sempetnya foto-foto pasang senyum menyeringai dulu sebelum berantem sama Hanoman yang ngga kalah oke dengan loncatan-loncatan lincahnya. Sampe piss segala lho... Mungkin sebenarnya jauuuuh di lubuk hatinya dia ngebet banget jadi seleb semenjak brojol, tapi apa daya, di negeri Alengka sono, kagak aja talent-search idol-idolan, jadinya ya begono deh, dia agak-agak error gitu...

Akhir pertunjukan ditutup dengan tendangan maut sang Hanoman (emang bodinya oke banget untuk jadi kera putih, gede mantep untuk ukuran orang Bali yang biasanya std aja) ke arah tumpukan jerami yang dibakar ke arah sisi balkon dan pencopotan secara paksa topeng duet sang monster seleb dan sang selebpun tunggang-langgang. Aaaah, 1 jam show yang menggugah imajinasi dan minat, anak-anakpun tersenyum. Bahkan hingga esok harinya, sang seleb yang monster masih jadi bahan perbincangan super hot...

Tuesday, July 15, 2008

MENDIDIKNYA DENGAN SEPENUH CINTA (bag. 3)

Orang tua yang menginginkan anandanya berbakti kepada Allah SWT hendaklah berkaca dengan style Allah saat memerintahkan hamba-Nya untuk bertakwa maupun melaksanakan berbagai amal kebajikan. Dia tidak pernah membebani makhluk-Nya kecuali sebatas kemampuannya, dan itu berarti Allah memahami betul keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita sebagai ciptaan-Nya bukan?

Tidak membebani anak dengan tugas-tugas yang tidak sanggup ia lakukan adalah wujud sebait cinta kita selaku orang tua. Terkendalanya ia dalam melaksanakan tugasnya bisa disebabkan oleh banyak hal, entah karena ia belum siap akibat faktor usia, fisiknya, atau tingkat kemampuan yang kurang memadai. Kita perlu mendidiknya dengan bijak dan lemah-lembut serta hindari untuk terlalu menuntutnya untuk sanggup melaksanakan segala macam tugas saat itu juga. Perintah serba harus dan "serta-merta harus bisa" tidak akan pernah merangsang anak untuk kreatif dan antusias mengerjakan kebaikan, justru sebaliknya ia perlahan berubah laksana robot atau mesin yang kehilangan energi kreatif serta daya inovasinya. Menyedihkan tentu saja... Bila ini berlanjut, bisa terjadi pengebirian akal maupun jiwa, dan bukankah itu bermakna kita telah teramat zalim terhadap buah hati kita sendiri? Na'udzubillahi min zalik...

Jika seorang anak memperoleh tugas sesuai kesanggupannya, semangatnya akan berkembang, di samping itu perasaannya terhadap orang tua ikut berkembang ke arah positif, sehingga secara bertahap tumbuh dorongan untuk berbakti kepada orang tua. Dan inilah yang sepatutnya perlu senantiasa dijaga dan dipelihara oleh orang tua, yaitu ketakutan dan kecemasan putra-putrinya beroleh murka Allah lantaran tidak melaksanakan apa yang ditugaskan oleh orang tuanya.

Maka, selalulah sandarkan perintah dan larangan kita kepada sang buah hati dengan dasar cinta dan taqwa kita kepada-Nya, maka hati ini pun insya Allah senantiasa lembut...

Thursday, July 10, 2008

COBLOS NYANG BERKUMIS YAH...

Baca koran hari ini tentang hasil sementara Pilkada Bali, jadi ingat liburan minggu lalu. Alhamdulillah kami sekeluarga bisa berlibur ke sana (ngga ke tempat-tempat dugem sih, tapi durang/dunia terang benderang, hehe...), sempet juga merhatiin spanduk-spanduk cagub/cawagub dengan jargonnya yang lucu dan cukup kreatif.


Tadinya sempet kuatir, rada heiboh bin rusuh ngga ya musim kampanye di sana, bayangin model pulau Jawa begini? Ternyata setelah 2-3 hari kok sepi sunyi bin senyap aja, adem ayem kayak ngga ada hajatan spesial. Selidik-selidik tanya bapak penjaga museum Le Meyuer, ramenya cuma di kota Denpasar dan sekitarnya, kalo di pelosok mah serasa hari biasa aja. Emang sih baca koran Bali katanya pada sempet deg-degan soal surat suara yang belum nyampe plus isu kupon berhadiah yang setengah berbau money-politics, karena baru akan diundi kalau cagub itu menang pilkada, selebihnya mah nihil.

Kalau pasukan ceriaku ngeliatin baju 3 pasang calon itu kombinasi warna hitam dan putih (pasangan I hitam-hitam, yang kedua putih-putih, yang III putih-hitam), aku justru rada konsern sama diksi alias pilihan kata-kata yang dipakai. Naah, kalau pasangan kedua pake singkatan naman cagubnya untuk bikin slogan (CBS= Cerdas, Berbudaya, Sejahtera), pasangan ketiga pake slogan "menuju Bali Mandara" (maaf kalo keliru ya bli/mbok) en kata gosip via quick count teh sedang hot-hotnya memimpin penghitungan suara, pasangan pertama ini yang rada-rada niru gaya Fauzi Bowo waktu kampanye cuma beda tipiiiiiis banget, coblos kumisnya versus coblos yang berkumis (kebetulan cagub dan cawagub ini duet berkumis). Kata "Berkumis" di sini ternyata singkatan dari "Berjuang Kurangi Kemiskinan". Dasar jail, tiap lewat baliho gedhe-gedhe yang memuat semboyan sumringah begitu, akhirnya kuplesetin jadi "Berjuang Kurangi Kumiskinan"! eh anak-anakku yang protes,"Mama, itu kan salah?" Yah Nak, kalau plesetan tuh haram hukumnya dibenerin, jadi kagak seru, tul kan??

Horas! Eh salah ya, masak di Bali ada seruan horas sih? Waduh, lupa nanya ke si mboknya, kudu balik dulu ke sono dong, hehe... Maunya!

Tuesday, July 8, 2008

HARI ITU DI PEMAKAMAN...

(sumber: milis BDI-KPS)


Hari itu di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat yang kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman. Di antara begitu banyak orang, wanita cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan kerudung berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput kesedihan.

Pada saat penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, wanita itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian mencium bagian kening jenazah dan membisikkan kata-kata tak terdengar dengan perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan. Aku melihat keharuan di antara para pelayat menyaksikan adegan itu.

Wanita itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur. Setelah acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat duka cita kepada wanita tersebut yang menyambut ucapan itu dengan senyuman manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah pada saat yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

Kudekati wanita itu.
"Kak, yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di sisi-Nya,"
ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa penasaran menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu tidak kuungkapkan.

Beberapa hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah wanita itu. Kudapati ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering dilakukannya. Kusapa dia dengan wajar, "Assalaamu'alaikum, sedang sibuk kak?" tanyaku
"Wa'alaikusalam. .. Oh adik, ayo duduk dulu," jawabnya seraya membereskan perlengkapan tanaman.
"Saya mengganggu kak?" tanyaku lagi.
"Kenapa harus mengganggu dik, ini kakak sedang menyiapkan bunga untuk dzikir nanti malam," jawabnya.

Sesaat setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami. Dengan hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal di hatiku. "Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian abang?"tanyaku.

Dia menatapku dan berkata, "Kenapa adik bertanya seperti itu?"

Aku tidak segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, "Karena kakak justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat pemakaman dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang," ujarku.

Dia menatapku lagi dan menghela nafas panjang. "Apakah kesedihan selalu berwujud air mata?"

Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab.
Kemudian dia meneruskan kembali perkataanya. "Kami telah bersama sekian lama, sebagai seorang wanita aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai, tapi aku juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang suami. Dan keegoisanku sebagai seorang wanita harus hilang ketika berhadapan dengan tugasku sebagai seorang istri," katanya tenang.

"Maksud kakak?" aku tambah penasaran.

"Sebuah kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga berwujud senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang wanita tapi bahagia sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik, yang tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran. Dia selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya. Abang mengajarkan kakak banyak hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari bahkan dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak saling menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak di pakaian yang kakak gunakan. Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab, karena abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi kakak dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tahu bahwa ia menyayangi kakak. Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Wanita mana yang tidak sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi ..."

Dia menghentikan kata-katanya.

"Tapi apa kak?" kejarku.

"Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis," katanya tersenyum.

"Kenapa?" tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

"Sebagai seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat kakak sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga seorang suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi dia selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat hamba yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi."

Wanita itu melanjutkan, "pada satu malam setelah kami sholat malam berjamaah, abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang berkata pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih dahulu, masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi akan merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib menuruti kata-kata abang."

"Pemakaman bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari perjalanan, kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini kakak mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang yang kita cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang lah yang pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya, abang selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih dan abang selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih memanggil apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya. Dalam syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih melihat abang bahagia," sambungnya.

Tanpa memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus
mengalir dari wanita itu,"Kakak bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir kakak melihat abang, kakak ingin abang tahu bahwa baik abang di dunia maupun di akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang karena abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk kakak yaitu cinta pada Allah SWT. Dulu abang pernah mengatakan pada kakak jika kita tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih karena sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di akhirat nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah. Dan abang telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya dik
semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak sayang abang dan kakak ingin bertemu abang lagi."

Kali ini kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak mampu berkata-kata lagi.

Wednesday, July 2, 2008

THE TIME IS NOW...

by NN


If you are ever going to love me
Love me now while I can know
The sweet and tender feelings
Which from true affection flow

If you have tender thoughts of me
Please tell me now
If you wait until I am sleeping
Never will be death between us
And I won't hear you then

Love me now while I am living
Do not wait until I am gone
And then have it chiseled in marble
Sweet words on ice-cold stone

So if you love me, even a little bit
Let me know while I am living
So that I can treasure it